KENIKMATAN ESKATOLOGIS DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

KENIKMATAN ESKATOLOGIS DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Oleh: Nur Mutmainnah

Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta


1. PENDAHULUAN

Sebagaimana yang diketahui bersama bahwa orang yang baik selama hidupnya di dunia akan mendapat balasan kelak di akhirat yang berupa surga. Dan ketika surga diidentikkan dengan pernyataan tersebut, maka hal ini menjadi suatu permasalahan eskatologis atau masalah gaib. Sebab, tidak seorangpun yang bisa melihat atau mengetahui persoalan gaib kecuali yang sifatnya berupa informasi masa yang akan datang atau prediksi, yaitu melalui Alqur’an yang merupakan firman Allah swt. Namun pengetahuan manusia mengenai hal gaib tidak akan bisa se-akurat pengetahuan Allah. Seperti yang disebutkan dalam Alqur’an Surat As-Sajadah/ 32 ayat 17:

Ÿxsù ãNn=÷ès? Ó§øÿtR !$¨B u’Å÷zé& Mçlm; `ÏiB Ío§è% &ûãüôãr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÊÐÈ

Ayat diatas juga sejalan dengan hadits Nabi saw. yang menyatakan bahwa di dalam surga akan dijumpai apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tak pernah terbayang/ terlintas di benak manusia (pikiran).[1]


Pembahasan mengenai kehidupan di surga dengan segala kenikmatannya menjadi menarik, karena menimbulkan banyak interpretasi makna ataupun tafsiran mengenai kebenaran yang sesungguhnya yang dimaksud oleh Alqur’an itu sendiri. Alqur’an mendeskripsikan tentang keadaan surga dengan segala kenikmatannya yang abadi. Disebutkan pula dengan sangat detail hal-hal yang ada di dalamnya, seperti banyaknya jumlah bidadari dengan penggambaran fisik yang begitu memesona, keindahan kolam susu, sungai-sungai, pelayan-pelayan, buah-buahan dan lain sebagainya. Sehingga menimbulkan pro dan kontra dalam penafsirannya. Misalnya mengenai gambaran keadaan surga dan mengenai hubungan penggambaran kenikmatan eskatologis untuk memotivasi manusia berbuat baik agar mendapat balasan di surga.

Penulis berusaha menyikapi secara objektif mengenai perbedaan pendapat yang terjadi dikalangan aliran maupun para pemikir Islam tentang kenikmatan-kenikmatan surga.  Seperti aliran Qadariyah yang memiliki pandangan bahwa Allah swt. tidak menciptakan amal perbuatan manusia, melainkan manusia lah yang menciptakannya dan karena itulah maka manusia akan menerima pembalasan baik (surga) atas segala amal baiknya, dan menerima balasan buruk (siksa Neraka) atas segala amal perbuatannya yang salah dan dosa karena itu pula, maka Allah berhak disebut adil. Sedangkan Jaham bin Shafwan dari aliran Jabariyah menyatakan bahwa pahala dan siksa merupakan paksaan dalam arti bahwa Allah telah mentakdirkan seseorang itu baik sekaligus memberi pahala dan Allah telah mentakdirkan seseorang itu berdosa sekaligus juga menyiksanya. Selain itu, Jabariyah juga menyebutkan surga dan neraka tidak kekal, tidak ada yang kekal selain Allah Swt.[2]

Penulis bukanlah satu-satunya yang pernah mengangkat masalah ini, masalah mengenai surga sebelumnya pernah ditulis oleh DR. Ahzami Samiun Jazuli dalam buku “Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an”, yang mengungkapkan kehidupan di akhirat. Namun penulis mendapati kekurangan, dalam buku tersebut hanya disampaikan data-data yang cenderung tekstual dalam memahami makna Al-Qur’an. Satu lagi pembahasan yang penulis temui mengenai masalah ini yaitu dibahas oleh Muhsin Ahmad dalam makalah “Konsep Jannah (Surga) dalam Al-Quran”, yang cenderung lebih rasional dalam memahami konsep surga.

2. PEMBAHASAN

A. Definisi

Ada dua definisi yang akan penulis jelaskan dalam bab ini. Yang pertama mengenai eskatologis, dan yang kedua mengenai jannah atau surga, karena kenikmatan eskatologis yang dimaksud dalam makalah ini yaitu yang berkaitan dengan surga.

1) Eskatologi berasal dari bahasa yunani, ἔσχατος, Eschatos yang berarti “terakhir” dan -logi yang berarti “studi tentang” adalah bagian dari teologi dan filsafat yang berkaitan dengan peristiwa-perisitwa terkahir dalam sejarah dunia, atau nasib akhir dari seluruh umat manusia, yang biasanya dirujuk sebagai kiamat (akhir zaman).[3] Berarti, eskatologi merupakan suatu studi bagian dari kajian teologi dan filsafat yang berkaitan dengan kejadian terakhir dari sejarah kehidupan ini, kiamat dan akhirat menjadi fokus pembicaraan. Sedangkan Âkhirat (Arab: الآخرة , Âkhiroh) itu sendiri dipakai untuk mengistilahkan kehidupan alam baka (kekal) setelah kematian/ sesudah dunia berakhir. Pernyataan peristiwa alam akhirat sering kali diucapkan secara berulang-ulang pada beberapa ayat didalam Al-Qur’an yang mengisahkan tentang Yawm al-Qiyâmah dan akhirat juga bagian penting dari eskatologi Islam.[4]

2) Kata jannah secara etimologis berasal dari جَنَّ   (janna) dengan derivasi الجُنَّةُ yang berarti السِّترُ (tutup tabir, penutup atau tertutup).[5] Dengan demikian jannah yang dimaksud oleh orang muslim sebagai balasan di akhirat masih tertutup (tersembunyi) sampai hari ini. Kata jannah dalam percakapan bangsa Arab (lihat lisanul ‘Arab) hanya dimaksudkan pada sebuah taman penuh dengan pohon kurma dan anggur.[6] Apabila kedua pepohonan ini tidak terdapat dalam suatu tempat, maka secara umum tempat tersebut dinamakan kebun, ذات الشجر الحديقة.[7] Dari kata janna pula muncul kata جِنَّة  (jinnah, sekelompok jin) dan جنين  (janin) yang keduanya bersifat tersembunyi atau tertutup, demikian pula جن  (jin, mahluk yang tersembunyi), مجنون  (gila, yang tertutup akal sehatnya atau kerasukan jin) dan جُنَّة  (junnah, perisai yang melidungi (menutupi) diri dari serangan lawan), sehingga surga seperti taman yang tersembunyi di balik perisai atau tirai dimana setiap orang bahkan mahluk haluspun tergila-gila padanya.[8] Sedangkan kata surga dalam bahasa Indonesia itu sendiri adalah sebuah tempat di alam akhirat yang dipercaya oleh para penganut beberapa agama sebagai lokasi berkumpulnya roh-roh manusia yang semasa hidup di dunia berbuat kebajikan sesuai ajaran agamanya. Istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Svarga. Dalam bahasa Jawa kata tersebut diserap menjadi Swarga [9] Kata jannah dengan seluruh kata yang seakar dengannya terulang sebanyak 208 kali.[10]

Kata jannah sendiri terulang sebanyak 144 kali; 87 kali di surah makkiyah dan 57 kali di surah madaniyah; 68 dalam bentuk mufrad, 7 dalam bentuk mutsanna dan 69 dalam bentuk jamak. Kata jannah dalam al-Quran memiliki  dua arti yaitu kebun dan surga. Jannah yang berarti kebun terulang sebanyak 25 kali pada 20 ayat yang tersebar di 12 surah; 10 surah makkiyah dan 2 surah madaniyah.[11] Ayat-ayat tersebut antara lain terdapat dalam surat Al-Baqarah: 265, Al-An’am: 99, Al-An’am: 141, Ar-Ra’ad: 4, Al-Kahfi: 33, Al-Mu’minun: 16, dan lain-lain. Sementara 119 kata jannah yang lainnya dapat diartikan surga,[12] seperti yang telah diungkapkan dalam definisi sebelumnya. Ayat-ayat tersebut terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 111, Ibrahim: 23, Al-A’raf: 88, dan lain-lain. Makna jannah sebagai kebun lebih banyak digunakan pada surah makkiyah.

B. Gambaran Al-Qur’an tentang Kenikmatan

Begitu banyak ragam kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Kenikmatan tersebut terbagi menjadi dua, yaitu kenikmatan materi dan kenikmatan spiritual.

Kenikmatan materi antara lain dalam aspek ekonomi, kesehatan dan kelengkapan fisik, nikmat berpasangan[13], nikmat alam semesta yang dapat diambil manfaatnya[14], serta nikmat makan dan minum[15]. Dalam al-Qur’an, tersirat makna etos kerja, maksudnya jika manusia ingin memperoleh nikmat kekayaan ekonomi maka harus memiliki etos kerja yang tinggi, ayat tersebut terdapat dalam surat Al-Jumu’ah ayat 10:

#sŒÎ*sù ÏMuŠÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãÏ±tFR$$sù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Nikmat secara spiritual atau kenikmatan rohani hanya bisa dirasakan secara bathiniyah. Seperti rasa puas akan suatu hal[16], nikmat kesabaran[17], nikmat keikhlasan, ketenangan[18], rasa syukur[19], dan lain sebagainya sebagai bentuk pengendalian nilai dan makna hidup bagi manusia.

Di dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rahman, jumlah pengulangan kata fabiayyi aalaa’i Rabbikumaa tukadzdzibaan (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kau dustakan?) mengisyaratkan bahwa pintu surga jauh lebih banyak daripada pintu neraka.[20] Karena, adzab Allah sesungguhnya sedikit bila dibandingkan dengan kasih sayang-Nya yang begitu luas.

C. Faktor-faktor yang Menggagalkan untuk Meraih Kenikmatan yang Diridhai Allah

– Menuruti hawa nafsu (Ar-Ruum: 29, Thaahaa: 16, Al-Jaatsiyah: 23)

– Mengikuti prasangka buruk (Ali Imran: 154, Yunus:36)

– Kufur Nikmat (Al-Hajj: 38, Az-Zumar: 8, Asy-Syuura: 48)

– Kafir (Al-Baqarah: 24 dan 39, Al-Anfal: 14, Yunus: 4)

D. Pewaris Surga

Para pewaris surga adalah orang-orang yang termasuk golongan Muttaqin. Golongan  muttaqiin adalah orang-orang yang mendapatkan keutamaan, rahmat dan kasih sayang Allah Swt.

y7ù=Ï? èp¨Zpgø:$# ÓÉL©9$# ß^͑qçR ô`ÏB $tRϊ$t6Ïã `tB tb%x. $|‹É)s? ÇÏÌÈ

“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertaqwa.” (QS Maryam : 63)

Perbuatan-perbuatan yang dapat mengantarkan mereka untuk sampai ke derajat taqwa hingga masuk surga yaitu:

1. Taat kepada Allah dan Rasul (Al-Fath: 17)

}§øŠ©9 ’n?tã 4‘yJôãF{$# Óltym Ÿwur ’n?tã ÆltôãF{$# Óltym Ÿwur ’n?tã Çك̍yJø9$# Óltym 3 `tBur ÆìÏÜム©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur ã&ù#Åzô‰ãƒ ;M»¨Zy_ “̍øgrB `ÏB $ygÏFøtrB ㍻pk÷XF{$# ( `tBur ¤AuqtGtƒ çmö/Éj‹yèム$¹/#x‹tã $VJŠÏ9r& ÇÊÐÈ

2. Iman dan Amal Shalih (An-Nisa: 124)

ÆtBur ö@yJ÷ètƒ z`ÏB ÏM»ysÎ=»¢Á9$# `ÏB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB y7Í´¯»s9résù tbqè=äzô‰tƒ sp¨Yyfø9$# Ÿwur tbqßJn=ôàム#ZŽÉ)tR ÇÊËÍÈ

3. Taubat (Maryam: 40)

$¯RÎ) ß`øtwU ß^̍tR uÚö‘F{$# ô`tBur $pköŽn=tæ $oYø‹s9Î)ur tbqãèy_öãƒ ÇÍÉÈ

4. Jihad harta dan nafs (At-Taubah:111)

¨bÎ) ©!$# 3“uŽtIô©$# šÆÏB šúüÏZÏB÷sßJø9$# óOßg|¡àÿRr& Nçlm;ºuqøBr&ur crÎ/ ÞOßgs9 sp¨Yyfø9$# 4 šcqè=ÏG»s)ム’Îû È@‹Î6y™ «!$# tbqè=çGø)uŠsù šcqè=tFø)ãƒur ( #´‰ôãur Ïmø‹n=tã $y)ym †Îû Ïp1u‘öq­G9$# È@‹ÅgUM}$#ur Éb#uäöà)ø9$#ur 4 ô`tBur 4†nû÷rr& ¾ÍnωôgyèÎ/ šÆÏB «!$# 4 (#rçŽÅ³ö6tFó™$$sù ãNä3Ïèø‹u;Î/ “Ï%©!$# Läê÷ètƒ$t/ ¾ÏmÎ/ 4 šÏ9ºsŒur uqèd ã—öqxÿø9$# ÞOŠÏàyèø9$# ÇÊÊÊÈ

5. Sabar (Al-Insan: 12)

Nßg1t“y_ur $yJÎ/ (#rçŽy9|¹ Zp¨Zy_ #\ƒÌymur ÇÊËÈ

E. Bentuk-bentuk Kenikmatan di Akhirat

Al-Qur’an memaparkan ragam kenikmatan yang ada di surga dalam surat-surat pendek yang diturunkan di Mekah.[21] Dari pendeskripsian inilah timbul berbagai macam penafsiran. Kenikmatan-kenikmatan tersebut antara lain:

1) Minuman dan Sungai-Sungai Surgawi

– Minuman Jahe (al-Insan: 17-18)

tböqs)ó¡ç„ur $pkŽÏù $U™ù(x. tb%x. $ygã_#z•ÏB ¸xŠÎ6pgUy— ÇÊÐÈ $YZøŠtã $pkŽÏù 4‘£J|¡è@ Wx‹Î6|¡ù=y™ ÇÊÑÈ

Mujahid berkata: jahe adalah minuman seperti sirup. Qatadah berkata: jahe adalah minuman yang mendekati murni dan campuran untuk penduduk surga. Dikatakan: Itu adalah di surga di mana ada rasa jahe. Dikatakan: bahwa makna minuman dicampur dengan jahe. Salsabila yaitu tempat nectar atau sari minuman lezat, orang-orang Arab mengatakan: minuman ini yang berhubungan dengan rasa  halus atau kelembutan.[22]

– Sungai Air (al-Baqarah: 25)

ΎÅe³o0ur šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; ;M»¨Yy_ “̍øgrB `ÏB $ygÏFøtrB ㍻yg÷RF{$# ( $yJ¯=à2 (#qè%Η①$pk÷]ÏB `ÏB ;otyJrO $]%ø—Íh‘ (#qä9$s% #x‹»yd “Ï%©!$# $oYø%Η①`ÏB ã@ö6s% ( (#qè?é&ur ¾ÏmÎ/ $YgÎ7»t±tFãB ( óOßgs9ur !$ygŠÏù Ólºurø—r& ×ot£gsܕB ( öNèdur $ygŠÏù šcrà$Î#»yz ÇËÎÈ

Perbedaan antara kedua tempat -surga yang mengalir sungai-sungai–  dan kata -mata air dari tempat yang jauh ketika dia lewat di bawahnya-. Makna: (di bawah) ٱلأنهار seakan sungai-sungai mengalir di bawah mereka. Bahkan orang yang optimis percaya bahwa air tersebut berasal dari luka atau di atas penderitaan panjang mereka di dunia. Ini untuk meyakinkan umat bahwa kebahagiaan surga itu kekal.[23]

– Sungai Susu, Sungai Khamr dan Sungai Madu (Muhammad:15)

ã@sW¨B Ïp¨Ypgø:$# ÓÉL©9$# y‰Ïããr tbqà)­GßJø9$# ( !$pkŽÏù ֍»pk÷Xr& `ÏiB >ä!$¨B Ύöxî 9`ř#uä ֍»pk÷Xr&ur `ÏiB &ûtù©9 óO©9 ÷Ž¨tótGtƒ ¼çmßJ÷èsÛ Ö»pk÷Xr&ur ô`ÏiB 9÷Hs~ ;o©%©! tûüÎ/̍»¤±=Ïj9 ֍»pk÷Xr&ur ô`ÏiB 9@|¡t㠒y|Á•B ( öNçlm;ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. ÏNºtyJ¨V9$# ×otÏÿøótBur `ÏiB öNÍkÍh5§‘ ( ô`yJx. uqèd Ó$Î#»yz ’Îû ͑$¨Z9$# (#qà)ߙur ¹ä!$tB $VJŠÏHxq yì©Üs)sù óOèduä!$yèøBr& ÇÊÎÈ

Menurut Ar-Razi, kata-kata mengenai sungai susu, sungai khamr dan sungai madu hanyalah sebuah pendeskripsian saja, dan dipilihnya kata-kata tersebut karena memiliki rasa yang satu sama lain berbeda, tergantung kepada orang yang merasakannya. Misalnya: dikatakan bahwa khamr adalah minuman lezat, namun menurut sebagian yang lain menganggap khamr tidaklah lezat.[24]

2) Makanan Penghuni Surga (at-Thuur: 22)

Nßg»tR÷Šy‰øBr&ur 7pygÅ3»xÿÎ/ 5Oóss9ur $£JÏiB tbqåktJô±o„ ÇËËÈ

Menurut Asy-Sya’rawi, makanan dan minuman bagi penduduk surga bukanlah tentang lapar atau haus, akan tetapi lebih dari sekadar keinginan dan kenikmatan. Tuhan Yang Maha Kuasa dalam ayat ini adalah sesuatu yang metafisik. Oleh karena itu, menimbulkan beberapa efek pada pikiran manusia. Untuk dapat menyaksikan dan penggunaan istilah yang ditemukan, itu adalah realitas yang kita saksikan. Tidak ada jiwa yang mengetahui apa yang terus bersembunyi bagi mereka, kebahagiaan sebagai imbalan atas apa yang mereka lakukan.[25]

3) Pasangan

Menurut M. Quraish Shihab, “Menerjemahkan kata  حور عين dengan bidadari telah menimbulkan kerancuan di kalangan sementara kaum muslim. Kata bidadari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti puteri atau dewi dari kayangan; wanita yang cantik.[26] Bidadari berasal dari kata vidyadari yang dalam konsep Hinduisme mengandung makna pemuasan syahwat. Pengertian tersebut tidak sepenuhnya dikandung oleh kata حور عين. Dari segi bahasa kata حور عين terdiri dari kata حور  yang merupakan jamak dari kata حوراء (jenis feminim) dan أحور (jenis maskulin). Makna حور adalah bulat, ada pula yang mengartikan dengan sipit sedangkan عين adalah jamak dari عيناء dan عين yang berarti bermata besar dan indah. Dengan demikian menerjemahkan حور عين dengan bidadari tidaklah tepat karena kata tersebut bersifat netral; bisa laki-laki bisa pula perempuan.[27] Lafadz حور disebutkan sebanyak empat kali di dalam Al-Qur’an, yaitu pada surat ad-Dukhkhan: 54, at-Thuur: 20, ar-Rahman: 72 dan al-Waqi’ah: 22.

Sedangkan qāshirāt al-tharaf berarti wanita yang pandangannya terbatas pada pasanganya dan tidak suka melirik yang lain(wanita setia), yakni terdapat dalam Al-Qur’an Surat Shad: 52, ash-Shaffat: 48-49 dan ar-Rahman: 56.[28]

4) Pakaian dan Perhiasan Penghuni Surga (al-Kahfi: 31)

y7Í´¯»s9ré& öNçlm; àM»¨Zy_ 5bô‰t㠓̍øgrB `ÏB ãNÍkÉJøtrB ㍻pk÷XF{$# tböq¯=ptä† $pkŽÏù ô`ÏB u‘Ír$y™r& `ÏB 5=ydsŒ tbqÝ¡t6ù=tƒur $¹/$u‹ÏO #ZŽôØäz `ÏiB <¨ß‰Zߙ 5uŽö9tGó™Î)ur tûüÏ«Å3­G•B $pkŽÏù ’n?tã Å7ͬ!#u‘F{$# 4 zN÷èÏR Ü>#uq¨W9$# ôMoYÝ¡ymur $Z)xÿs?öãB ÇÌÊÈ

5) Permadani Penghuni Surga (al-Ghasyiyah: 13-16)

$pkŽÏù ֑çŽß ×ptãqèùö¨B ÇÊÌÈ Ò>#uqø.r&ur ×ptãqàÊöq¨B ÇÊÍÈ ä͑$oÿsVur ×psùqàÿóÁtB ÇÊÎÈ ’Î1#u‘y—ur îprOqèVö7tB ÇÊÏÈ

(Dan karpet berserakan): menurut Abu Ubaida: karpet tersebut adalah permadani. Ibnu Abbas mengatakan: karpet itu sendiri dicampur dengan tipis, dan Atha’: karpet; seperti bulu anjing. Dan disiarkan: terentang; yaitu permadani yang terhampar di atasnya bulu-bulu lembut.[29]

6) Pelayan Para Penghuni Surga (al-Insan: 19)

ß$qäÜtƒur öNÍköŽn=tã ×bºt$ø!Ír tbrà$©#sƒ’C #sŒÎ) öNåktJ÷ƒr&u‘ öNåktJö6Å¡ym #Zsä9÷sä9 #Y‘qèVZ¨B ÇÊÒÈ

D. Kedudukan Surga dalam Al-Qur’an

Kedudukan surga dalam Al-Qur’an termasuk ke dalam kisah Al-Qur’an. Sebab berita tentang surga ialah berita gaib, yang digunakan untuk menceritakan peristiwa-peristiwa masa lalu yang jauh (kisah surga nabi Adam), baik dari segi tempat dan waktunya. Selain itu, surga dinarasikan dengan berbagai peristiwa faktual yang bercampur dengan imajinasi yang menggambarkan berbagai model kehidupan, serta dipaparkandengan menggunakan kata dan struktur kebahasaan pilihan, terikat dengan latar waktu dan tempat tertentu, dengan tujuan untuk menyampaikan pesan dan memberikan kesan yang mendalam.

Al-Qur’an turun dalam konteks masyarakat Arab abad ke tujuh dengan tradisi dan realita budayanya. Pada saat itu, bangsa Arab menyukai kisah-kisah yang berkembang, sejarah nasab dan mitos, sebagai salah satu sumber pengetahuan mereka. Ketika Al-Qur’an turun, hendak memberi peringatan kepada masyarakat, kemudian memberi ilustrasi mengenai gagasan surga. Ilustrasi surga (sebagai ganjaran jika mengikuti pesan Allah) dengan taman yang indah dan dipenuhi oleh kemewahan dan wanita cantik dapat diterima oleh alam pikiran mereka tentang keindahan dan kenikmatan, karena memang esensi surga ialah keindahan dan kenikmatan tanpa batas. Dengan perlahan merekapun dapat dibawa untuk menerima dan mengikuti petunjuk Tuhan, sehingga menjadi manusia yang beradab, kemudian ditanamkan di hati mereka kecintaan kepada Tuhan, dan kasih sayang terhadap sesama manusia.

Oleh karenanya, ilustrasi surga yang digambarkan sangat sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat Arab saat itu. Sebab, tanah Arab merupakan tanah yang gersang dan tandus. Menjadi sebuah dambaan dan obsesi terindah ketika dapat memiliki kebun yang sejuk dan luas, rindang dan dipenuhi aneka macam buah serta gemercik air sungai di tengah gurun pasir yang tandus dan panas. Simbol bidadari (yang diibaratkan wanita) muncul dari interpretasi mufassir Arab yang kebanyakan pria, sehingga mereka banyak yang menafsirkan rupa fisik bidadari dengan wanita canti yang bermata jeli, berbuah dada montok, perawan, dan sebagainya. Seeperti Ibnu Abbas, Mujahid, dan para ahli tafsir lainnya mengemukakan bahwa yang dimaksud gadis remaja dalam surat An-Naba ayat 31-33 yaitu gadis remaja yang montok buah dadanya, tidak turun bentuk dan peranakannya karena mereka masih perawan.[30]

Akan tetapi, surga hanyalah simbol kenikmatan, maka yang dibangkitkan di akhirat kelak bukanlah tubuh tetapi roh manusia. Roh tidak mengenal lagi gender, tidak mengenal laki-laki, perempuan maupun setengah laki-laki, ini pula menepis tuduhan orang yang mengatakan bahwa surga orang Islam bias gender. Kemudian  puncak kenikmatan surga adalah bersatu kembali dengan Sang Pencipta.[31]

3. PENUTUP

Penyebutan nama surga dengan jannah sangat terkait dengan kondisi masyarakat Arab abad ke tujuh, pada saat turunnya Al-Qur’an. Keinginan masyarakat Arab saat itu adalah memiliki taman, kebun dengan pohon rindang dan buah yang banyak. Oleh sebab itu, Al-Qur’an turun dengan menyesuaikan kondisi geografis yang dialami mereka, agar mereka mau taat terhadap perintah Allah, maka al-Qur’an memberi ‘angin segar’ berupa kenikmatan surga bagi siapapun yang taat.

Bangsa Arab sebelum Islam dikenal kemahirannya dalam sastra. Al-Quran pun datang sebagai manifestasi pendekatan sastranya, termasuk pemakaian kata-kata metaforis. Salah satu obyek bahasa metafora atau bahasa majazi Al-Quran adalah ketika berbicara tentang surga. Surga adalah sesuatu yang gaib, abstrak, maka agar lebih mudah dicerna dan tangkap, kemudian digambarkan dengan hal-hal yang nyata.

Bagi umat Islam saat ini, memaknai surga dengan segala ilustrasi keikmatannya secara tekstual saja bukanlah hal yang bijak. Sebab kita tidak berada pada abad ke tujuh di mana Al-Qur’a baru turun. Dengan warisan intelektual yang ditinggalkan para ilmuwan (ulama), maka kita bisa menyikapi kondisi ini dengan mengambil sikap pertengahan, yaitu menggabungkan makna tekstual dan kontekstual kekinian yang disesuaikan kondisi sekarang dalam menanggapi masalah yang berkaitan dengan penggambaran kenikmatan surga.  Hakikat surga sebenarnya adalah keadaan; suatu keadaan  yang sangat menyenangkan, suatu kenikamatan tiada tara, tiada banding dan tak akan pernah terbayangkan. Dalam hukum kausalitas, setiap perbuatan memiliki balasannya, ada sebab pasti ada akibatnya. Ketika manusia berbuat baik, mengikuti perintah Tuhan, maka balasan kebaikan akan didapatkan, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, sangat tidak pantas ketika kita melakukan kebaikan dengan mengharap balasan, karena jika benar surga adalah sebuah tempat yang diciptakan Allah, ia tidaklah semulia derajat manusia. Jadi, tidak pantas manusia yang dimuliakan Allah mengharap suatu tempat yang derajatnya jauh dibawahnya.

4. DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik [et al.], Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002).

Ahmad, Muhsin, Konsep Jannah (Surga) dalam Al-Qur’an, http://www.scribd.com/doc/15745816/KONSEP-SURGA? Autodown=docx , diakses pada tanggal 27 Desember 2009.

Al-Bāqi, Muhammad Fu’ad ‘Abdu, al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfādz al-Qur’ān al-Karīm, (Bairūt: Dār al-Fikr), hlm. 228 – 232.

Digital, Al-Qur’an, versi 2.0, 2004.

http://id.wikipedia.org/wiki/Akhirat, diakses pada tanggal 30 Desember 2009.

http://id.wikipedia.org/wiki/Eskatologi, diakses pada tanggal 28 Desember 2009.

http://id.wikipedia.org/wiki/Surga, diakses pada tanggal 28 Desember 2009.

Jazuli, Ahzami Sami’un, Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2006).

Munawwir, Ahmad Warson, Kamus Almunawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002).

Rozak, Abdul, Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia, 2007).

Shihab, M. Quraish, 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, (Jakarta: Lentera Hati, 2008).

Shihab, M. Quraish, Mukjizat al-Qur’an Ditinjau Dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib, (Bandung:Mizan).

Tim Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru, (Jakarta: Pustaka Phoenix, 2007).


[1]Prof. Dr. Taufik Abdullah [et al.], Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 210.

[2] Abdul Rozak, Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hlm 67-69.

[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Eskatologi, diakses pada tanggal 28 Desember 2009.

[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Akhirat, diakses pada tanggal 30 Desember 2009.

[5] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Almunawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002), hlm. 215-216.

[6] Ahzami Sami’un Jazuli, Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2006), hlm. 160.

[7] Ahmad Warson Munawwir, Op. Cit., hlm. 216.

[8] Muhsin Ahmad, Konsep Jannah (Surga) dalam Al-Qur’an, http://www.scribd.com/doc/ 15745816/KONSEP-SURGA?autodown=docx, diakses pada tanggal 27 Desember 2009.

[9] http://id.wikipedia.org/wiki/Surga, diakses pada tanggal 28 Desember 2009.

[10] Muhammad Fu’ad ‘Abdu al-Bāqi, al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfādz al-Qur’ān al-Karīm, (Bairūt: Dār al-Fikr), hlm. 228 – 232.

[11] Muhsin Ahmad, Op. Cit,, diakses pada tanggal 27 Desember 2009.

[12] Muhsin Ahmad, Op. Cit., diakses pada tanggal 27 Desember 2009.

[13] Lihat Q.S. Ar-Ruum: 21

[14] Lihat Q.S. Ar-Rahman: 17, 19, 20, 22, 24.

[15] Lihat Q.S. Al-Baqarah: 57

[16] Lihat Q.S. At-Taubah: 9

[17] Lihat Q.S. Ali Imran: 134, Al-Baqarah: 153, Huud: 115

[18] Lihat Q.S. Ar-Ra’d: 28

[19] Lihat Q.S. Al-Baqarah: 152, 172

[20] M. Quraish Shihab, 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 168.

[21] Ahzami Sami’un Jazuli, Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2006), hlm. 160.

[22] Al-Qurthubi, Tafsir Al-Jaami’ li Ahkaami Al-Qur’an, www.altafseer.com, diakses pada tanggal 12 Januari 2010.

[23] Asy-Sya’rawi, تفسير خواطر محمد متولي الشعراوي, www.altafseer.com, diakses pada tanggal 12 Januari 2010.

[24] Al-Razi, Tafsiir Mafaatiihu Al-Ghaaib, Al-Tafsiir Al-Kabiir, www.altafseer.com, dikses pada tanggal 12 Januari 2010.

[25] Asy-Sya’rawi, Op. Cit.,  www.altafseer.com, diakses pada tanggal 12 Januari 2010.

[26] Tim Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru, (Jakarta: Pustaka Phoenix, 2007).

[27] M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an Ditinjau Dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib, (Bandung:Mizan), hlm. 103-104.

[28] Muhsin Ahmad, Op. Cit., diakses pada tanggal 27 Desember 2009.

[29] Al-Qurthubi, Op. Cit., diakses pada tanggal 12 Januari 2010.

[30] Ahzami Sami’un Jazuli, Op. Cit., hlm. 164. (Lihat tafsir Ibnu Katsir)

[31] Muhsin Ahmad, Op. Cit., diakses pada tanggal 27 Desember 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: