Dualisme Ditengah Tren Hadhromautisme (Observasi Lapangan Terhadap Majelis Gubah Al-Hadad Tanjung Priok)

Disusun Oleh:

Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam

Komunikasi Penyiaran Islam, Universitas Negeri Jakarta 2010

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG

Dalam masyarakat yang modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan rural community, dan urban community. Perbedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapapun kecilnya suatu desa pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Sebaliknya pada masyarakat bersahaja pengaruh dari kota relatif tidak ada. Pembedaan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan, pada hakikatnya bersifat gradual. Agak sulit memberikan batasan apa yang dimaksud dengan perkotaan, oleh karena itu adanya hubungan antara konsentrasi penduduk dengan gejala-gejala sosial yang dinamakan urbanisme.[1]

Diantara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan munculah kelompok-kelompok kecil (small group). Hal ini disebabkan karena manusia mungkin tidak mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama, manusia memerlukan perlindungan dari rekan-rekannya, manusia mempunyai kemampuan yang terbatas di dalam pergaulan hidup dan lain sebagainya. Keadaan yang demikianlah yang menyebabkan timbulnya small group. Kelompok kecil pada hakekatnya merupakan sel yang menggerakkan suatu organisme yang dinamakan masyarakat, dengan mempelajari sel-sel tersebut dapat diketahui sumber-sumber gerak masyarakat.[2]

Kelompok-kelompok kecil ini sangat membawa pengaruh besar terhadap masyarakat dan juga terhadap perilaku sehari-harinya individu. Kelompok kecil ini, dimana seorang individu menjadi anggotanya tidak saja menjadi sumber simpati, cinta dan perlindungan terhadap dirinya, akan tetapi bahkan dapat merupakan sumber ketegangan, tekanan maupun kekecewaan.

Salah satu contoh kelompok kecil yang kemudian menjadi kelompok besar dan sangat membawa pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat adalah kedudukan seorang habib atau ulama dalam lingkungan masyarakat yang dianggap sangat mempunyai kharismatik, yang pada akhirnya disalahgunakan oleh masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini kami mengambil makam “MBAH PRIUK” yang dijadikan makam keramat oleh warga sekitar. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kedudukan atau peran seorang Mbah Priuk dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia, khususnya pada masyarakat perkotaan seperti masyarakat Tanjung Priuk.

 

  1. B. RUMUSAN MASALAH
  • Seberapa besar pengaruh signifikansi (makna/arti) keberadaan makam Mbah Priuk bagi masyarakat sekitar?
  • Seberapa mendominasinyakah masyarakat terhadap keberadaan makam Mbah Priuk?
  • Legitimasi apa saja yang diberlakukan dimakam Mbah Priuk?
  • Seberapa besar peranan dakwah yang dilakukan oleh Mbah Priuk?

  1. C. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejarah perkembangan dakwah yang dilakukan oleh Mbah Priuk. Seberapa kuatkah pengaruh keberadaan Mbah Priuk yang berada ditengah-tengah masyarakat perkotaan yang pola hidup keagamaannya sangat kurang dibandingkan dengan kehidupan agama di Desa. Hal ini disebabkan oleh pola fikir masyarakat perkotaan yang bersifat mementingkan rasional atau akal, yang pada umumnya pusat kegiatan ibadah itu hanya berada di Mesjid, Gereja dan sebagainya. Bukan di tempat kuburan atau makam.

BAB II

KERANGKA TEORI

Terdapat beberapa teori tentang awal masa kedatangan bangsa Arab di Indonesia. Di antara masing-masing teori satu sama lain saling berbeda argumen. Teori tersebut berasal dari pendapat beberapa pakar, kali ini akan dibahas 2 contoh teori tersebut yaitu pendapat dari Dr. Snouck Hourgronje dan Dr. S. Q. Fatimi,. Kedua pendapat ini tentu terkait dengan penyebaran agama Islam yang telah berkembang di Arab ke Indonesia.

Menurut pendapat Dr. Snouck H, pimpinan agama Islam di Indonesia selama empat abad berada di tangan orang India dan baru setelah abad 17 pengaruh Arab mulai masuk ke Indonesia tanpa saingan dan pengaruh itu masuk ke Indonesia melalui dua jalan, Hadramaut dan Makkah. Artinya Islam di Indonesia masuk bukan langsung dari Arab tetapi melalui corong India[3].

Pendapat berikutnya yaitu dari Dr. S. Q. Fatimi, yang mengatakan bahwa Islam sudah terdapat di pulau Jawa sebelum abad 11. Ini dibuktikan dengan adanya peninggalan batu nisan berbahasa Arab yang terdapat pada makam seorang wanita bernama Fatimah binti Manshur yang wafat di Leran Jawa Timur, pada tahun 1082. Dari sini muncul persepsi selanjutnya yaitu mungkin sekali bahwa Fatimah binti Manshur tersebut adalah orang pribumi atau kelahiran Jawa, beribu bahkan bernenek orang Jawa. Sebab datangnya orang Arab ke Indonesia tak mungkin membawa istri karena resiko perjalan yang tidak kecil. Artinya Fatimah hanyalah generasi kesekian dari keturunan Arab di Indonesia, dan sebelumnya ada bangsa Arab yang lebih dulu hadir di tanah Jawa[4].

Mungkin masih ada beberapa teori lainnya, namun sesuatu yang dapat di ambil dari kedua teori ini adalah bahwa datangnya bangsa Arab ke Indonesia sudah cukup lama dan pengaruh agama yang dibawanya telah tertanam kuat serta dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Karakteristik kearaban sang pembawa ajaran pun turut menempel pada saat dakwah Islam berlangsung. Perhatikan gambar para sunan atau wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa, hampir semua berjenggot dan memakai sorban, bukan belangkon (hanya Sunan Kalijaga), atau kebaya.

Begitu juga dengan dakwah Islam yang disampaikan oleh para Habib dari Hadramaut,Yaman yang diperkirakan datang dalam jumlah besar pada tahun 1840.[5] Para habib ini dalam mendakwahkan Islam tetap menggunakan labelnya sebagai orang Indonesia namun keturunan Arab, bahkan lebih jauh lagi keturunan Ahlu Bait[6], yang bisa dikatakan lebih terjaga kesuciannya dibanding orang lain.

Secara sosiologis warga keturunan Hadramaut di Indonesia mewarisi stratifikasi yang rumit sebagaimana terdapat di tanah leluhur mereka. Secara garis besar stratifikasi sosial itu adalah : pertama golongan sayyid (permpuannya syarifah) yakni mereka yang konon merupakan keturunan nabi Muhammad. Kelompok sayyid ini kemudian dibagi menjadi dua, sayyid relijius yang berorientasi pada Islam, yang kemudian menggunakan gelar habib dan sayyid yang tidak secara khusus berorientasi pada Islam. Kedua adalah Qabail atau kalangan pemuka klan, suku atau kabilah, ketiga adalah kelompok ahli agama namun bukan berasal dari kalangan sayyid, dan yang keempat adalah muwalad atau golongan peranakan yang darahnya tidak lagi murni hadrami, tetapi sudah tercampur perkawinan dengan etnis lain.[7]

Pada tahun 1911 komunitas Arab di Batavia (sekarang Jakarta) mendirikan organisasi yang dimotori Jami’atu Khair yang dimotori oleh para sayyid. Organisasi ini juga mempunyai sekolah yang cukup modern. Bahkan seorang ulama besar dari Sudan bernama Syekh Ahmad Surkati ikut mengajar di sekolah ini. Namun kemudian Ahmad Surkati justru dikeluarkan karena memiliki persepsi yang berbeda komunitas Jami’at Khoir tersebut. Setelah dikeluarkan dari Jami’at Khoir, ia kemudian mendirikan sebuah institusi tersendiri yaitu Al-Irsyad. Adapun persepsi Syekh Ahmad Surkati ini merupakan adopsi atau pengembangan dari pemikiran Syekh Muhammad Abduh, tentang ajaran Islam yang memandang semua manusia itu setara dan tidak ada perbedaan diantaranya kecuali ketaqwaanya kepada Allah SWT. Maka para Syarifah boleh saja menikah dengan lelaki yang bukan dari kalangan Sayyid.[8]

Memang agak menggelitik ketika Islam berbicara tentang persamaan derajat manusia, ketika Muhammad SAW berjuang menumpas perbudakan, dan stratifikasi sosial, tetapi di sisi lain umat Islam saat ini justru bertingkah sebaliknya. Mengatasnamakan Islam demi kesinambungan adat budaya di negeri orang, membedakan golongan, dan menganggap dirinya manusia setengah dewa, lebih suci dari klan, suku atau bangsa lain. Dan sangat ironis ketika kesan itu muncul di tengah masyarakat, ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat tersebut, serta diikuti bahkan dipuja-puja.

Fenomena ini menunjukan adanya sebuah dualisme antara habib dan masyarakat sebagai jemaah atau pemujanya, dimana habib berperan sebagai struktur yang mengeluarkan berbagai diskursus demi eksistensinya, sementara itu masyarakat yang berperan sebagai aktor atau agen, seakan-akan berada dalam dominasi lingkaran diskursus tersebut.

Struktur dan Agen

Pada kesempatan kali ini kami mengangkat sesuatu yang diantitesakan oleh gagasan  Anthony Giddens yaitu dualisme struktur terhadap agen. Karena Bagi Anthony Giddens, analisis sosial semestinya menekankan pada aspek dualita struktur dan agen , bukan dualisme. Bahwa pelaku dan struktur berhubungan memanglah tak disangkal. Tapi bagaimana keduanya berkaitan dalam berbagai perilaku sosial, itulah yang harus dipersoalkan. Dan menurut Giddens struktur tidak bersifat kekangan (constraint), namun mengekang (constrainting)  dan memberdayakan (enabling).

Struktur sendiri secara etimologi berarti kerangka yang membentuk sebuah pola. Struktur ini kemudian disiratkan ke dalam produksi dan reproduksi sistem yang bersifat eksternal, sebagai sumber yang mengekang prakasa bebas subjek yang disusun secara mandiri.[9] Anthony Giddens berependapat bahwa struktur tidak hanya mengacu aturan-aturan yang disiratkan dalam produksi dan reproduksi sistem, tetapi juga pada sumberdaya-sumberdaya.[10] Agaknya struktur disini serupa dengan fakta sosial menurut konsepsi Emile Durkheim.

Ada tiga pokok yang biasanya terdapat dalam struktur sebagaimana dinyatakan dalam teori strukturasi Giddens. Pertama, struktur penandaan atau signifikasi (signification) yang menyangkut skemata simbolik, pemaknaan, penyebutan dan wacana atau diskursus. Kedua, struktur dominasi/penguasaan (domination) yang menyangkut penguasaan dalam konteks politik maupun ekonomi. Ketiga, struktur pembenaran atau legitimasi (legitimation) yang berkaitan dengan peraturan normatif dalam tata hukum.

Sementara itu yang dimaksud dengan agena pelaku atau individu yang menjalani sebuah sistem yang terpola dalam struktur. Sebagai agen tentu saja memiliki kesadaran dalam  tindakan. Namun ia tetap terkungkung dalam batasan-batasan yang dipolakan oleh struktur.

Fenomena yang terjadi dalam majelis-majelis habib dapat dianalisis dengan teori ini. Dimana jemaah sebagai agen yang terkungkung oleh struktur-struktur yang dibuat oleh para habib. Para habib ini memperlihatkan berbagai wacana-wacana maupun atribut-atribut yang mana kemudian dengan wacana dan atribut (signifikansi) itu para habib mendapat sebuah eksistensi dan dapat melakukan control terhadap jemaahnya (dominasi). Masyarakat atau jemaah sebagai agen diposisikan powerless, dan harus tunduk dengan berbagai wacana yang diperlihatkan para habib, serta mendukungnya (legitimasi).

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Karena penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data-data tentang pengaruh pengajian di makam Mbah Priok terhadap masyarakat khususnya masyarakat sekitar, maka pada penelitian kali ini kami menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan instrumen angket dan studi pustaka[11]:

Data yang akan dikumpulkan Metode pwngumpulan data Sumber data
Tentang kepatuhan mereka terhadap ajaran-ajaran Mbah Priok, seberapa sering mereka mengikuti kegiatan pengajian, pandangan mereka tentang para habib. Angket Para jama’ah makam Mbah Priok
Teori-teori Antony Gidden, tentang sejarah masuknya habaib ke Indonesia. Pustaka Buku-buku

 

Dalam metode pengumpulan data berupa angket kami memberi pilihan jawaban berupa sangat setuju, sedang, tidak. Hal ini kami lakukan untuk mempermudah penelitian dan juga untuk mempermudah kami dalam penghitungan hasil penelitian.

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah :

  1. Penelitian kepustakaan (library research)

Bertujuan untuk memperoleh landasan teori yang dapat membantu kami dalam mengerjakan tugas ini agar lebih terarah, landasan teori ini diperoleh dari beberapa literatur di antaranya dari : buku-buku sumber,  dan juga internet yang berhubungan dengan tugas kami.

  1. Penelitian lapangan (field research)

Field research (Penelitian Lapangan) ini dimaksudkan untuk mendapatkan data primer yang dilakukan dengan :

  1. Angket  merupakan suatu bentuk komunikasi untuk memperoleh informasi, yang dilakukan secara terstruktur. Dalam hal ini angket dilakukan kepada para jama’ah pengajian di makam Mbah Priok.

 

BAB IV

HASIL TEMUAN

  1. Sekilas Tentang Profile Mbah Priok

Dalam menjelaskan sejarah Mbah Priok kami tidak hanya mengambil dari hasil observasi lapangan namun, kami mencari data dari beberapa blog yang ternyata hasilnya terdapat perbedaan tentang sejarah hidup Mbah Priok terutama masalah kelahiran, keturunan dan kematian beliau.

Kelahiran,

Mbah Priok bukan orang asli Jakarta. Dia dilahirkan di Ulu, Palembang, Sumatera Selatan pada 1722 dengan nama Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A.3. Masyarakat mengenal Mbah Priok  sebagai Al-Arif Billah Sayyidina Al- Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad Husain Ass Syafi’i Sunnira. Cerita yang disampaikan secara turun-temurun, lelaki kelahiran Palembang, Sumatra Selatan, itu berlayar ke Pulau Jawa untuk menyebarkan ajaran Islam. Habib yang lahir pada 1727 itu mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas keagamaan lantaran terus dikejar tentara Belanda.[12] Namun, menurut salah jama’ah dari Habib Hasan Al Hadad bahwa Mbah Priok atau nama aslinya Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad lahir di Yaman dan menyebarkan agama Islam di Palembang. Pada saat Mbah Priok menyebarkan agama Islam di daerah Palembang mendapat kesulitan lantaran pengaruh Belanda yang masih kuat di Nusantara sehingga dia berlayar ke pulau Jawa yang akhirnya meninggal dalam perjalanan ke pulau Jawa.

Keturunan

Menurut sejarah, keluarga Al-Haddad masuk dalam lingkungan keluarga Nabi Muhammad, dari putrinya Fatimah. Keturunannya tidak langsung menyebar dari Yaman Selatan ke Indonesia Mereka menyebar turun temurun melalui India, Malaysia dan Vietnam dan berlanjut ke Indonesia[13]. Namun, menurut JJ Rizal seorang sejarahwan betawi menyatakan bahwa Habib Hasan Al-Haddad ternyata memang tidak ada dalam silsilah dan literatur para Habaib yang berkiprah mensyiarkan agama Islam di Batavia. Sebenarnya, leluhur Habib Hasanlah yang punya peran penting dalam syiar Islam di Jawa. Beliau bernama Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang sering disebut sebagai shahibur rotib yang meninggal pada tahun 1711.Dan Habib Hasan adalah generasi keenam dari Habib Abdullah Al-Hadad[14].

Kematian

Ada beberapa pendapat tentang sejarah kematian dan dimakamkanya Mbah Priok. Ada yang menyatakan bahwa Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad ditemukan warga dalam keadaan sudah meninggal. Sedangkan Muhammad Al Hadad masih hidup. Di samping keduanya, terdapat periuk dan sebuah dayung. Mbah Priok adalah nama lain dari Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad. Habib Hasan adalah penyebar Islam di Jakarta Utara pada abad ke-18. Ulama ini meninggal pada tahun 1756 karena kapalnya terkena badai di laut utara Jakarta[15]. Namun menurut sejarawan Betawi, JJ Rizal, Ternyata, habib yang makamnya dikeramatkan itu meninggal sekitar awal tahun 1900. Bukan tahun 1756 seperti yang beredar di masyarakat. Habib Hasan dimakamkan di Pondok Dayung. Dari situ, makam dipindahkan ke TPU Dobo. Pada tahun 1997, makam beliau dipindahkan ke Semper, Jakarta Utara [16].  Dan pernyataan ini diperkuat oleh Ketua MUI Ahmad Syafi’I Mufid yang menyatakan dalam acara Telisik di ANTV 10 Desember 2010 bahwa berita acara laporan  pemindahan kerangka jasad Mbah Priok telah dipindahkan ke TPU Semper pada September 1970 namun pada saat itu terjadi sebuah keganjalan bahwa 5 batu  nisan yang berada di TPU Semper hilang, nisan makan Mbah Priok berpindah kembali ke asalnya. Sehingga menjadi alasan bagi masyarakat tanjung priok untuk mempercayai keganjalan tersebut merupakan sebuah keajaiban tersendiri yang dimiliki oleh Mbah Priok.

 

  1. Keterkaitan Teori Anthonny Gidden dengan Pengaruh Mbah Priok Terhadap Jama’ahnya

Pada tanggal 25 November  tepat hari kamis saat jama’ah Habib Hasan Al-Hadad atau biasa disebut dengan Mbah Priok sedang mengadakan acara pengajian rutin bersama kami memulai observasi langsung ke tempat pengajian serta sebagian  dari kami masuk ke dalam ruang makam yang disana terdapat tiga makam yang dikeramatkan dengan ditutupi oleh jubah hijau, di depan pintu maka terdapat serentetan melati dengan dituliskan bahwa dilarang mengambil barang  disekitar  makam atau melati karena panitia makam tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu hal seolah-olah hal tersebut telah dikeramatkan (mistis) lalu di jendela samping ada Yasin untuk penjiarah. Dan penjiarah harus menggunakan peci  tanpa alas kaki ketika masuk ke dalam makam dan ada penjiarah duduk di pelataran makam walau gerimis pada saat itu, lalu penjiarah harus mundur  ketika keluar  makam  kemudian penjiarah tidak boleh keluar dari makam sampai acara selesai. Penjiarah dalam makam mayoritas orang tua dan ketika acara berlangsung ada penjiarah membawa air di botol dan banyak penjiarah ketika berdoa mengangkat tangan tinggi, lalu ketika pembacaan ratibul hadda ada dari pengurus  memintai infaq atau sadaqoh dengan menggunakan sorban  dan di setiap sudut makan ada pengurus berjaket hijau dangen tulisan “Gubah Al Haddad mengawasi penjiarah”, lalu peniarah banyak menghayati ratibul haddad, rawi, yasin, tahlil membacakan Al- Fatihah dan doa arwah untuk Mbah Priok. Sedangkan keadaan dipelataran makam hanya menggunakan terpal sebagai alas duduk,walau tidak boleh menggunakan sandal atau sepatu terpal tersebut kotor karena terinjak-injak oleh jamaahnya dan jamaah yang hadir dipelataran disedikan layar berukuran besar yang dipasang di sudut sebelah kiri pelataran makam yang disediakan oleh pihak panitia. Pada saat habib membacakan ratibul haddad aktifitas pelabuhan sementara dihentikan terlebih dahulu selama ratib di bacakan dengan tujuan penghormatan pihak pelabuhan terhadap aktifitas yang dilakukan habib dan jamaahnya. Ada beberapa pengurus makam yang menggunakan bambu menertibkan acara supaya lebih kondusif. Di pelataran makam jamaah dewasa dicampur dengan jamaah anak-anak sedangkan yang di dalam hanya ada jamaah orang dewasa. Di sisi kanan pelataran terdapat kios-kios yang menjual atribut habib seperti peci putih, parfum, baju koko, serta makanan ringan yang bisa dibeli langsung oleh para jamaah. Dibagian depan pelataran makam penjagaan sangat ketat oleh penjaga makam, namun disayangkan pada bagian pelataran tidak adanya pelindung hujan maupun panas untuk para jamaah. Selain itu tidak adanya penghalang antara laki-laki dan dan perempuan.

Untuk melengkapi penelitian ini kami juga telah membuat sebuah angket sederhana untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ajaran Mbah Priok terhadap jama’ahnya. Ada 10 pertanyaan dan 10 angket yang telah kami sebarkan sebagai samplenya. Bentuk pertanyaan angketnya yaitu:

 

  1. Apakah anda sering berziarah ke makam Mbah Priok ?

A. ya B. tidak terlalu C. tidak

  1. Apakah anda mengetahui sejarah Mbah Priok ?

A. ya                                       B. tidak terlalu                                    C. tidak

  1. Menurut anda apakah sosok Mbah Priok berperan penting dalam dakwah islam di daerah ini ?

A. ya B. tidak terlalu                        C. tidak

  1. Apakah anda sering mendoakan atau mengirimkan Fatihah untuk Mbah PRIOK ?

A. ya                                       B. tidak terlalu                                    C. tidak

  1. Apkah anda setuju terhadap persepsi tentang sosok habib sebagai seorang keturunan Nabi Muhammad SAW ?

A. ya                                       B. tidak terlalu                                    C. tidak

  1. Apakah anda termasuk  orang yang sangat memuliakan sosok habib yang begitu kharismatik ?

A. ya B. tidak terlalu                                    C. tidak

  1. Apakah anda sering mengikuti pengajian ini ?

A. ya B. tidak terlalu                                    C. tidak

  1. Menurut anda apakah mengikuti pengajian ini menjadi suatu kewajiban?

A. ya                                       B. tidak terlalu                                    C. tidak

  1. Apakah anda hafal bacaan ratib atau tahlil?

A. ya B. tidak terlalu C. tidak

  1. Apakah pengajian ini member dampak positif pada kehidupan anda?

A. ya B. tidak terlalu C. tidak

Hasil Angket

NO PERTANYAAN JAWABAN A JAWABAN B JAWABAN C
1 Pertama 8 orang 2 orang x
2 Kedua 5 orang 5 orang x
3 Ketiga 10 orang x x
4 Keempat 10 orang x x
5 Kelima 9 orang 1 orang x
6 Keenam 9 orang 1 orang x
7 Ketujuh 7 orang 3 orang x
8 Kedelapan 4 orang 6 orang x
9 Kesembilan 1 orang 6 orang 3 orang
10 Kesepuluh 9 orang 1 orang x

 

Analisis Hasil Angket:

Dari observasi serta angket yang telah kami lakukan terbukti bahwa pengaruh atau dominasi dari ajaran Mbah Priok sangatlah kental dikalangan masyarakat tanjung priok, hal ini terbukti dengan adanya signifikansi atau wacana-wacana yang dipercayai bahwa Mbah Priok mampu memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat. Padahal, menurut ketua MUI Ahmad Syafi’i Mufid pengkultusan atau ajaran-ajaran seperti air yang telah di doakan di makan Mbah Priok sama seperti air  Zamzam, makam Mbah Priok lebih mulia dari mesjid diseluruh dunia dan melakuakn jalan mundur ketika ingin keluar dari makam merupakan sesuatu hal yang berlebihan dan mendekatkan diri kepada kemusyikan.(Telisik Antv 10/12.2010_23.00).

Sedangkan jika kita teliti lebih lanjut mengenai  jawaban angket tentang pertanyaan kedelapan dan kesembilan kewajiban mengikuti pengajian dan hafalan bacaan ratib dan tahlilil, enam dari sepuluh responden menjawab tidak tahu. Hal ini menunjukan bentuk refleksifitas para pengikut jam’aah Mbah Priok terhadap legitimasi yang telah ditanamkan sejak dulu. Serta pertanyaan keenam dan kesepuluh satu dari sepuluh orang menjawab bahwa ia tidak terlalu memuliakan Mbah Priok dan ia merasa dengan mengikuti pengajian ini tidak mendapat dampak positif untuk kehidupan merupakan bentuk refleksifitas(respon terhadap nilai yang ada) dirinya.

Demikianlah hasil penelitian yang telah kami lakukan, semoga dengan penelitian ini menambah keilmuan kita terhadap pengaruh Habaib di Indonesia dan kita pun mampu menentukan sikap dalam menghormati habib-habib yang ada.

REFERENSI

Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers. Jakarta;1990.

 

Sanafiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta; 2005.

 

Mr Hamid al gadri , Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda,

 

Seribu Wajah Jakarta, Jakarta:Bapeda, 2003

 

Anthony Giddens, The Constitution of Society, terj. Adi Loka S, UK: Polity Press Cambridge,    1984.


[1] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, cetakan keempat, Rajawali Pers, 1990, hal. 166

[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, cetakan keempat, Rajawali Pers, 1990, hal. 177

[3]Mr Hamid al gadri , Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda,  hal 47

[4]Mr Hamid al gadri,  Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda,  hal 49

[5] Seribu Wajah Jakarta, Jakarta:Bapeda, 2003  hal.46

[6] Keturunan keluarga nabi Muhammad

[7] Seribu Wajah Jakarta, Jakarta: Bapeda, 2003, hal. 45

[8] Seribu Wajah Jakarta,  Jakarta: Bapeda, 2003  hal. 45

[9] Anthony Giddens, The Constitution of Society, terj. Adi Loka S, UK: Polity Press Cambridge, 1984   hal. 20

[10]Anthony Giddens, The Constitution of Society, terj. Adi Loka S, UK: Polity Press Cambridge, 1984   hal. 29

 

[11] Sanafiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta hal 55.

2 Komentar (+add yours?)

  1. Sidhy Muhammad Ferrash
    Jun 18, 2011 @ 08:18:21

    bukan taqlik buta. Islam mengajarkan kesetaraaan kenapa sekarang di balik, adakah motif di balik pengkultusan?

    Balas

    • naifu
      Jun 26, 2011 @ 11:56:34

      kesetaraan dalam islam hanya bersifat sosiologis semata tidak sampai ranah aqidah…, pengkultusan harus dibedakan dengan penghormatan, bangsa indonesia boleh menghormati bendera merah putih namun tidak boleh sampai dikultuskan sampai disembah atau menyakini bahwa kebaikan atas sesuatu benda/seseorang akan membantu manusia lebih dekat kepada sang khalik.
      islam tidak mengajarkan perantara dalam berdoa, shalawat pun hanya kepada nabi muhammad, bukan dengan perantara manusia sholeh yang lainnya karena hanya nabi muhammad yang sudah jelas di nilai oleh Allah sebagai manusia yg sholeh, selain beliau apakah ada seseorang yg telah mendapat predikat setara denga nabi muhammad? wali kah? habib kah?atau alim ulama?
      mereka hanya mendapat penilaian dari jamaahnya, bukan langsung dari Allah

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: