KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Oleh: Ahmad Ridwan

Persentasi tugas akhir mata kuliah Tafsir Maudui, JIAI, FIS UNJ

Jakarta, 30 Desember 2009

PENDAHULUAN

Komunikasi merupakan salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan. Kesuksesan dan kegagalan seseorang dalam hidupnya dapat terpengaruhi oleh efek komunikasinya terhadap orang lain, dengan komunikasi kepercayaan seseorang terhadap orang lain dapat tumbuh sehingga untuk mempengaruhi seseorangpun mudah dilakukan.

Jika kita buka lembar sejarah peradaban, tokoh-tokoh filsafat barat dapat memaparkan berbagai teori penemuanya dengan cara beretorika dengan baik dan efektif. Begitupula dengan para nabi kepada umatnya dalam menyebarkan kepercayaanya terhadap suatu keyakinan bertuhan. Ketika masa nabi Musa dihadapkan oleh pembesar negeri di masa kaumnya yang pandai beretorika seolah sihir yang dapat dipercaya oleh semua manusia, maka Allah memberikan kelebihan terhadap Musa dengan konsep atau ajaran dan kemampuan beretorika yang jauh lebih baik sehingga dapat mengalahkan mereka.

Begitu pula dengan dakwah nabi Muhammad, nabi Muhammad dilahirkan dengan keadaan bangsa arab yang gemar akan syair serta satra sehingga cara penyampaiaan ajarannyapun disesuaikan dengan keadaan. Penyesuaiaan cara penyampaian dan teori dalam komunikasi terhadap komunikan menjadi salah satu faktor terciptanya komunikasi yang efektif.

Berpijak dari pernyataan diatas penulis dengan makalah ini ingin menjelaskan tentang komunikasi efektif dalam perspektif al-Qur’an . Sebelum penyususan tulisan ini penulis telah mendapatkan beberapa referensi makalah yang serupa yang membahas tentang hal ini seperti “Model Komunikasi Dalam Alqur’an oleh Rauf. Namun dalam makalah tersebut sangatlah padat dan ringkas sehingga penulis mengmandang penting tulisan ini untuk melengkapi dan menjelaskan secara rinci tentang komunikasi efektif dalam perspektif Al-Qur’an dengan tujuan supaya pembaca dapat mengetahui seperti apakah model komunikasi efektif dalam Al-Qur’an dan apakah model komunikasi yang dipakai oleh nabi sesuai dengan teori komunikasi efektif dikalangan ilmuan barat?.

PEMBAHASAN

Kata komunikasi dalam bahasa arab adalah “Muwaasholat.”1 sedangkan efektif berarti perkataan yang singkat, jelas, lengkap dan dapat menyampaikan informasi dengan tepat.2 banyak pengertian tentang definisi komunikasi efektif, namun secara garis besar komunikasi efektif berarti menyampaikan sesuatu dengan cara yang tepat dan jelas sehingga informasi yang kita sampaikan dapat dengan mudah dimengerti oleh orang lain.

Dalam ilmu komunikasi dikenal sangat banyak model yang dikemukakan para ilmuan komunikasi. Tapi dalam penulisan ini,pemakalah hanya akan mengambil model yang dikemukakan Lasswel, model tersebut diharapkan mampu mewakili teori yang lain. Model yang dikemukakan para ahli tidak jauh beda antara satu dengan yang lain.

Salah satu model komunikasi yang tua tetapi masih digunakan orang untuk tujuan tertentu adalah model komunikasi yang dikemukakan oleh Harold Lasswell (Forsdale 1981), seorang ahli ilmu politik dari Yale University. Dia menggunakan lima pertanyaan yang perlu di tanyakan dan di jawab dalam melihat proses komunikasi, yaitu who (siapa), says what (mengatakan apa), in which medium atau dalam media apa , to whom atau kepada siapa, dan dengan what effect atau apa efeknya.

Bila dilihat lebih lanjut maksud dari model Lasswell ini akan kelihatan bahwa yang dimaksud dengan pertanyaan who tersebut adalah menunjuk kepada siapa orang yang mengambil inisiatif untuk memulai komunikasi. Yang memulai komunikasi ini dapat berupa seseorang dan dapat juga sekelompok orang seperti organisasi satu persatuan. Pertanyaan kedua adalah says what atau apa yang dikatakan. Pertanyaan ini adalah berhubungan dengan isi komunikasi atau apa pesan yang disampaikan dalam komunikasi tersebut. Pertanyaan ketiga adalah to whom. Pertanyaan ini maksudnya menanyakan siapa yang menjadi audience atau penerima dari komunikasi.

Pertanyaan keempat adalah through what atau melalui media apa. Yang dimaksudkan dengan media adalah alat komunikasi, seperti berbicara, gerakan badan, kontak mata, sentuhan, radio, televisi, surat, buku, dan gambar. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah tidak semua media cocok untuk maksud tertentu. Pertanyaan terakhir dari model Lasswell ini adalah what effect atau apa efeknya dari komunikasi tersebut. Pertanyaan mengenai efek komunikasi ini dapat menanyakan 2 hal yaitu apa yang ingin dicapai dengan hasil komunikasi tersebut dan kedua, apa yang dilakukan orang sebagai hasildari komunikasi. Akan tetapi perlu diingat, bahwa kadang-kadang tingkah laku seseorang tidak hanya disebabkan oleh faktor hasil komunikasi tetapi juga dipengaruhi faktor lain.

Lalu bagaimana metode Al-Qur’an dalam menyampaikan komunikasi yang efektif?. Berikut ini Al-Quran memberikan enam prinsip atau model dalam berkomunikasi dengan orang lain, yaitu:

1. Qaulan Sadida (QS. An-Nisa ayat 9, Al-Ahzab ayat 70)

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (QS. An-Nisa: 9)

Perkataan Qaulan Sadida diungkapkan Al-Quran dalam konteks pembicaraan mengenai wasiat. Menurut beberapa ahli tafsir seperti Hamka, At-Thabari, Al- Baghawi, Al-Maraghi dan Al-Buruswi bahwa Qaulan Sadida dari segi konteks ayat mengandung makna kekuatiran dan kecemasan seorang pemberi wasiat terhadap anak-anaknya yang digambarkan dalam bentuk ucapan-ucapan yang lemah lembut (halus), jelas, jujur, tepat, baik, dan adil. Lemah lembut artinya cara penyampaian menggambarkan kasih sayang yang diungkapkan dengan kata-kata yang lemah lembut. Jelas mengandung arti terang sehingga ucapan itu tak ada penapsiran lain. Jujur artinya transparan, apa adanya, tak ada yang disembunyikan.

Tepat artinya kena sasaran, sesuai yang ingin dicapai, dan sesuai pula dengan situasi dan kondisi. Baik sesuai dengan nilai-nilai, naik nilai moral-masyarakat maupun ilahiyah. Sedangkan adil mengandung arti isi pembicaraan sesuai dengan kemestiannya, tidak berat sebelah atau memihak.

2. Qaulan Ma’rufa(QS An-Nisa ayat 5dan8, QS Al-Baqarah ayat 235, QS Al-Anfal ayat 32)

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum Sempurna akalnya[268], harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan Pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”. (QS. Annisaa: 5)

Secara bahasa arti ma’rufa adalah baik dan diterima oleh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat (Shihab, 1998:125). Ucapan yang baik adalah ucapan yang diterima sebagai sesuatu yang baik dalam pandangan masyarakat lingkungan penutur.

Dengan kata lain menurut beberapa ahli baik ahli tafsir seperti Hamka dan Al-Buruswi maupun pendapat ahli lainnya bahwa qaulan ma’rufa mengandung arti perkataan yang baik, yaitu perkataan yang sopan, halus, indah, benar, penuh penghargaan, dan menyenangkan, serta sesuai dengan kaidah dan hukum dan logika.
3. Qaulan Baligha (QS An-Nisa ayat 63)

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (QS. Annisaa: 63)

Qaulan Baligha diartikan sebagai pembicaraan yang fasih atau tepat, jelas maknanya, terang, serta tepat mengungkapkan apa yang dikehendakinya atau juga dapat diartikan sebagai ucapan yang benar dari segi kata. Dan apabila dilihat dari segi sasaran atau ranah yang disentuhnya dapat diartikan sebagai ucapan yang efektif.
4. Qaulan Maysura (QS Al-Isra ayat 28)

“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas”. (QS. Al-Isra: 28)

Dalam Terjemahan Departemen Agama, ditafsirkan apabila kamu tidak dapat melaksanakan perintah Allah seperti yang tersebut dalam ayat 26, Maka Katakanlah kepada mereka perkataan yang baik agar mereka tidak kecewa lantaran mereka belum mendapat bantuan dari kamu. dalam pada itu kamu berusaha untuk mendapat rezki (rahmat) dari Tuhanmu, sehingga kamu dapat memberikan kepada mereka hak-hak mereka.

Menurut bahasa qaulan maysura artinya perkataan yang mudah. Adapun para ahli tafsir seperti At-Thabari dan Hamka mengartikan bahwa qaulan maysura sebagai ucapan yang membuat orang lain merasa mudah, bernada lunak, indah, menyenangkan, halus, lemah lembut dan bagus, serta memberikan rasa optimis bagi orang yang diajak bicara. Mudah artinya bahasanya komunikatif sehingga dapat dimengerti dan berisi kata-kata yang mendorong orang lain untuk tetap mempunyai harapan. Ucapan yang lunak adalah ucapan yang menggunakan ungkapan dan diucapkan dengan pantas atau layak. Sedangkan yang lemah lembut adalah ucapan yang baik dan halus sehingga tidak membuat orang lain kecewa tau tersinggung.
5. Qaulan Layyina (QS Thaha ayat 20)

“Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, Maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”. (QS Thaha ayat 20)

Qaulan layyina dari segi bahasa berarti perkataan yang lemah lembut. Secara lebih jelas bahwa qaulan layyina adalah ucapan baik yang dilakukan dengan lemah lembut sehingga dapat menyentuh hati yang diajak bicara. Ucapan yang lemah lembut dimulai dari dorongan dan suasana hati orang yang berbicara. Apabila berbicara dengan hati yang tulus dan memandang orang yang diajak bicara sebagai saudara yang dicintai, maka akan lahir ucapan yang bernada lemah lembut.

Dengan kelemahlembutan itu maka akan terjadi sebuah komunikasi yang akan berdampak pada tercerapnya isi ucapan oleh orang yang diajak bicara sehingga akan terjadi tak hanya sampainya informasi tetapi jua akan berubahnya pandangan, sikap dan prilaku orang yang diajak bicara.


6. Qaulan Karima (QS Al-Isra ayat 23)

Dari segi bahasa qaulan karima berarti perkatan mulia. Perkataan yang mulia adalah perkataan yang memberi penghargaan dan penghormatan kepada orang yang diajak bicara.

“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. Al-Isra: 23)

Dalam hal ini bisa juga diartikan mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

Dari sekian pengertian di atas, maka ciri bahasa santun menurut enam prinsip adalah ucapan yang memiliki nilai: 1) kebenaran, 2) kejujuran, 3) keadilan, 4) kebaikan, 5) lurus, 6) halus, 7) sopan, 8) pantas, 9) penghargaan, 10) khidmat, 11) optimis, 12) indah, 13) menyenangkan, 14) logis, 15) fasih, 16) terang, 17) tepat, 18) menyentuh hati, 19) selaras, 20) mengesankan, 21) tenang, 22) efektif, 23) lunak, 24) dermawan, 25) lemah lembut, 26) rendah hati.
Lebih lanjut apabila kita tinjau dari segi derajatnya, maka akan kita urutkan menjadi karima atau mulia, ma’rufa atau baik, layyina atau lemah lembut, baligha atau tepat, maysura atau mudah, dan sadida atau benar

.

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas. Maka pemakalah dapat menarik kesimpulan, yakni:

a.  Model komunikasi dalam  pandangan  ilmuan barat tersebut lebih pada komponen yang terlibat    dalam berkomunikasi. Mereka melihat proses komunikasi akan efektif jika kurang gangguan. Keduanya tidak melihat dari segi etikanya.

b. Model komunikasi dalam pandangan Alqur’an lebih menekankan pada aspek etika dan tata cara berkomunikasi yang baik. Sehingga tidak menimbulkan dampak negatif (missunderstanding) saat berinteraksi dengan orang lain.

c. Dari segi persamaannya, baik Alqur’an dan ilmuan memandang komunikasi adalah faktor yang sangat urgen dalam pencapaian tujuan. Cara dan model yang digunakan dalam berkomunikasi sangat dianjurkan untuk diperhatikan.

REFERENSI

Al-Qur’an dan terjemahanya Depag RI, PT kumodasmono Grafindo Semarang, tahun 1994.

Asad M. Alkalali, ”Kamus Indonesia Arab”, PT Bulan Bintang, Jakarta 1997, hlm276.

Harun Yahya, “Nilai-Nilai Moral Al-Qur’an”, Senayan Abadi Publishing, Jakarta, tahun 2003.

Rauf. 2009. “Model Komunikasi dalam Alqur’an” (http://www.ummurasyidan.multiply.com diakses 25 Desember 2009).

Widjono Hs, “ BAhasa Indonesia”, PT.Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta 2007, hlm 160.

4 Komentar (+add yours?)

  1. pengemis Iman
    Apr 26, 2011 @ 16:17:39

    salam mohon shre syukron,,

    Balas

  2. sippirily
    Des 18, 2011 @ 04:49:25

    terima kasih … 🙂
    sedikit membantu tugas tafsir saya , hehee

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: