UJIAN HIDUP DALAM PERSPEKTIF ALQURAN

UJIAN HIDUP DALAM PERSPEKTIF ALQURAN

Oleh: Hafiza Ulfa

Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta


PENDAHULUAN

Dalam makalah ini, penulis akan mencoba mengkaji Ujian Hidup, secara menyeluruh, yang dimulai dari makna Ujian Hidup itu sendiri,  ayat-ayat alquran yang berhubungan dengan Ujian Hidup, hingga implikasi yang akn ditimbulkan dari Hidup dan mati sebagai ujian, Kaya miskin sebagai ujian, Kekayaan alam/ bumi sebagai ujian.

Saya mengkaji tentang Ujian Hidup ini, karena manusia dalam hidupnya tak lepas dari cobaan-cobaan/ ujian hidup dari Allah, karena banyak yang terjadi di masyarakat, mereka menyikapinya dengan kesombongan jika mereka memiliki harta/ kesenangan, dengan kesedihan dan tangisan jika saudara mereka meninggal dunia dan pesimis/ stress jika mereka diberi kemiskinan/ disempitkan rezekinya. Dan mereka menyikapinya dengan menyia-nyiakan/ tidak memanfaatkan dengan sebaik-baiknya apa yang telah Allah ciptakan di muka bumi ini.

Padahal manusia oleh Allah Swt terlahir dengan fisik yang sebaik-baiknya. Dan juga diberikan akal, untuk berfikir, berfikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah, berfikir hikmah yang terjadi pada diri manusia itu sendiri maupun kepada orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN UJIAN HIDUP

Kata Ujian dalam bahasa arab, Balaa’an (                ): yang artinya ujian, yang berasal dari kata Balaa (             ): yang artinya menguji. [1]Menurut istilah Ujian Hidup dapat diartikan yaitu cobaan-cobaan yang diberikan oleh Allah Swt yang terjadi dalam kehidupan manusia untuk menguji/ mengetahui kualitas manusia itu sendiri.

2. AYAT-AYAT ALQURAN TENTANG UJIAN HIDUP

Ayat-ayat Alquran tentang Ujian Hidup (      ) dari kata                                (                ) diantaranya ialah:

Ayat Makiyah

Ayat Madaniyah

QS. Al Mulk : 2

QS. Al Fajr : 15, 16, 20

QS. Al Kahfi : 7

QS. Ali Imran :186

QS. Al Baqarah :155

QS. Al Ahzab :11-13

Dari ayat-ayat Alquran diatas, penulis hanya mengkaji beberapa ayat saja, diantaranya (QS. Al Mulk :2), (QS.Al Fajr : 15,16,20 ), (QS. Al Kahfi : 7).

3. MACAM-MACAM UJIAN HIDUP

· Hidup dan mati sebagai Ujian

QS. Al Mulk :2 dan penjelasannya

“Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4qu‹ptø:$#ur öNä.uqè=ö7u‹Ï9 ö/ä3•ƒr& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur Ⓝ͕yèø9$# â‘qàÿtóø9$# ÇËÈ

Artinya :

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Dalam tafsir Fi Zhilalil Quran, ayat ini dijelaskan bahwa kematian ini mencakup kematian yang mendahului kehidupan dan kematian sesudah kehidupan. Semuanya adalah ciptaan Allah, sebagaimana ditetapkan ayat ini, yang melahirkan hakikat ini di dalam pandangan manusia. Disamping itu, ia menimbulkan kesadaran terhadap maksud dan ujian yang ada dibaliknya. Semua itu adalah ujian untuk menampakan apa yang tersembunyi dalam ilmu Allah mengenai prilaku manusia di muka bumi dan keberkahan mereka terhadap balasan amal mereka.[2]

Penetapan hakikat ini di dalam hati menjadikan hati ini senantiasa sadar, hati-hati, memperhatikan, dan merenungkan segala sesuatu yang kecil dan yang besar, di dalam niat yang tersembunyi dan didalam perbuatan nyata. Juga tidak membiarkan hati lalai dan lengah, tidak pula santai dan bersenang-senang belaka. Apabila hati telah menyadari dan merasa bahwa semua ini sebagai ujian dan cobaan, lantas dia berhati-hati dn menjaga diri, maka ia merasa tenang untuk mendapatkan pengampunan Allah dan rahmat-Nya, merasa mantap dan senang dengan rahmat Allah itu.

· Kaya miskin sebagai Ujian

QS. Al Fajr : 15 dan penjelasannya

$¨Brsù ß`»|¡RM}$# #sŒÎ) $tB çm9n=tGö/$# ¼çmš/u‘ ¼çmtBtø.rsù ¼çmyJ¨ètRur ãAqà)uŠsù ú†În1u‘ Ç`tBtø.r& ÇÊÎÈ

Artinya :“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu di  muliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata “Tuhanku telah memuliakanku”.

Dalam tafsir Al Maraghi, ayat ini dijelaskan bahwa jika Allah memberi karunia kenikmatan dan kelapangan rezeki, ia menyangka bahwa karunia ini merupakan penghormatan Allah baginya, ia menduga Allah telah memilih dirinya dan mengangkat derajatnya lebih tinggi dari yang lain dan bahwa ia dijauhkan dari siksaanNya dan timbul anggapan dalam hatinya bahwa Allah sama sekali tidak menghukumnya, sekalipun ia berbuat sekehendak hatinya.

QS. Al Fajr :16, 20 dan penjelasannya

!$¨Br&ur #sŒÎ) $tB çm9n=tGö/$# u‘y‰s)sù Ïmø‹n=tã ¼çms%ø—Í‘ ãAqà)uŠsù þ’În1u‘ Ç`oY»ydr& ÇÊÏÈ

Artinya : “adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka ia berkata, “Tuhanku menghinakanku”.

Dalam Tafsir Al Maraghi, ayat ini dijelaskan bahwa jika seseorang disempitkan rezekinya dan merasa rezekinya tidak kunjung datang, ia beranggapan bahwa hal ini merupakan penghinaan Allah baginya. Manusia yang berfikir seperti ini telah melakukan hal yang fatal. Sebab pemberian nikmat terhadap seseorang di dunia pada hakekatnya tidak menunjukan bahwa ia berhak sepenuhnya atas hal itu.[3]

Mereka yang dibatasi / dikurangi rezekinya, maka hal itu merupakan pembersih bagi dirinya dan ujian bagi kesabarannya. Sebab Allah akan memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang sabar dan menjanjikannya akan memperoleh surga.

cq™7ÏtéBur tA$yJø9$# ${7ãm $tJy_ ÇËÉÈ

Artinya :

“ dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”.

Dalam Tafsir Al Maraghi, ayat ini dijelaskan bahwa kecenderungan manusia dalam mengumpulkan harta benda semakin berlebihan saja. Bahkan tanpa memperdulikan lagi apakah ia berupa harta warisan atau lainnya. Sesungguhnya manusia cenderung mengumpulkan harta benda mengikuti kemauan hawa nafsu. Dilapangkan rezeki terhadap seseorang adalah bahwa harta yang melimpah merupakan pendorong baginya untuk melakukan berbagai perbuatan dosa dan pemenuhan nafsu syahwat belaka. Dan harta tersebut akan memutuskan hubungannya dengan Allah (melupakanNya).

· Kekayaan alam/ bumi sebagai Ujian

QS. Al Kahfi : 7 dan penjelasannya

$¯RÎ) $oYù=yèy_ $tB ’n?tã ÇÚö‘F{$# ZpoYƒÎ— $ol°; óOèduqè=ö7oYÏ9 öNåkš‰r& ß`|¡ômr& WxyJtã ÇÐÈ

Artinya :“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan untuknya, agar Kami menguji mereka, siapakah di anatar mereka yang terbaik perbuatannya”.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini dijelaskan bahwa Allah menjadikan dunia ini kampung yang fana yang dihiasi dengan perhiasan yang fana pula akhirnya. Dan dunia berikut kegerlapannya ini hanya dijadikan oleh Allah sebagai kampong ujian, bukan kampung menetap. Allah memberitahukan bahwa dunia ini pasti lenyap dan fana, masanya pasti habis dan lenyap serta hancur. Sesudah menghiasinya Allah benar-benar akan menjadikan  dunia rusak dan hancur.[4]

Dalam tafsir Al Maraghi, ayat ini dijelaskan  bahwa Allah menjadikan apa yang ada dibumi, binatang, tumbuh-tumbuhan atau logam sebagai hiasan baginya dan bagi penghuninya, agar Allah  menguji keadaan mereka dalam memahami maksud-maksud dari perhiasan tersebut, serta menggunakannya sebagai bukti atas adanya pencipta, ketundukan dan ketaatan yang wajib dilakukan terhadapnya dalam segala yang diperintahkan, atau menjauhi segala yang dilarang. Dengan demikian, mereka tidak lagi bisa membantah. Barang siapa yang mengambil pelajaran dari perhiasan tersebut, dan memahami hikamh-Nya, maka ia memperoleh pahala. Dan barang siapa berani melanggar perintah Allah dan tak mau mempelajari rahasia-rahasia dan tujuan –tujuan dari perhiasan tersebut, maka patutlah ia mendapat hukuman. Allah menjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan, untuk Allah perlakukan penduduk bumi sebagai orang-orang yang teruji, lalu Allah beri balasan pahala kepada orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman kepada orang-orang yang berbuat buruk.

PENUTUP/ KESIMPULAN

Maka, sikap yang harus kita lakukan ialah harus sabar dan ikhlas dalam menerima seseorang yang meninggal dunia, karena semua yang hidup pasti mati dan akan kembali kepadaNya. Sikap yang harus  kita lakukan jika kita memiliki harta ialah bersyukur dan harta kita harus di infaqkan/ zakat/ di amalkan ke orang yang membutuhkan. Sikap yang harus kita lakukan, jika kita memiliki kekurangan harta ialah kita harus berusaha/ bekerja keras, bersabar, dengan bersabar membuat hati kita tenang agar selalu berpikiran positif terhadap apapun, yang terakhir berdoa untuk sesuatu hasil/ kesuksesan/ suatu keinginan. Sikap yang harus kita lakukan, terhadap alam yang ada di bumi ini ialah dengan memeliharanya dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dengan memakan daging binatang, tumbuh-tumbuhan, hasil bumi lainnya yang dapat dimanfaatkan jangan dirusak/ disia-siakan. Semua itu agar kita dapat berpikir tentang ciptaan Allah dan mengambil segala manfaatnya untuk kehidupan manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim Anis. Al Mu’jam al wasith. Mesir : Darul Maarif.

Ibnu Kasir. Tafsir Ibnu Kasir. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

Ahmad Mustafa al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, Semarang : Toha Putra.

Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Quran, Jakarta : Gema Insani.


[1] Ibrahim Anis. Al Mu’jam Al Wasith juz 1, (Mesir : Daarul Maarif), hal 48.

[2] Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Quran, (Jakarta: Gema Insani), hal 353

[3] Ahmad Mustafa al maraghi, Tafsir Al Maraghi, (Semarang: Toha Putra), hal 261..

[4] Ibnu Kasir, Tafsir Ibnu Kasir, (Bandung : Sinar Baru Algensindo), hal 420.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: