Perubahan Sosial dalam Pandangan Surat Al-Waqiah

Perubahan Sosial dalam Pandangan Surat Al-Waqiah

Oleh: Sri Asih

Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta


I. Pendahuluan

Permasalahan serius yang dihadapi umat pada saat ini yaitu krisis pemikiran kontemporer. Dalam konteks krisis pemikiran kontemporer ada tiga hal; Pertama,umat dirundung lenyapnya kejelasan visi. Kedua, umat nampak lemah. Kuantitas yang besar bagaikan buih yang mengalir tidak membekas. Ketiga, umat dilanda kemiskinan dalam berkreasi, karena umat cenderung untuk melihat secara individual dan antipati pada proyek peradaban.Di sini dapat diambil benang merah, bahwa masalah keterbelakangan umat disebabkan ulah mereka sendiri. Sehingga ijtihad di kalangan belum menjadi bahasa verbal yang optimal. Munculnya pemikiran-pemikiran baru sangat minim, karena toh walaupun ada, berusaha untuk dikafirkan, dikarenakan tidak sependapat dengan pemikiran para ulama-ulama terdahulu. Atau ‘kebenaran’ sudah dipolitisir oleh pemuka agama. Oleh karena itu, pada satu sisi Muhammad Abduh melihat bahwa keterbelakangan umat, tidak bisa dipungkiri, ada faktor politis yang diinginkan oleh para ulama dan penguasa.

Dalam hal ini untuk melakukan perubahan dalam bidang pemikiran ada tiga langkah yang diajukan oleh Muhammad Abduh; Pertama, membebaskan akal dari tali-tali taklid dan memahami agama sebagaimana salaf selum terjadinya khilaf. Dan berusaha untuk kembali menelusuri sumber-sumber pengetahuan yang orisinil sebagai upaya untuk mengoptimalkan akal manusia dalam menyingkap rahasia-rahasia alam dan hikmah Tuhan di muka bumi dengan menghormati hakekat yang mutlak serta merta mencari argumentasi di balik itu. Kedua, membedakan antara hak negara untuk ditaati dan hak keadilan bagi rakyat. Timbal balik antara arus atas dan arus bawah dalam rangka mereformasi pemikiran sangat urgen. Dr. Zaki Naguib Mahmud melihat, bahwa peran arus atas (pemerintah) dalam melendingkan kebebasan berpikir dan berpendapat sangat diperlukan. Dalam kesempatan lain Muhammad Abduh berkata:

Puncak kesempurnaan agama terletak pada dua hal penting. Pertama, kebebasan bersikap. Kedua, kebebasan berpikir. Apabila dua hal di atas dipenuhi, sempurnalah seseorang untuk menjadi manusia. Hal inipun akan memberikan dorongan untuk menyampaikan apa yang disediakan oleh Allah sesuai dengan fitrah dan kemampuannya. Sebagian filsuf barat modern menyatakan, “sesungguhnya perkembangan modernitas di Eropa berdiri tegak atas dasar ini. Maka jiwa tidak akan sanggup untuk bekerja, akal tidak akan berfungsi sebagai alat untuk menganalisa, setelah mengetahui banyak tentang apa yang ada dalam dirinya, dan ia berhak untuk melakukan ikhtiar dengan kemampuan rasionya untuk mencari kebenaran”. Pemahaman semacam ini ternyata belum sampai kepada generasi kita kecuali pada abad 16 masehi. Mereka dengan tegas menyatakan, “Sesungguhnya hal di atas merupakan cahaya yang terang menderang yang muncul dari para pemikir muslim itu sendiri”.

Sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah S.W.T., Islam mengajarkan hal-hal yang benar, pedoman hidup , acuan dan kerangka tata nilai kehidupan. Memahami islam sebagai pedoman hidup, harus terkait satu bagian dengan bagian yang lainnya.sebagai tatanan nilai. Islam tidaklah sekedar baik sebagai landasan etis dan moral, tetapi ajarannya sangat bersifat operasional dan aplikatif dalam segala segi kehidupan. Ajaran islam bukan saja mendorong untuk mencari dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan, akan tetapi juga mendorongnya untuk mengamalkan ilmu itu ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

Islam juga agama yang menghendaki perubahan, mengeluarkan umat manusia dari zaman kegelapan dan kedzaliman menuju kehidupan yang terang-benerang. Ada tiga macam kegelapan dan kedzaliman, yaitu ketidaktahuan tentang syariat, pelangggaran atas syariat Allah, dan penindasan. Islam diturunkan untuk membebaskan manusia dari kehidupan yang penuh dengan kemaksiatan menuju pemahaman tentang halal haram, baik buruk, apa yang sepatutnya dilakukan, dan apa yang tidak sepatutnya dilakukan. Islam juga diturunkan untuk kehidupan yang penuh belenggu dan penindasan menuju kehidupan yang penuh dengan kebebasan, dimana manusia dihargai sebagai makhluk yang mempunyai derajan dan kedudukan yang sama dihadapan Allah S.W.T. Yang membedakan manusia dimata Allah adalah ketaqwaan kepadaNya. Ini pula yang menjadi misi dari ajaran agama islam.

Dalam hal ini tujuan saya mengambil judul tersebut karena untuk mengetahui bagaimana perubahan sosial terjadi dan dampak apa yang ditimbulkan dalam dalam masyarakat akibat perubahan sosial saya ingin mengeluarkan umat manusia dari zaman kegelapan dan kedzaliman menuju kehidupan yang terang benderang serta mewujudkan sebuah impian menuju tatanan dunia baru yang islami.

II. Pembahasan

  1. Pengertian Perubahan Sosial

Perubahan adalah merupakan sunatullah,perubahan mempunyai kaitan erat dengan misi pelurusan, perbaikan, demi membangun umat yang islami, sedangkan Perubahan sosial adalah perbaikan antara kondisi sekarang dan kondisi sebelumnya terhadap aspek-aspek dari struktur social termasuk didalamnya pola perilaku, sikap, akhlak, dan nilai-nilai.Melakukan perubahan social tidak bias diselesaikan hanya dengan berpangku tangan tanpa ada usaha untuk melakukan perbaikan-perbaikan, sebab allah tidak akan mengubah keadaan apapaun selama kita tidak mengubah sebab keadaan itu sendiri. Sebagaimana firman allah dalam al-qur’an Surah Ar-Ra’ad ayat 11:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.

Tafsiran ayat ini menjelaskan tentang Allah mewahyukan pada salah seorang Nabi bani israil: katakanlah kepada kaummu, “tidaklah penduduk suatu negeri dan tidaklah penghuni suatu rumah yang berada dalam ketaatan pada Allah, kemudian mereka beralih kepada kemaksiatan terhadap Allah melainkan Allah mengalihkan dari mereka apa yang mereka cintai kepada apa yang mereka benci. “ kemudian Ibrahim berkata: pembenaran atas pernyataan itu terdapat dalam kitab Allah, “ sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.

Perubahan sosial setidaknya dapat terkait beberapa hal sebagai berikut : perkembangan tekonologi, konflik sosial (suku, agama, ras, dan kelas sebagaimana tesis marx), kebutuhan adaptasi dalam sistem social.

Contoh birokrasi efektif sebagai respon terhadap lingkungan yang kompetitif), dan pengaruh dari idealisme dan idiologi pada aktivitas sosial.

  1. Dua Pandangan tentang Perubahan menurut ilmu Sosiologi

1. Pandangan materialistik yang meyakini bahwa tatanan masyarakat sangat dipengaruhi oleh manusia dan benda. Pandangan kedua adalah pandangan idealistik yang menekankan peranan ide, ideologi, atau nilai-nilai yang mempengaruhi perubahan.dalam kaitannya materi kali ini,

2. Pandangan kedua inilah yang lebih tepat dalam pandangan islam. Karena sasaran perubahan kita adalah manusia dan ideologi yang kita bawa dalam islam.

  1. Dalam melakukan perubahan sosial kita harus melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

1. Mewujudkan pribadi muslim yang diridhai Allah, yaitu pribadi muslim yang sempurna, yang penuh moralitas iman, islam, taqwa, dan ihsan.

2. Mewujudkan rumah tangga islami dan keluarga islami yang diridhai Allah, yaitu rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan waramah.

3. Mewujudkan masyarakat dan lingkungan islami, yaitu lingkungan yang kondusif dan layak menerima berkah Allah, karena warganya beriman dan bertaqwa.

4. Mewujudkan negara yang diridloi Allah yaitu suatu negara yang membela kepentingan umat islam dan meyerukan rakyatnya untuk berbuat kebaikan dan selalu tunduk pada penciptaNya.

5. Mewujudkan peradaban dunia yang diridloi Allah dengan kepemimpinan islam atas alam.[1]

Melakukan perubahan sosial tidak bisa selesai hanya berpangku tangan tanpa melakukan perbaikan-perbaikan. Masa-masa keajaiban itu bersifat ghaib dan kita menyerahkannya pada Allah. Dalam alam pikiran rasionalitas kita, secara logis Allah menegaskan sebuah hukum alam (sunnatullah) bahwa “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sebuah kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad: 11). Ayat ini dengan jelas menuntut segala potensi yang kita miliki untuk melakukan perubahan, jika kita telah bergerak maka Allah pun akan membantu perubahan itu. [2]

Dalam melakukan perubahan generasi muda islam harus aktif dalam bergerak untuk mewujudkan sebuah impian menuju tatanan dunia baru yang islami. Alangkah indahnya seandainya negara atau dunia bisa menerapkan syariat islam, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Sehinga keadaan umat islam tidak seperti sekarang, selalu dipermainkan oleh musuh-musuhnya tanpa bisa memberikan perlawanan dan pembelaan yang berarti. Banyak saudara-saudara kita yang masih teraniaya oleh kaum yahudi dan nasrani, Untuk itusebagai gerakan muda islam harus bangkit dan bergerak guna mencapai cita-cita tersebut.

D. Pengaruh surat alwaqiah terhadap perubahan social

Dengan status manusia sebagai makluk yang sempurna dibandingkan dengan makluk yang lain, maka manusia itu mempunyai kecenderungan yang dalam Islam bisa diartikan sebagai fitrah. Manusia dilahirkan dalam keadaan fithrah-suci-, namun fitrah bisa juga diartikan sebagai potensi untuk berbuat sesuatu. Maka kalau kita hubungkan dengan kriminalitas-pencurian dan perampokan- untuk bisa menjadi baik dan jahat lingkungan sosiallah yang membentuk watak manusia itu. Dari zaman dulu hingga sekarang ternyata kebaikan dan kejahatan itu berkembang bersama, seperti adanya siang dan malam, langit dan bumi, laki-laki dan perempuan, maka kebaikan dan kejahatan tidak selalu bisa kita pisahkan apalagi kalau setiap individu dalam masyarakat mempertahankan kebenaran relatif-merasa pendapatnyalah yang paling benar- dalam berinteraksi sosial. Tidak selamanya orang baik itu tidak pernah berbuat salah dan tidak selamanya pula orang yang dianggap jahat itu tidak mempunyai sifat baik. Sementara itu kejahatan yang terjadi pada masa sekarang ini sudah sangat meresahkan masyarakat, ambilah contoh misalnya pencurian dan perampokan yang terjadi dibeberapa daerah yang ada di negara kita, baik dalam skala kecil untuk perorangan dan kelompok maupun dalam skala besar untuk perseorangan dan kelompok.  Alasan mereka baik secara individu maupun kelompok dalam skala kecil dan besar yang jelas sangat bervariasi.

Tujuan Perubahan adalah untuk memperbaiki sikap dan perilaku maka  dalam hal ini yang terpenting adalah upaya yang bersifat preventif atau pencegahan, yaitu dengan jalan menyadarkan atau menekan terhadak hal-hal yang dapat menimbulkan kejahatan. Disinilah peran moral dan agama untuk menutun manusia kepada jalan yang benar. Untuk itu Allah menurunkan surat alwaqiah agar umat manusia sadar bahwa setiap ada kehidupan pasti ada kematian karena sesunggunya kehidupan yang abadi adalah setelah hari kamat nanti dimana semua amal perbuatan baik dan buruk manusia diperhitungkan dan setiap perbuatan pasti ada balasan. Adapun balasan orang-orang yang baik amal perbauatnnya dan mereka akan masuk golongan kanan Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu dan sebaliknya jika amaln buruk mka kita akan masuk kedalam golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.
Dan orang-orang yang paling terdahulu beriman (assabiqunal awalun), merekalah yang paling dulu (masuk surga). (QS. Al-Waqi’ah: 1-10). Untuk itu manusia harus memperbaiki/mengadakan perubahan terhadap tingkah laku dan perbuatan. Seseorang akan dengan senang hati berubah apabila ia bisa melihat atau merasakan bahwa perubahan akan membawa manfaat baginya (pleasure). Manfaat ini bisa sesuatu yang sifatnya ekonomis, psikologis maupun spiritual. Demikian pula manfaat ini bisa dilihat dalam konteks pribadi maupun golongan yang diwakilinya.

Masyarakat dengan berbagai dinamika yang ada menuntut adanya perubahan sosial, dan setiap perubahan sosial pada umumnya meniscayakan adanya perubahan sistem nilai dan hukum. Marx Weber dan Emile Durkheim menyatakan bahwa “hukum merupakan refleksi dari solidaritas yang ada dalam masyarakat”. Senada dengan Marx Weber dan Durkheim, Arnold M. Rose mengemukakan teori umum tentang perubahan sosial hubungannya dengan perubahan hukum.

Menurutnya, perubahan hukum itu akan dipengaruhi oleh tiga faktor;

1. Adanya komulasi progresif dari penemuan-penemuan di bidang teknologi;

2. Adanya kontak atau konflik antarkehidupan masyarakat; dan

3. Adanya gerakan sosial (social movement).2 Menurut teori-teori di atas, jelaslah bahwa hukum lebih merupakan akibat dari pada faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan sosial.

Pengaruh-pengaruh unsur perubahan di atas dapat menimbulkan perubahan-perubahan sosial dalam sistem pemikiran Islam, termasuk di dalamnya pembaruan hukum Islam. Pada dasarnya pembaruan pemikiran hukum Islam hanya mengangkat aspek lokalitas dan temporalitas ajaran Islam, tanpa mengabaikan aspek universalitas dan keabadian hukum Islam itu sendiri. Tanpa adanya upaya pembaruan hukum Islam akan menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam memasyarakatkan hukum Islam khususnya dan ajaran Islam pada umumnya.

Untuk mengawal hukum Islam tetap dinamis, responsif dan punya adaptabilitas yang tinggi terhadap tuntutan perubahan, adalah dengan cara menghidupkan dan menggairahkan kembali semangat berijtihad di kalangan umat Islam. Pada posisi ini ijtihad merupakan inner dynamic bagi lahirnya perubahan untuk mengawal cita-cita universalitas Islam sebagai sistem ajaran yang shalihun li kulli zaman wal makan. Umat Islam menyadari sepenuhnya bahwa sumber-sumber hukum normatif–tekstual sangatlah terbatas jumlahnya, sementara kasus-kasus baru di bidang hukum tidak terbatas jumlahnya. Oleh karena itu, Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayat al-Mujtahid menyatakan bahwa, Persoalan-persoalan kehidupan masyarakat tidak terbatas jumlahnya, sementara jumlah nash (baik al-Qur’an dan al-Hadis), jumlahnya terbatas. Oleh karena itu, mustahil sesuatu yang terbatas jumlahnya bisa menghadapi sesuatu yang tidak terbatas.

Semangat atau pesan moral yang bisa kita pahami dari pernyataan Ibnu Rusyd di atas adalah anjuran untuk melakukan ijtihad terhadap kasus-kasus hukum baru yang tidak secara eksplisit dijelaskan sumber hukumnya dalam nash. Dengan demikian, Ijtihad merupakan satu-satunya jalan untuk mendinamisir ajaran Islam sesuai dengan tuntutan perubahan zaman dengan berbagai kompleksitas persoalannya yang memasuki seluruh dimensi kehidupan manusia.

III. Penutup

Kesimpulan

Perubahan sosial dapat diartikan sebagai segala perubahan pada lembaga-lembaga sosial dalam suatu masyarakat. Perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga sosial itu selanjutnya mempunyai pengaruhnya pada sistem-sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, pola-pola perilaku ataupun sikap-sikap.

Dalam melakukan perubahan sosial tidak bisa selesai hanya berpangku tangan tanpa melakukan perbaikan-perbaikan tetapi harus aktif dalam bergerak untuk mewujudkan sebuah impian menuju tatanan dunia baru yang islami.


[1] Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994), hal. 96. Bandingkan pula dengan, Astrid S. Soesanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial (Jakarta: Binacipta, 1985), hal. 157-158.

[2] Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994), hal. 96. Bandingkan pula dengan, Astrid S. Soesanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial (Jakarta: Binacipta, 1985), hal. 157-158.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: