Musik dalam Perspektif Al-Qur’an

Musik dalam Perspektif Al-Qur’an

Oleh: Nur Hikmah Dewi Novyanti

Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta

1. Pendahuluan

Akal manusia bukanlah satu-satunya potensi absolute yang mampu memecahkan segala persoalan hidupnya. Manusia di samping dibekali pikir, juga diberi “rasa” dan “nafsu”. Kemampuan pikir akan berkurang atau bisa hilang, apabila rasa dan nafsu tidak sejalan dengan pikir. Ketidakserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan (pikir, rasa, nafsu) dapat mengguncang kehidupan. Di sini unsur seni sangat mempengaruhi  keserasian fungsi kejiwaan, karena seni  merupakan manifestasi dari budaya (pikiran, perasaan, kemauan, dan karsa) manusia yang mempunyai syarat-syarat estetik.

Ma’aazif adalah jamak dari mi’zafah, dan mengacu pada alat-alat musik (Fath al-Baari, 10/55), instrumen yang dimainkan (al-Majmu ‘, 11/577). Al-Qurthubi rohimahulloh diriwayatkan dari al-Jawhari rohimahulloh yang berarti ma’aazif adalah bernyanyi. Dalam Sihaah mengatakan bahwa hal itu berarti alat musik. Itu juga mengatakan bahwa hal itu mengacu pada instrumen suara. Dalam al-Hawaashi oleh al-Dimyaati rohimahulloh ia mengatakan: ma’aazif berarti drum (dufoof, menyanyi. Daff) dan instrumen lainnya yang memukul atau dipukul (Fath al-Baari, 10/55).

Lagu dan musik setiap hari diperdengarkan, dimainkan, dan disenandungkan oleh hampir setiap orang. Mulai dari anak-anak (balita) sampai kakek-kakek dan nenek-nenek (para manula). Bukan hanya mereka, para kyai, ustadz, and da’I pun ada yang ikut andil asyik bernyanyi. Bahkan ada diantara mereka yang berda’wah dengan perantara lagu dan musik. Sehingga ini yang membuat saya tertarik mengambil judul “Musik dalam Perspektif Al-Qur’an”.

Memang seni tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kesenian seperti di atas, yang merupakan manifestasi dari pikir, rasa, karsa dan karya yang bersifat estetik merupakan bagian dari kehidupan manusia atau fitrah manusia. Ia hidup dan berkembang. Islam pada dasarnya membenarkan adanya seni dengan berbagai cabangnya, sepanjang tidak melalaikan Allah dan tidak menimbulkan kemunkaran.

2. Pembahasan

Secara teoritis islam memang tidak mengajarkan seni dan estetika (keindahan), namun tidaklah berarti islam anti seni. Ungkapan bahwa Allah adalah jamil (indah) dan mencintai jamal (keindahan) serta penyebutan Allah pada diriNya sebagai badi’us-smawat wal ardl, merupakan penegasan bahwa islam pun menghendaki kehidupan ini indah dan tidak lepas dari seni. Arti badi’ adalah pencipta pertama dan berkonotasi indah. Berarti Allah mencipta langit dan bumi dengan keindahan.

Seni hadrah/rodat (terbangan, jawa) yang merupakan sunnah Rasul yang dianjurkan pada saat menyambut datangnya kegembiraan seperti walimah pengantin, juga merupakan petunjuk bahwa, islam mengenal seni dan budaya, bahkan berperadaban tinggi. Banyak kalimat-kalimat seperti zinah (hiasan) di dalam Al-Qur’an yang secara implicit mengandung unsur seni dan keindahan. Zinah yang berarti hiasan, tentu saja mengandung nilai seni.

Seni dengan alat bahasa atau seni sastra yang dikandung Al-Qur’an kiranya cukup jelas dapat dipelajari dari ilmu badi’/balaghah dan ilmu ‘arudl. Bahasa Al-Qur’an disamping analitik juga utamanya sebagai bahasa estetik. Pengaruh sastra islam ini meluas pada bahasa-bahasa lain yang dipakai umat islam.

Pandangan AL-Qur’an terhdap musik :

Firman Allah SWT dalam QS: Luqman : 6-7

Artinya :

“Dan diantara manusia (ada) orang-orang yang mempergunkan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, dia berpaling dan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya; dan bergembirakanlah dia dengan azab yang pedih.”

Kalimat lahwal hadiits (percakapan kosong) dalam ayat ditafsirkan oleh para ulama tafsir dengan Nyanyian.

a. Dari Abu Shahba’ al-Bakri rahimahullah bahwa-sanya ia mendengar ‘Abdullah bin Mas’ud ditanya tentang tafsir dari ayat ini, beliau mengatakan :
”Lahwal hadiiits” (percakapan kosong) adalah Nyanyian. Demi dzat tiada ilah selain Dia”. Beliau mengulang perkataannya tiga kali.[1]

b. Ibnu ‘Abbas (wafat th. 68 H) juga menafsirkan lahwal hadiits dengan Nyanyian dan yang sejenisnya.

c. Imam al-wahidi (wafat th.468 H) berkata ayat ini, menurut tafsir ini (yakni tafsir para sahabat) menunjukkan tentang haramnya Nyanyian. [2]

d. Para ‘ulama dari ummat, Ibnu ‘Abbas rodhiallohu’anhu berkata: ini berarti bernyanyi. Mujaahid rohimahulloh berkata: ini berarti memainkan drum (tabl). (Tafsir at-Thabari, 21/40).

e. Al-Hasan al-Basri rohimahulloh berkata: ayat ini diturunkan mengenai nyanyian dan alat musik (lit. woodwind instrumen/alat2 tiup). (Tafsir Ibnu Katsir, 3 / 451).

f. Al-Sa’di rohimahulloh berkata: ini termasuk semua cara haram berbicara, semua omong kosong dan kepalsuan, dan semua omong kosong yang mendorong kekufuran dan ketidaktaatan; kata-kata dari orang-orang yang mengatakan hal-hal untuk menyangkal kebenaran dan berdebat dalam mendukung kepalsuan untuk mengalahkan kebenaran; dan pengkhianatan, umpatan, kebohongan, penghinaan dan kutuk; nyanyian dan alat musik dari setan, dan alat-alat musik yang tidak ada keuntungan duniawi atau ukhrawi. (Tafsir al-Sa’di, 6 / 150)

Allah berfirman yang artinya:


“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahan waktu-waktumu yang sangat berharga dan melakukan kesenangan (menyanyi)?”
[Al-Najm 53:59-61].

Para ulama menafsirkan :

‘Ikrimah rohimahulloh mengatakan: itu diriwayatkan dari Ibnu’ Abbas bahwa al-sumud [kata benda verbal dari saamidun, diterjemahkan di sini sebagai “Sedang melengahkan waktu-waktumu yang sangat berharga dan kesenangan (menyanyi)”] berarti ” bernyanyi “, dalam dialek Himyar; itu mungkin dikatakan” Ismidi lanaa “[ ‘menyanyi untuk kita’ – dari akar yang sama sebagai saamidun / sumud] yang berarti” ghaniy “[bernyanyi]. Dan ia berkata rohimahulloh: Ketika mereka [orang-orang kafir] mendengar Al-Qur’an, mereka akan bernyanyi, maka ayat ini diturunkan.

Ibnu Katsir rohimahulloh berkata: Allah berkata artinya) “Sedang kamu melengahan waktu-waktumu yang sangat berharga dan melakukan kesenangan (menyanyi)?” – Sufyan al-Tsawri berkata, menceritakan dari ayahnya dari Ibnu ‘Abbas : (ini berarti) bernyanyi. Ini Yaman (dialek): berarti Ghan ismad lana lana [menyanyi untuk kami]. Ini juga pandangan ‘Ikrimah. (Tafsir Ibnu Katsir).


Dilaporkan dari Abu Umaamah rodhiallohu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu’alayhi wassalam berkata: “Janganlah menjual budak perempuan penyanyi, jangan membeli mereka dan jangan mengajari mereka.Tidak ada kebaikan dalam perdagangan ini, dan harganya adalah haram.” Mengenai hal-hal seperti ini sebuah ayat diturunkan (artinya): “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna/Omong kosong (yaitu musik, menyanyi) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” [Luqmaan 31:6] (Hadits Hasan)


Rasulullah shalallahu’alayhi wassalam berkata: “Di antara ummatku pasti akan ada orang-orang yang menghalalkan zinaa, sutra, khomrdan alat-alat musik.” (HR. Al-Bukhari ta’liqan, no. 5.590; diriwayatkan sebagai mawsul oleh al-AthThabarani dan al-Baihaqi. Lihat al-Silsilah al-Shahihah oleh Al-Albani, 91).


Ibn al-Qayyim rohimahulloh berkata: Ini adalah hadits shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, di mana ia dikutip sebagai bukti dan menyatakan bahwa adalah mu’allaq dan majzum. Ia berkata: Bab pada apa yang diriwayatkan tentang orang-orang yang menghalalkan khomr dan menyebutnya dengan nama lain.

Hadits ini menunjukkan ada dua jalan/maksud yaitu alat-alat musik dan kenikmatan mendengarkan musik adalah haram. Yang pertama adalah fakta bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berkata: “[mereka] menghalalkan” yang secara jelas menunjukkan bahwa hal-hal yang disebutkan, termasuk alat-alat musik, adalah haram menurut syariat, tapi orang-orang akan mengalalkannya. Yang kedua adalah kenyataan bahwa alat-alat musik disebutkan di samping hal-hal yang jelas diketahui haram, yaitu, zinaa dan khomr: jika mereka menganggap (instrumen musik) tidak haram, kenapa mereka disebutkan di samping hal-hal ini? (diadaptasi dari al-Silsilah al-Shahihah oleh Al-Albani, 1/140-141)

Syaikh al-Islam (Ibnu Taimiyyah) rohimahulloh berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa ma’aazif adalah haram, dan ma’aazif berarti instrumen musik menurut para ulama bahasa (Arab). Kata ini mencakup semua instrumen tersebut. (al-Majmu ‘, 11/535).

Ibn al-Qayyim rohimahulloh berkata: Dan mengenai topik yang sama komentar serupa yang diriwayatkan dari Sahal bin Saad al-Saa’idi, ‘Imran bin Husain,’ Abdullah bin ‘Amr,’ Abd -Allah ibn ‘Abbas, Abu Hurairah, Abu Umaamah al-Baahili,’ Aisyah Ummul Mukminin, ‘Ali bin Abi Taalib, Anas ibn Maalik,’ Abd al-Rahman bin Saabit dan al-Ghaazi bin Rabi’ah. Lalu ia menyebutkannya dalam Ighaathat al-Lahfaan, dan ini menunjukkan bahwa mereka (alat musik) adalah haram.

Diriwayatkan bahwa Naafi’ rohimahulloh berkata: Ibnu Umar mendengaralat tiup, dan ia meletakkan jari-jarinya di telinganya dan terus menjauh dari jalan. Dia berkata kepada aku, ya Naafi’, bisakah kau mendengar sesuatu? Saya berkata, Tidak, sehingga ia melepaskan jarinya dari telinganya dan berkata: Aku bersama Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan ia mendengar sesuatu seperti ini, dan ia melakukan hal yang sama. (Shahih Abi Dawud). Beberapa orang tidak penting mengatakan bahwa hadits ini tidak membuktikan bahwa alat musik adalah haram, karena jika yang demikian, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam akan memerintahkan Ibnu Umar rodhiallohu’anhuma untuk memasukkan jari-jarinya di telinganya juga, dan Ibnu Umar akan menginstruksikan Naafi’ untuk melakukan hal yang sama! Tanggapan untuk ini adalah: Dia tidak mendengarkan, tetapi ia bisa mendengarnya. Ada perbedaan antara mendengarkan dan mendengar. Syaikh al-Islam (Ibnu Taimiyyah) rohimahulloh berkata: Mengenai (musik) yang seseorang tidak bermaksud untuk mendengarkan, tidak ada larangan atau menyalahkan, menurut ijma’/konsensus ilmiah. Oleh karena itu menyalahkan atau memuji dihubungkan dengan mendengarkan, bukan untuk mendengar (tidak sengaja). Orang yang mendengarkan al-Quran akan diberi imbalan untuk itu, sedangkan orang yang mendengar itu tanpa bermaksud atau ingin tidak akan diberi imbalan untuk itu, karena tindakan/amalan yang akan dinilai dari niatnya. Hal yang sama berlaku untuk alat-alat musik yang dilarang: jika seseorang mendengar mereka tanpa sengaja, itu tidak masalah. (al-Majmu ‘, 10/78).

Ibnu Qudamah al-Maqdisi rohimahulloh berkata: si pendengar adalah orang yang bermaksud untuk mendengar, yang demikian berbeda dengan kasusnya Ibnu Umar rodhiallohu’anhuma; apa yang terjadi dalam kasus mendengar. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam membutuhkan untuk mengetahui kapan suara (musik) itu berhenti karena beliau sudah pindah dari jalan itu dan menutupi telinganya. Jadi, beliau tidak mau kembali ke jalan itu atau membuka telinganya hingga kebisingan itu berhenti, maka ketika beliau membolehkan Ibnu Umar untuk melanjutkan mendengar, ini adalah karena kebutuhan. (Al-Mughni, 10/173)

Kenyataan kondisi sasaran da’wah yang serig kita lihat, menuntut juru da’wah memberikan alternative materi yang menyentuh kebutuhan mereka. Ini artinya, metode dan media da’wah juga diharapkan sesuai dengan situasi tersebut. Juru da’wah harus menguasai substansi da’wah disamping menguasai metode dan media da’wah, melalui lisan/suara (bi al-lisan) dengan jari tangan (bi al-banan) seperti tulisan, lukisan, gambar dan alat visual lainnya, ataukah dengan organ tubuh yang lain (bi al-arkan) seperti sikap, perilaku dan perbuatan nyata (da’wah bil hal).

Yang perlu diperhatikan dalam menentukan strategi dan taktik da’wah adalah mencoba melihat system budaya lokalnya. Pengembangan da’wah seringkali lebih mampu dicapai melalui pendekatan cultural, ketimbang pendekatan formal structural yang hanya dapat dilakukan pada bagian kecil dari ajaran formal yang berwatak legalistic. Sebagai contoh bisa diambil bagaimana da’wah islamiyah yang dilakukan dalam kultur jawa.

Faktor-faktor yang perlu dicermati dari musik :

1. lirik/lagu (tidak melenakan, tidak mengandung kata-kata cabul)

2. alat musik yang digunakan.

3. cara penampilan.

4. akibat yang ditimbulkan

5. tasyabuh (penyerupaan dengam orang kafir)

6. orang yang menyanyikan

3. Kesimpulan
Memang seni tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kesenian seperti di atas, yang merupakan manifestasi dari pikir, rasa, karsa dan karya yang bersifat estetik merupakan bagian dari kehidupan manusia atau fitrah manusia. Ia hidup dan berkembang. Islam pada dasarnya membenarkan adanya seni dengan berbagai cabangnya, sepanjang tidak melalaikan Allah dan tidak menimbulkan kemunkaran.


[1] Lihat tafsir ath-thabari (X/353, no. 21417), al-hakim (II/411), al-baihaqi dalam sunannya (X/223) dan ibnul jauzi dalam Talbiis ibliis (halm.237)

[2] Lihat ighatsatul lahfaan (I/431) dan mawaaridul amaan (halm.312).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: