JERUSALEM Simbol Pluralisme Agama

ABSTRAK

City of Jerusalem in the Middle East is an area of conflict which, until now a concern in the eyes of the world, especially in Muslim majority countries like Indonesia. Although the UN has been part of the equation to overcome this problem by offering a variety of resolutions for peace but apparently never-ending conflict. This occurs because the problem of conflict not only in the realm’s territory but has been concerned with the problem of ideology / belief that there are Jewish Zionists in Israel who think Jerusalem is a land of God’s legacy to his people. In fact other than the Jewish ideology, in Jerusalem there has also been faithful Christian and Islamic ideology that should be appreciated.

1. PENDAHULUAN

Semenjak kaum Yahudi mengkalim Jerusalem sebagai tanah warisan dari sejarah keagamaanya kota ini menjadi kota konflik yang di perhatiankan di mata dunia terutama umat Muslim dan Nasrani di dunia. Peperangan, aksi bunuh diri, pengeboman dan semua tindakan kekerasann yang terjadi di Jerusalem merupakan konflik yang perlu kita perhatikan bersama. Bukan dengan alasan kita adalah salah satu umat yang memperjuangkankan warisan ideology tertentu tapi karena kita semua adalah manusia yang sama memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi dimata manusia lain ataupun dimata hukum. Namun yang menjadi masalah ketika kita berbicara tentang hak dan kewajiban manusia yang seharusnya dipenuhi dimata hukum bagaimana jika hukum tersebut tiada dalam arti tiada kekuasaan negara atau pemerintah yang mengatur dan telah beralih kepada perbedaan pemahaman tentang teologis?, maka hak dan kewajiban seseorangpun akan menjadi beragam sesuai pemahaman teologisnya masing-masing.

Faktanya terdapat 3 keyakinan yang berkembang selama kota Jerusalem berada yaitu Yahudi, Kristen dan Muslim. Hal ini dibuktikan dengan adanya bukti sejarah seperti adanya kerajaan Yahudi yang didirikan oleh Raja Daud dan Kuil Sulaiman(Solomon Temple) yang dulunya merupakan kuil terbesar dan termegah bagi umat Yahudi. Lalu bagi umat Kristen Jerusalem merupakan tempat suci karena dianggap disanalah Yesus wafat dan dibangkitkan hingga muncul iman Kristen dan bagi umat Islam berdirinya Masjid Al-Aqsa yang menjadi tempat Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi kota suci ke tiga setelah Madinah dan Mekah.

Penulisan tentang sejarah, konflik dan  kebijakan tentang Jerusalem telah banyak ditulis oleh para penulis seperti Karen Armstrong dengan bukunya “Jerusalem,Satu Kota Tiga Iman” yang mendapat berbagai tanggapan positif dan negative dari berbagai pengamat buku lalu Trias Kuncahyono  seorang jurnalis/wartawan yang melakukan perjalananya ke Jerusalem pada tahun 2005 hingga menerbitkan buku yang berjudul “JERUSALEM, Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir” dan Adian Husaini yang menulis tentang “Pragmatisme dalam Politik Zionis Israel”. Dengan berbagai referensi yang mendukung penulisan ini tidak akan lagi membahas jauh tentang sejarah kota Jerusalem secara terperinci dan membahas tentang sejarah konflik-konflik yang telah terjadi secara mendetail. Tulisan ini akan difukoskan pada permasalahan sosiogeografis kota Jerusalem dan masyarakat Jerusalem yang akan dikaitkan dengan pendekatan sosiologis diharapkan penulisan ini dapat mengarah kepada Pluralisme Agama dapat diterima oleh para penganut kepercayaan di Jerusalem hingga masyarakat dapat hidup berdampingan dengan damai.

Membentuk sikap  Pluralisme keagamaan di Jerusalem ini menjadi penting untuk dibahas karena penulis melihat konflik yang berkepanjangan ini tidak akan bisa dihentiksn dengan hukum pemerintahan(duniawi) apabila hukum itu telah bertentangan dengan paham ideologis suatu agama. Namun, jika konflik ini akan berakhir apabila setiappenganut  kepercayaan yang ada mampu menyamakan pemahaman tentang nilai-nilai kemanusiaan yang ada di setiap ajaran agamanya.

2. PEMBAHASAN

Jerusalem dalam bahasa Ibrani adalah Yerushalayim, dalam bahasa Arab: أورشليم القدس Urshalim-Al-Quds atau hanya القدس Al-Quds saja merupakan  kota yang berada di Timur Tengah yang merupakan kota suci bagi agama Islam, Kristen dan Yahudi1. Hal ini sesuai dengan adanya simbol-simbol keagamaan  yang merupakan warisan suci bagi agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Untuk mengetahui lebih jelas sejarah tentang Jerusalem penulis akan meninjau Jerusalem melaui 2 aspek yaitu geografis dan aspek sosiologis.

2.1 SEJARAH KOTA YERUSALEM

a) Tinjauan Geografis

Kota yang sangat bersejarah Yerusalem adalah sebuah warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1981. Kota ini memiliki penduduk sebesar 724.000 jiwa dan luas 123 km2. Sepanjang sejarahnya, Yerusalem telah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan dikuasai/dikuasai ulang 44 kali2 . Penguasaan kota Jerusalem banyak di dominasi oleh kekuatan negara negara islam semenjak zaman kekhalifahan Islam. Kota ini menjadi sangat  penting karena keadaan geografisnya yang sangat strategis, di kelilingi oleh negara negara arab seperti Yordania, Lebanon, Syria, Arab Saudi dan Irak serta menjadi pusat  lintasan utama antara Benua Asia dan Afrika melalui Terusan Suez yang menghubungkan dengan negara Mesir menjadikan kota Jerusalem untuk diperhitungkan.

Sejarah membuktikan bahwa pada abad perunggu perkembangan kota justru terjadi disekitar pesisir pantai, lembah Yizreel yang subur dan Negev, dimana orang-orang mesir membangun depo-depo perdagangan. Kanaan(nama lain dari Jerusalem) adalah sebuah negeri yang kaya potensi; penduduknya banyak mengekspor anggur, minyak, madu, aspal dan biji-bijian. Kanaan juga memiliki nilai strategis, karena menghubungkan Asia dan Afrika dan menjadi jembatan antara Mesir, Syria, Phunisia, dan Mesopotamia. Dijelaskan oleh Karen Armstrong dengan bukunya “Jerusalem,Satu Kota Tiga Iman” bahwa peradaban kota-kota di dunia kuno sangatlah rentan dan mengundang perpecahan (sekitar 230 SM). Kanaan sudah mengalami jatuh bangun beberapa kali, setelah hancurnya kerajaan lama (sekitar 2613-2160 SM) pada millenium kedua, Kanaan dihuni kembali dan pada masa ini tidak diketahui dengan jelas mengenai kehidupan masyarakat di Kanaan, tidak ada pemerintahaan pusat di negeri tersebut, tiap kota merupakan wilayah otonom yang memiliki pemimpin sendiri dan mendominasi daerah pinggiran3.

Jerusalem merupakan daerah yang penuh dengan pegunungan. Salah satu gunung yang dianggap suci adalah Gunung Zion. Pengsakrallan pada gunung  terjadi karena pada masa dulu semua kota dianggap suci dan masyarakat mengasosiakan dewa-dewa dengan matahari, angin, atau hujan yang membawa kehidupan, hal ini karena masyarakat di dunia kuno merasakan unsur ilahi dalam dunia alam. Daerah pegunungan yang berbukit dianggap sebagai daerah yang paling sesuai untuk merepresentasikan kedekatan dengan dewa-dewa. Banyak penduduk yang sengaja mendaki pegunungan untuk merasakan sensasi kedekatan dengan dewa-dewa. Gunung Zaphon yang sekarang bernama Jebel Al-Aqra, Gunung Hermon, Karmel dan Tabol merupakan gunung-gunung yang terpenting bagi masyarakat  Kanaan. Berdasarkan Mazmur Ibrani (Hebrew in Old Testament), Gunung Zion yang terletak di sebelah utara Bukit Ophel di Jerusalem juga merupakan situs penting, karena disitulah dibangun Kuil besar Yahudi yang menutupi Gunung Zion tersebut yang dibangun oleh Raja Herodes diabad pertama SM4.

Namun, saat ini wilayah palestina terbagi menjadi dua negara tanpa batasan yang jelas yaitu negara Palestina dengan ibu kota Jerusalem dan negara Israel dengan ibu kota Tel Aviv. Negara Israel yang secara resmi diumumkan berdirinya oleh kaum zionis Israel pada 14 mei 1948 merupakan negara yang didirikan dengan tiga sumber utama, yaitu (1) klaim teologis yang berasal dari warisan Perjanjian Lama dari Kitab Injil, (2) Deklarasi Balfaour yang diumumkan Inggris Raya pada 1917, dan (3) pembagian Palestina menjadi negara Arab dan negara Yahudi direkomendasikan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 19475.

b) Tinjauan Sosiologis/Sosial Masyarakat

Masyarakat Israel (dalam Al-Qur’an disebut dengan Bani Israel pengikut Nabi Musa) dalam Bible disebutkan mereka berasal dari Mesopotamia (daratan yang menghubungkan antara Syria dan Irak) yang kemudian menetap di Kanaan dan 12 suku Israel pada sekitar 1750 SM bermigrasi ke Mesir karena paceklik. Diterangkan bahwa mereka hidup makmur di Mesir dan kemudian menjadi budak dan pada tahun 1250 oleh Fir’aun, dibawah kepemimpinan Musa, mereka melarikan diri keluar Mesir dan hidup nomaden di Semenanjung Sinai. Mereka menganggap hidup nomaden di Sinai bukanlah keputusan permanen, mereka yakin Yahwe (Tuhan mereka) telah menjanjikan Negeri Kanaan(Jerusalem) yang subur untuk mereka. Sayangnya, sebelum sampai ke Tanah yang Dijanjikan oleh Tuhan, Musa meninggal dan dibawah kepemimpinan penerusnya yaitu Yosua, kedua belas suku ini mengambil alih Kanaan dengan kekerasan (melalui pedang) atas nama Tuhan mereka dalam ajarannya sekitar tahun 1200 SM. Semua orang yang menghuni Negeri Kanaan dimusnahkan oleh mereka dan setiap suku diberi wilayahnya masing-masing, tetapi suku Yehuda dan Benyamin berada dalam satu kota. Penulis Bible menyebutkan bahwa putra-putra suku Yehuda tidak dapat menyingkirkan orang-orang Yebus dari wilayah Jerusalem dan mereka tetap hidup berdampingan sebagaimana secara damai seperti keadaan mereka saat ini. Akhirnya, karena di donimasi oleh kaum yahudi Jerusalem menjadi pusat Agama Israel/Yahudi6.

Namun pada saat Israel ada di bawah kekuasaan Romawi (Kerajaan Roma) kaum yahudi di Jerusalem dengan kekuasaan politiknya bersama romawi menindas kaum Ibrani. Kaum ibrani merupakan stata social paling rendah saat itu yaitu sebagai budak bagi kaum Yahudi. Namun keadaan sosial ini menjadi mesin pembangkit waktu itu oleh seorang anak muda bernama Yesus seorang tukang kayu dari strata terendah yang meyakini akan ajaran Kristennya sehingga membuat masyarakat di Jerusalem menjadi terpecah belah keyakinannya dengan iman Nasrani.   Yesus telah membuktikan kebenaran ini dalam menyuarakan kebenaran dari kaum tertindas, Injil mungkin cukup menjadi fakta sejarah  ketika menceritakan pola pergerakan yang dibangun oleh Yesus.

Satu sampel taktis yang dapat menjadi pelajaran, bahkan kontroversial ketika dinalar dengan logika, yaitu kala Yesus bersama ke-12 rasul melakukan pergerakan di tengah-tengah berjalannya kebaktian di mezbah Yerusalem. Ada berbagai fakta menarik yang justru kurang menjadi sorotan (terlepas dari Yesus menyucikan Bait Allah/Jerusalem). Coba kita perhatikan berbagai kondisi :

  1. Politik dan Pemerintahan di Yerusalem : Kala itu politik dikuasai oleh kaum Yahudi lewat keabsahan bentuk pemerintahan yang diakui oleh imam-imam Sinagoge saat itu. Dalam Injil dapat dilihat bagaimana imam-imam saat itu ternyata terlibat dalam upaya money-politics, bukan justru melakukan peningkatan harkat hidup orang banyak. Akhirnya secara sistemik kaum miskin menjadi kaum terjajah, tidak pernah mampu menentukan kebijakan secara sistemik. Persoalan ini disadari bahwa Yerusalem saat itu bermasalah dengan sistem demokratiknya.
  2. Ekonomi : Pajak yang tinggi yang ternyata bagi Imam-imam ternyata itu bukan masalah menyebabkan pemerintah menjadi semena-mena. Berbagai kasus terjadi seperti korupsi, bahkan untuk kepentingan Bait Allah. Pemahaman sempit tentang prinsip ekonomi kerakyatan terjadi, daerah kecil menjadi tidak independent dalam penentuan harga. Kesadaran rakyat akan prinsip dasar Oikos dan Nomos (kata dasar Ekonomi) adalah pengaturan yang adil antar berbagai pihak dalam sebuah komunitas. Masyarakat saat itu tak memiliki kemampuan untuk mendapatkan pendidikan yang serupa dan sama, timbul strata si miskin dan si kaya, dan berbagai hal lain.
  3. Sosial Budaya : Upaya pembodohan pada masyarakat Ibrani oleh kaum Yahudi menyebabkan terjadinya akulturasi budaya yang prematur. Kaum yang menyenangi penyiksaan, kaum yang menyenangi hukum rimba, kaum yang menyenangi peradilan rakyat, kaum yang tidak mengerti manfaat dan peran Hukum dalam mengelola negara dan komunitas. Akhirnya masyarakat kecil gampang dimabukkan dengan hiburan yang sementara. Saat itu sistem pendidikan tidak menempatkan posisi sebagai agen komunitas untuk siap dengan perkembangan zaman, sistem pendidikan kala itu sepertinya hanya bersifat skula (pengisi waktu luang). Tidak memiliki peran dalam hal setingkat akulturasi budaya.

Yesus kala itu membongkar kebobrokan komunitas sosial yang terjadi. Pendangkalan-pendangkalan logika berpikir yang menjadi doktrin gereja saat itu terjadi. Yesus menjadi meragukan kalau bait Allah adalah tempat yang sehat untuk ber-politik, Yesus meragukan ekspektasi imam-imam dalam menyuarakan suara Tuhan untuk kepentingan masyarakat Yerusalem. Saat itu Yesus menyusun gerakan pencerdasan kepada masyarakat. Ia datang ke tempat-tempat pelacuran, mendidik kaum-kaum tertindas, menaikkan nilai tawar kaum terpencil, penghapusan segmentasi sosial. Walaupun secara empirik Yesus tidak menawarkan apa-apa, namun secara filosofis Ia telah melatih umatnya untuk berpikir sinkron antara logika dan perasaan. Hukum Kasihnya menjadi nilai tawar yang sangat memiliki perkembangan luas sekali, Yesus adalah seorang aktifis Humanis Sosialis, Ia punya ciri Komunis, ia juga punya ciri agamis, dan perbenturan pemikiran yang diucapkannya dalam berbagai dialog dan orasi yang menentang kapitalis ketika harus mematikan sebuah segmen sosial yang hendak berkembang7.

Setelah iman Romawi telah dikuasai oleh ideologi Nasrani, pada abad ke-4 kaisar Romawi Konstantine I yang menguasai Jerusalem membangun tempat-tempat Kristen di Jerusalem seperti gereja makam kudus. Pada saat itu adanya larangan bagi umat Yahudi untuk Batu Fondasi di Bukit Baitmasuk wilayah Jerusalem dan hal ini terjadi hingga abad ke-7.

Di tahun 638, Kekhalifahan Islam membentangkan kekuasaannya hingga Jerusalem. Dengan adanya penaklukkan Arab , orang Yahudi diizinkan kembali ke kota Jerusalem. Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab menandatangani kesepakatan dengan Patriakh Kristen Monofisit Sophronius untuk meyakinkan dia bahwa tempat-tempat suci dan umat Kristen Yerusalem akan dilindungi dibawah kekuasaan orang Muslim. Umar memimpin dari, yang sebelumnya telah ia bersihkan untuk mempersiapkan bangunan masjid.  Masjid Umar merupakan bangunan kayu persegi yang dibangun diatas sisa-sisa bangunan yang dapat menampung 3.000 jamaah. Dan pada Khalifah Abdul Malik dari Umayyah mempersiapkan pembangunan Kubah Shakhrah pada kahir abad ke-7. Sejarawan abad ke-10 Al-Muqaddasi menulis bahwa Abdul Malik membangun Altar untuk menyelesaikan kemegahan Gereja-gereja monunental Yerusalem. Selama lebih dari Empat Ratus tahun berikutnya, ketenaran Yerusalem berkurang saat wilayah itu direbut dan menjadi wilayah kekuasaan Arab8.

Tahun 1099, penguasa Fatimiyah mengusir penduduk Kristen asli sebelum Yerusalem ditaklukkan oleh Tentara Salib yang kemudian membantai sebagian besar penduduk Muslim dan Yahudi; kemudian Tantara Salib membuat Kerajaan Yerusalem. Pada awal Juni 1099 populasi Yerusalem menurun dari 70.000 hingga kurang dari 30.000.

Tahun 1187, kota direbut dari Tentara Salib oleh Saladin yang mengizinkan orang Yahudi dan Muslim kembali dan bermukim di dalam kota. Dibawah pemerintahan Dinasti Ayyubiyyah Saladin, periode investasi besar dimulai dengan pembangunan rumah-rumah, pasar, kamar-mandi umum, dan pondok-pondok bagi peziarah, begitu pula ditetapkannya sumbangan keagamaan. Meski demikian, selama abad ke-13 jerusalem turun status menjadi desa karena jatuhnya nilai strategis kota perjuangan Ayyubiyyah yang gagal9.

Yang perlu kita cermati dari kondisi masyarakat Jerusalem dari berbagai zaman dan penguasaan oleh yahudi, romawi, dan negara negara arab Arab menjadikan masyarakat Jerusalem sebagi masyarakat yang keras, terbiasa dengan peperangan dan perpecahan dengan ideologi yang kuat sehingga membutuhkan suatu kepemimpinan yang dapat menyamaratakan hak dan kewajiban masyarakat Jerusalem di mata hukum Negara maupun hukum Agama.

2.2 ASUMSI-ASUMSI PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG PENGUASAAN KOTA YERUSALEM

Pada pembahasan ini penulis akan memaparkan beberapa alasan dari berbagai pihak tentang pengeasaan kota Yerusalem terutama kaum yahudi Israel yang mengkalim jerusalen merupakan tanah warisan Tuhan untuk kaumnya yaitu umat Yahudi, diantaranya yaitu:

Bangsa Israel sangat yakin bahwa nenek moyang mereka, Ibrahim, berasal dari Mesopotamia dan pada tahun 1850 SM, Tuhan hadir kepada Ibrahim di Haran dan berfirman; “Tinggalkan negerimu, keluargamu, dan rumah ayahmu menuju tanah yang akan Aku tunjukkan kepadamu”. Negeri itu adalah Kanaan.

Klaim teologis pendirian negara Israel lainya misalnya, didasarkan pada teks-teks Perjanjian Lama dalam Kitab Kejadian 12:7, 15:18-21 dan Kitab Yosua. Kitab ini menceritakan tentang kisah Ibrahim(Abraham) dan sejumlah janji Tuhan kepada Ibrahim, “ Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar” (Kejadian 12:2). Ibrahim kemudian diperintahkan pergi ke tanah Palestina dan Tuhan meyakinkan bahwa negara itu akan menjadi milik keturunannya. Tanah Palestina itulah yang disebut sebagai “Tanah yang Dijanjikan” (The Promised Land) atau Israel Raya (Eretz Israel). Kitab Kejadian 15:18 menyebutkan: “pada hari itu Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim melalui firman, “Untuk Tuhanmu Aku berikan tanah ini, dari sungai Mesir/Nil hingga sungai besar Eufrat”10.

Namun, Di saat kemunculannya, yahudi ortodoks menyerang gagasan pendirian negara Yahudi ( The Jewish State) itu. Menurut mereka, gagasan itu merupakan pelecehan terhadap misi kenabian (the mission of Israel) dan doktrin messiannisme (The Messianic Doctrine). Oleh karena itu, zionisme diangga terlalu sekuler dan merusak nilai-nilai dan tradisi Yahudi. Tujuan kaum zionis unutk membentuk negara di Eretz Israel adalah bertentangan dengan ajaran agama yahudi itu sendiri. Menurut kelompok yahudi ortodoks, seharusnya jika memang harus membangun negara yahudi, umat yahudi harus menunggu kedatangan “Sang Messiah” unutk membawa mereka kembali ke Tanah Suci (Holy Land). Upaya kelompok zionis untuk mempercepat proses kembali ke Holy Land itu dianggap oleh yahudi ortodoks sebagai dosa. Sekte Yahudi Ortodoks seperti Satmar Hasidim di New York dan Nature Karta di Jerusalem justru mengharapkan kehancuran negara Israel yang mereka anggap sebagi produk dari zionisme tak bertuhan (Godless Zionism)11 .

Selama konflik Jerusalem berlangsung telah terjadi beberapa kebijakan dari PBB demi menyelesaikan konflik ini salah satunya pada Resolusi Majelis Umum PBB No 181 tentang pembagian wilayah Pelestina yang ditetapkan tanggal 29 November 1947, kaum Yahudi hanya diberi hak menguasai 56 persen wilayah Palestina. Anehnya, pada 11 Mei 1949. Namun kebijakan ini tidak dipatuhi oleh Israel dengan alasan bahwa dalam Bible sudah jelas tanah yang di janjikan Tuhan kepada mereka luasnya  dari sungai Mesir/Nil hingga sungai besar Eufrat (Kitab Kejadian 15:18). Dengan alas an itu, maka peperangan melawan rakyat asli palestina terus berlangsung hingga sampai saat ini.

Bagi umat Nasrani walaupun dalam Bible telah menerangkan tentang hak historis Jerusalem oleh yahudi pada kitab kejadian 15;18 namun karena sejarah iman merekapun berasal dari Jerusalem dengan pergerakan yesus kristus dalam membawa iman nasrani mereka merasa memiliki hak yang sama dalam menjaga dan mensucikan symbol keagamaan mereka yang berada di Jerusalem.

Begitu pula dengan umat muslim, dengan sejarah penguasaan khalifah-khalifah islam di Jerusalem pada masa dahulu dan dengan adanya sejarah keagamaan umat islam seperti Masjid Al-Aqsa menginginkan Jerusalem menjadi kota suci ketiga yang tidak hanya dikuasai secara penuh oleh umat Yahudi.

Bahkan pemimpin Irak Ayatollah Khomeini lebih tegas lagi menyatakan bahwa Jerusalem adalah milik kaum Muslim dan harus dikembalikan kepada mereka. Semasa hidupnya ia  mengeluarkan fatwa yang menyatakan hari Jumat terakhir di Bulan Ramadhan sebagai hari Jerusalem dan merayakannya dengan menjadikan hari itu sebagai hari libur12 .

Hai kaumku, masuklah ke tanah Suci (Palestina) yang Telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (Q.S. Al-Maidah (5): 21).

2.3 KAJIAN SOSIOLOGIS TENTANG KONFLIK YERUSALEM

“Bukan kesadaran sosial yang menentukan kenyataan sosial, melainkan kenyataan sosial yang menentukan kesadaran.” (Karl Marx)

Dalam hal ini Karl Marx menegaskan bahwa kesadaran sosial yang tumbuh karena faktor doktrin suatu pemahaman atau ajaran tidak akan menyelesaikan masalah social/kenyataan social yang ada, tetapi kenyataan social/keadaan masyarakat yang ada akan menentukan kesadaran social. jika kenyataannya masyarakat Jerusalem memang beragam dengan berbagai keyakinan yang ada (kenyataan sosial) maka seharusnya kenyataan itu menjadi kesadaran sosial bagi seluruh bagi masyarakat agar bias hidup dengan damai dan aman.

Dalam bukunya “Jerusalem, Satu Kota Tiga Iman” Karen Armstrong mengungkapkan bahwa adanya anggapan suci bagi umat Kristen di Jerusalem karena disanalah Yesus wafat dan dibangkitkan kembali adanya tembok ratapan, Via Dolorosa (jalan penderitaan), Bukit Golgota (tempat Yesus wafat dalam salibnya), bagi umat Yahudi, adanya kerajaan Yahudi dan Kuil Sulaiman, serta bagi umat Muslim, di Jerusalem lah berdirinya Masjid Al Aqsa yaitu Masjid yang menjadi tempat terjadinya peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Disitulah KA mulai sadar akan adanya pluralisme agama di Kota Jerusalem dan ternyata orang dapat melihat simbol yang sama dalam cara-cara yang sangat berbeda.

Pada masa Perang Salib II-IV, Sultan Salah Al-Din Yusuf ibn Ayyub atau yang lebih dikenal dengan Saladin berhasil mengalahkan pasukan Kristen yang dipimpin oleh Richard ”Si Hati Singa” (Lion-Heart) yang akan masuk ke wilayah Jerusalem dan membuat Lion Heart mengakui kehebatan dari Saladin setelah tiga kali masa perang itu. Meskipun menang perang, Saladin dalam perjanjian damai tetap menjamin keamanan dan memberikan akses bagi para peziarah, siapa pun dan dari agama mana pun, untuk pergi ke Tanah Suci13 .

Antara tahun 1967-1989, Dewan Keamanan PBB menerbitkan 131 resolusi. Apabila dikategorikan, 131 resolusi itu, 43 diantaranya dapat dikatakan bersikap netral  salah satunya  yaitu menjadikan Jerusalem sebagai kota condominium. Arafat mengakui prinsip condominium (daerah yang dikuasai bersama) oleh Israel dan Palestina itu. Dalam pidatonya di Harvard University ia mengatakan, ”Mengapa Jerusalem tidak dijadikan ibu kota dua negara, tanpa tembok Berlin? Bersatu, terbuka, hidup berdampingan secara damai, hidup bersama,” setelah disambut standing ovation dari para hadirin ia melanjutkan, ”Jerusalem menjadi tempat seluruh umat beriman, condominium besar bagi budaya dan moralitas.”14.

3. KESIMPULAN

Setelah melihat fakta dan data sejarah tentang kota Jerusalem serta resolusi resolusi yang telah dibuat oleh PBB maka seharusnya Jerusalem menjadi sebuah simbol untuk pluralitas keagamaan. Adian Husaini menyimpulkan bahwa gerakan kaum Zionis Israel untuk menguasai tanah palestina merupakan hanya gerakan pragmatism yang cenderung kepada skularisme karena nyatanya umat yahudi non-zionis sangat tidak menyetujui atas gerakan tersebut.

Walaupun seandainya Jerusalem jatuh secara mutlak seluruhnya ke tangan Israel,seharusnnya kaum Israel tidak boleh mengusir umat lain yang telah tinggal di Jerusalem. Karena jika kita melihat kembali sejarah penguasaan Jerusalem hanya pada saat kekuasaan Romawi nasrani sajalah orang yahudi dilarang masuk kota Jerusalem. Setelah kekuasaan di ambil oleh kepemimpinan Islam, seluruh umat beragama dapat hidup damai di kota Jerusalem termasuk umat Yahudi.

(Footnote)

1 www.wikipedia.com/Yerusalem/

2 Ibid

3 www.suaramedia.com/JERUSALEM, Satu Kota Tiga Iman /

4 Ibid

5 Adian Husaini, Pragmatism dalam Politik Zionis Israel, 2004: hlm XXVII.

6 www.suaramedia.com/JERUSALEM, Satu Kota Tiga Iman /

7 www.hokkop.wordpress.com/ YESUS DAN CHE GUEVARA/

8 www.wikipedia.com/Yerusalem/

9 Ibid

10 Adian Husaini, Pragmatism dalam Politik Zionis Israel, 2004: hlm XXVII.

11 Ibid hlm XXXI

12http://www.pengajian-malamliburan.blogspot.com/ JERUSALEM, Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir/

13 Ibid

14 Ibid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: