Nikmat Dalam Perspektif Al-Qur’an

Nikmat Dalam Perspektif Al-Qur’an

Oleh: Ria Rohimah

Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta

1. PENDAHULUAN

Nikmat bisa berubah menjadi azab dan bencana, kemenangan bisa berubah menjadi kekalahan, kegembiraan bisa berubah menjadi kesedihan apabila kita mengundang murka Allah. Oleh sebab itu, bila diberi kesehatan, kepandaian/ ilmu, kemudahan, kelapangan, maka kita harus mensyukuri dan mengamalkannya, jangan berbuat sesuatu yang mengundang murka Allah yang akan mengakibatkan nikmat yang kita peroleh berubah menjadi azab atau bencana.

Biasanya sikap melupakan nikmat muncul dari perbedaan dengan yang lain misalnya melihat orang lain sukses sedangkan kita tidak sukses, hal tersebut yang menghilangkan nikmat yang diterima seolah-olah tidak ada. Padahal jika kita menyadari bahwasanya masih ada nikmat-nikmat yang lainnya pada diri kita walau itu berbeda sifat dan bentuknya.

Allah berfirman dalam surat An-Nahl: 3 yang artinya “dan tidak ada kenikmatan yang ada pada kalian kecuali datangnya dari Allah” ini adalah dalil yang tegas dan jelas dikatakan bahwa nikmat apa saja beik yang besar maupun kecil, yang banyak maupun yang sedikit, itu semua datangnya dari Allah.

Untuk itu saya tertarik untuk mengkaji masalah nikmat dalam perspektif Al-Quran. Kerena masih banyak nikmat yang harus kita ketahui dalam Al-Quran. Agar kita semua dapat menyadari betapa banyak nikmat yang Allah berikan.

2. PEMBAHASAN

A. Definisi NIkmat

Nikmat secara etimologis berasal dari bahasa arab yang berarti segala kebaikan, keenakan, dan semua rasa kebahagiaan. Sesuatu yang bermanfaat di dunia dan akhirat seperti ilmu dan akhlak mulia.

B. Kufur Nikmat

Banyak orang tergelincir pada kekufuran, persoalannya bukan terletak pada dia kaya atau miskin.Di manapun dan kondisi apapun manusia berada,bila ia tidak ingat Allah maka dia sudah dikategorikan kufur alias lupa diri.

Kata pengangguran punya pekerjaan adalah nikmat betul dan karunia Allah. Tapi sebagian orang yang punya pekerjaan dan usaha justru melupakan Allah. Kesibukannya bekerja dan mengembangkan usaha membuat sulit sekali untuk sholat, sekalinya sholat dia berdiri dengan malas.Seolah-olah shalat jadi mengurangi jatah waktu untuk berbisnis. Jadilah Allah, urutan yang nomor sekian,Tuhan yang terlupakan..

Ini baru dari kacamata sholat…belum lagi kacamata hasil..
Maksudnya bila ditilik kembali Allahlah yang menjadikan kita bisa bekerja dan berusaha. Tapi setelah pekerjaan dan usaha kita menghasilkan, apa yang terjadi?
Allah menjadi tidak penting untuk dibagi hasil..

Setelah gajian, yang kita cari adalah kesenangan sendiri, keperluan sendiri. Jarang kita memerlukan untuk membagi dengan Allah yaitu dengan membagikan pada anak yatim, fakir miskin dan orang-orang yang Allah minta untuk diperhatikan. Bioskop, dunia hiburan, barang-barang yang kurang perlu..menjadi fokus terbesar, ketika ada uang hasil kerja & usaha. Bukan justru berusaha menyeimbangkan pengeluaran dan sedekah.

Marahkah Allah? Tidak..
Hanya saja ketika kita berlaku demikian,perlindungan Allah tidak kita dapatkan. Padahal dunia ini selalu berisi ketidakpastian dan perubahan. Kalaulah Allah sudah tidak mau memperhatikan,tidak mau melindungi, akan jadi apakah kita?

“ Katakanlah jika bapak-bapakmu,anak-anakmu,saudara-saudaramu,istrimu,keluargamu, harta kekayaan yang kamu peroleh, perniagaan yang kamu khawatir merugi,dan tempat tinggal yang kamu sukai, yang semua itu lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya, dan dari berjuang di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak akan menunjuki kaum yang fasik.”
(At-Taubah : 24)

Sebenarnya, kita..bukanlah anak kecil lagi.. yang perlu diancam oleh gambaran neraka.. supaya mau taat.Tapi nyatanya kelebihan akal orang dewasa, justru sering mengabaikan, mensiasati setiap perintah & laranganNya. Mudah-mudahan kita semua bukan orang-orang yang termasuk kufur nikmat..

C. Nikmat Dalam Al-Quran

Ada banyak ayat yang menerangkan tentang berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat manusia dalam Al-Quran. Namun saya hanya mengambil beberapa ayat saja untuk dijadikan contoh.

Seperti ayat berikut yang menjelaskan tentang nikmat Allah berupa perlindungan dari Allah:

$pkš‰r¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#rãä.øŒ$# |MyJ÷èÏR «!$# öNà6ø‹n=tæ øŒÎ) §Nyd îPöqs% br& (#þqäÜÝ¡ö6tƒ öNä3øŠs9Î) óOßgtƒÏ‰÷ƒr& £#s3sù óOßgtƒÏ‰÷ƒr& öNà6Ztã ( (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ’n?tãur «!$# È@©.uqtGuŠù=sù šcqãYÏB÷sßJø9$# ÇÊÊÈ

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), Maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.”[1]

Dapat saya pahami bahwa maksud nikmat dari ayat diatas ialah, Allah telah memberi nikmat kepada orang-orang beriman berupa perlindungan dari tangan orang-orang yang hendak berbuat jahat kepada kita. Maka Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertawakkal kepada-Nya agar ditambah kenikmatan yang lain.

Untuk tafsir yang lain “(hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika suatu kaum bermaksud) yakni orang-orang Quraisy (hendak memanjangkan tangan mereka kepadamu) dan dilindungi-Nya kamu dari maksud jahat mereka itu (dan bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kepada Allah orang-orang mukmin itu bertawakal)” [2]

Asbabun nuzulnya yaitu dari suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi saw. Keluar beserta Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, dan Abdurrahman bin Auf menuju ka’b bin al-Asyraf dan Yahudi Banin Nadlir untuk meminjam uang sebagai pembayar diat (denda) yang harus dibayarnya. Orang Yahudi berkata: “silahkan duduk, kami akan menyajikan makanan dan memberikan apa yang tuan perlukan.” Kemudian Rasulullah saw. duduk. Hayy bin Akhthab berkata kepada kawannya (tanpa setahu Nabi saw.): “kalian tidak akan dapat melihat dia lebih dekat daripada sekarang. Timpakan batu ke kepalanya dan bunuhlah dia. Kalian nanti tidak akan menghadapi kesulitan lagi.” Mereka mengangkat batu penggiling gandum yang sangat besar untuk ditimpakan kepada Rasul. Akan tetapi Allah Menahan tangan mereka, lalu datanglah Jibril memberitahu agar Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Maka Allah Menurunkan Ayat ini (Q.S. 5 al-maidah:11) sebagai perintah untuk mensyukuru nikmat. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah dan Yazid bin Abi Ziad. Lafal Hadits ini bersumber dari Yazid. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abdullah bin Abi Bakr, Ashim bin Umar bin Qatadah, Mujahid, Abdullah bin katsir, dan Abu Malik.[3]

Dalam ayat lain tentang kenikmatan syurga:

öqs9ur ¨br& Ÿ@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# (#qãYtB#uä (#öqs)¨?$#ur $tRö¤ÿx6s9 öNåk÷]tã öNÍkÌE$t«ÍhŠy™ óOßg»oYù=s{÷ŠV{ur ÏM»¨Yy_ ÉOŠÏè¨Z9$#

“dan Sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan.”[4]

“(dan sekiranya Ahli Kitab itu beriman) kepada Nabi Muhammad saw (dan bertakwa) artinya menjaga diri dari kekafiran(pastilah Kami hapus dari mereka kesalahan mereka dan Kami masukkan mereka ke dalam Surga-Surga kenikmatan)”[5]

Adalah kenikmatan yang hakiki apabila kita dapat merasakan kenikmatan syurga. Kita tahu bahwa syurga adalah tempat yang diinginkan setiap manusia. Dan untuk meraihnya Allah telah memberikan syarat kepada kita berupa ketakwaan kepada-Nya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam ayat ini tentang nikmat rezeki:

y7Í´¯»s9ré& ãNèd tbqãZÏB÷sßJø9$# $y)ym 4 öNçl°; ìM»y_u‘yŠ y‰YÏã óOÎgÎn/u‘ ×otÏÿøótBur ×ø—Í‘ur ÒOƒÌŸ2 ÇÍÈ

“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”[6]

Dapat saya pahami bahwa ayat diatas menjelaskan balasan Allah untuk orang-orang yang beriman dengan memberikan beberapa derajat ketinggian di sisi-Nya, ampunan dan rezeki yang halal. Itu benar-benar nikmat yang banyak dari Allah untuk orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hat mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambhalah iman mereka, dan hanya pada Allah mereka bertakwa.

“(itulah) orang-orang yang berciri khas seperti tadi (mereka orang-orang yang beriman dengan sabenar-benarnya) yang tidak diragukan lagi keimanannya. (mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian) kedudukan-kedudukan di surga (disisi tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia) di surga.”[7]

Dalam ayat ini:

ª!$#ur Ÿ@yèy_ Nä3s9 ô`ÏiB ö/ä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& Ÿ@yèy_ur Nä3s9 ô`ÏiB Nà6Å_ºurø—r& tûüÏZt/ Zoy‰xÿymur Nä3s%y—u‘ur z`ÏiB ÏM»t6Íh‹©Ü9$# 4 È@ÏÜ»t6ø9$$Î6sùr& tbqãZÏB÷sムÏMyJ÷èÏZÎ/ur «!$# öNèd tbrãàÿõ3tƒ ÇÐËÈ

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka Mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”[8]

“(Allah menjadikan bagi kalian istri-istri dan jenis kalian sendiri) maka Allah menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuk Nabi Adam dan semua manusia lainnya dari mani kaum laki-laki dan wanita (dan menjadikan bagi kalian dari istri-istri kalian itu, anak-anak dan cucu-cucu) keturunan dari anak-anaknya (dan memberi kalian rezeki dari yang baik-baik) berupa berbagai macam buah-buahan, biji-bijian dan hewan-hewan tenak (maka mengapa kepada yang batil) kepada berhala (mereka beriman dan mengapa mereka ingkar terhadap nikmat Allah) dengan menyekutukan-Nya.”[9]

“ kemudian daripada itu Allah SWT menjelaskan nikmat Allah yang lain dari nikmat-nikmat yang telah diterima oleh hamba-Nya, agar manusia dapat memperhatikan keluasan nikmat-Nya. Allah SWT telah menciptakan istri-istri untuk mereka dari jenis mereka pula, dengan adanya isteri-isteri itu manusia dapat bekerja sama dalam membina kemaslahatan bersama dan mengurus kehidupan bersama. Dan istri-istri itu pula Allah memberikan keturunan sebagai biji mata dan kesayangan yang dapat membahagiakan kehidupan mereka di dunia dan menjadi kebanggaan sebagai pelanjut keturunan. Kemudian Allah menjelaskan pula bahwa Dialah yang telah memberikan rezeki kepada mereka dari jenis makanan dan minuman yang lezat-lezat, pakaian yang dapat melindungi kulit dari udara dingin dan tempat yang dapat melindungi dari teriknya mathari dan tirisnya hujan.”[10]

Dan ayat terakhir yang saya ambil dari Al-Quran:

ª!$#ur Ÿ@yèy_ /ä3s9 $£JÏiB šYn=y{ Wx»n=Ïß Ÿ@yèy_ur /ä3s9 z`ÏiB ÉA$t6Éfø9$# $YY»oYò2r& Ÿ@yèy_ur öNä3s9 Ÿ@‹Î/ºuŽ| ãNà6‹É)s? §ysø9$# Ÿ@‹Î/ºty™ur Oä3ŠÉ)s? öNà6y™ùt/ 4 y7Ï9ºx‹x. OÏFム¼çmtGyJ÷èÏR öNà6ø‹n=tæ öNä3ª=yès9 šcqßJÎ=ó¡è@ ÇÑÊÈ

dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).”[11]

“ (dan Allah menjadikan bagi kalian dari apa yang telah Dia ciptakan) seperti rumah-rumah, pohon-pohon dan mendung (sebagai tempat bernaung) lafal Zhilaalan adalah bentuk jamak lafal Zhillun yang dapat melindungi diri kalian dari sengatan panas matahari (dan Dia dijadikan bagi kalian tempat-tempat tinggal digunung-gunung) lafal aknaanan adalah bentuk jamak dari lafal kinnun, yang artinya tempat untuk tinggal seperti gua dan liang besar (dan Dia jadikan bagi kalian pakaian) dan dari dingin (dan pakaian/ baju besi yang memelihara kalian dalam peperangan) sewaktu kalian berperang yakni dari tusukan dan pukulan senjata di dalam peperangan, seperti baju dan topi besi. (demikianlah) sebagaimana Dia telah menciptakan semuanya itu (Allah menyempurnakan nikmat-Nya) di dunia (atas kalian) dengan menciptakan segala sesuatu yang menjadi keperluan kalian (agar kalian) hai penduduk Mekkah (masuk Islam) agar kalian mengesakan-Nya.”[12]

“kemudian dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan lagi nikmat karunia-Nya sebagaimana nikmat yang lalu disebutkan, yang memberikan rasa aman, damai dan tenteram. Kepada bangsa yang sudah menetap atau maju, Allah memberikan karunia tempat berteduh seperti rumah, hotel-hotel, gedung-gedung umumnya dibuat dari kayu, besi, batu dan lain-lain, yang diciptakan Allah.”[13]

Asbabun nuzulnya : Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika seorang Arab bertanya kepada Nabi saw. tentang Allah, beliau membacakan ayat, wallahu ja’ala lakum mim buyutikum sakana… (dan Allah Menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal….) (Q.S 16 an-nahl: 80). Orang itupun mengiyakannya. Kemudian Nabi saw. membaca kelanjutan ayat tersebut,…..wa ja’ala lakum min juludil an’ami buyutan tastakhiffunaha yauma zha’nikum wa yauma iqamatikum… (…dan Dia Menjadikan bagi kamu rumah-rumah [kemah-kemah] dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan [membawa] nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim….) (Q.S 16 .an-nahl: 80). Orang itupun mengiyakannya. Kemudian Rasulullah membaca lagi kelanjutan ayat tersebut, dan orang itupun mengiyakannya. Namun ketika Rasulullah sampai pada ayat,….. kadzalika yutimmu ni’matahu ;alaikum la’allakum tuslimun (…..demikianlah Allah Menyempurnakan Nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri [kepada-Nya] (Q.S 16 an-nahl : 81), orang itu berpaling dan tidak mau masuk Islam. Maka turunlah ayat selanjutnya (Q.S 16 an-nahl:83) yang menegaskan bahwa walaupun orang-orang athu akan Nikmat yang Diberikan Allah, tapi kebanyakan mereka tetap kafir. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid.[14]

D. Cara Menyikapi Nikmat

Yang jelas, syukur adalah sebuah istilah yang digunakan pada pengakuan/ pengetahuan akan sebuah nikmat. Karena mengetahui nikmat merupakan jalan untuk mengetahui Dzat yang memberi nikmat. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan Islam dan iman di dalam Al-Qur`an dengan syukur. Dari sini diketahui bahwa mengetahui sebuah nikmat merupakan rukun dari rukun-rukun syukur. (Madarijus Salikin, 2/247)

Apabila seorang hamba mengetahui sebuah nikmat maka dia akan mengetahui yang memberi nikmat. Ketika seseorang mengetahui yang memberi nikmat tentu dia akan mencintai-Nya dan terdorong untuk bersungguh-sungguh mensyukuri nikmat-Nya. (Madarijus Salikin, 2/247, secara ringkas)

Syukur Tidak Sempurna Melainkan dengan Mengetahui Apa yang Dicintai Allah l
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Ketahuilah bahwa syukur dan tidak kufur tidak akan sempurna melainkan dengan mengetahui segala apa yang dicintai oleh Allah l. Sebab makna syukur adalah mempergunakan segala karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada apa yang dicintai-Nya, dan kufur nikmat adalah sebaliknya. Bisa juga dengan tidak memanfaatkan nikmat tersebut atau mempergunakannya pada apa yang dimurkai-Nya.”

Adapun cara menyikapi nikmat yaitu:

  1. Mengakui nikmat yang diberikan dengan penuh ketundukan.
  2. Memuji yang memberi nikmat atas nikmat yang diberikannya.
  3. Cinta hati kepada yang memberi nikmat dan (tunduknya) anggota badan dengan ketaatan serta lisan dengan cara memuji dan menyanjungnya.
  4. Menyaksikan kenikmatan dan menjaga (diri dari) keharaman.
  5. Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.
  6. Menyandarkan nikmat tersebut kepada pemberinya dengan ketenangan.
  7. Engkau melihat dirimu orang yang tidak pantas untuk mendapatkan nikmat.
  8. Mengikat nikmat yang ada dan mencari nikmat yang tidak ada.

3. KESIMPULAN

Subhanallah, setelah kita mengetahui kebenaran, kesempurnaan, serta keistimewaan nikmat Allah, tidak selayaknya kita melalaikan nikmat ini begitu saja. Hendaknya kita mensyukuri nikmat ini dengan sebenar-benarnya syukur, agar Allah tidak mencabut nikmat itu dari kita. Dari beberapa ayat yang saya ambil, dapat saya simpulkan bahwa semua nikmat yang Allah berikan harus didasari dengan keimanan dan tawakkal kepada Allah. Menjalani perintah serta menjauhi larangan-Nya. Allah saja bisa menambah nikmat kepada hamba-Nya, kenapa kita sebagai hamba-Nya tidak bisa menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: