HAK ASASI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

HAK ASASI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Oleh: Nur Mawadah Rahmah

Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta

1. PENDAHULUAN

Hingga saat ini, masalah Hak Asasi Manusia (HAM) masih menjadi sebuah polemik yang tak terselesaikan. HAM seakan-akan menjadi sesuatu yang mahal, yang tidak semua manusia berhak memilikinya. Sejarah mencatat keadaan dunia sebelum datangnya Al-Qur’an, yaitu sering terjadinya tindakan diskriminasi terhadap masyarakat minoritas, kaum perempuaan, dan masyarakat miskin. Contohnya seperti, kebanyakan orang Siria yang menjual anaknya untuk melunasi hutang mereka, disamping itu, disana sering terjadi kezaliman-kezaliman penguasa dan perbudakan. Atau juga kebiasaan bangsa Arab, yang senang menanam bayi perempuaan hidup-hidup. Dan hal ini terus menerus terjadi, hingga saat ini. Dengan memahami secara jelas, bahwa hak asasi manusia ini selalu dipandang sebagai sesuatu yang mendasar, fundamen dan penting. Oleh karena itu, banyak pendapat yang mengatakan bahwa hak asasi manusia itu adalah sesuatu “kekuasaan keamanan” yang dimiliki oleh setiap individu. Bisa dikatakan tanpa adanya hak ini, berarti berkuranglah harkatnya sebagai manusia yang wajar. Melihat fakta yang terjadi ditengah masyarakat, maka ide HAM pun mulai digulirkan dan diperjuangkan. Semua berawal dari Magna Charta di Inggris pada tahun 1252 hingga akhirnya terbentuknya DUHAM PBB di Paris/ Prancis pada tahun 1948. Melalui deklarasi universal HAM, terjadinya kesepakatan bersama bahwa ide ini harus diterapkan oleh setiap negara, dengan tujuaan untuk menjaminnya didalam sebuah konstitusi. Akan tetapi, perbincangan seputar HAM telah dahulu dibicarakan sejak empat belas tahun yang lalu. Ini dibuktikan oleh adanya piagam Madinah (mitsaq Al Madinah) yang terjadi pada saat Nabi berhijrah ke kota Madinah. Dalam Dokumen Madinah atau di dalam Piagam Madinah itu berisi antara lain pengakuaan dan penegasan bahwa semua kelompok di kota Nabi itu, baik umat Yahudi, Nasrani maupun umat Islam sendiri, adalah merupakan satu bangsa. . Jadi dapat kita lihat, bahwa dalam piagam Madinah itu HAM sudah mendapatkan pengakuaan oleh Islam. Adanya prinsip-prinsip HAM yang universal, sama dengan adanya perspektif islam universal tentang HAM (DUHAM) Aktifitas penegakkan HAM hingga saat ini masih menjadi perdebatan panjang, ada yang pro terhadap ide ini, dan ada juga yang kontra. Menurut pendapat yang mendukung ide ini, HAM adalah sebuah ide yang harus diperjuangkan, karena tanpa adanya hak asasi setiap individu, maka seseorang individu merasa terjajah. Disisi lain ada pula yang menentang ide ini dengan alasan, bahwa ide HAM dalam tataran praktis tidak bisa menciptakan kemaslahatan bagi kehidupan manusia, yang terjadi justru sebaliknya kerusakan, ketidakadilan, keonaran muncul diama-mana. Karena dengan dalih HAM manusia bebas bertindak sesuka hatinya dan tindakannya merupakan pilihan yang harus dihormati. Melihat permasalahan yang muncul di atas, baik itu dinilai dari sisi teoritis ataupun dari sisi praktik HAM. Di dalam makalah ini penulis akan memaparkan bagaimana Al-Qur’an mengatur tentang masalah HAM dan diakhir, penulis akan memberikan sebuah solusi bagaimana baiknya penegakan HAM agar tidak lagi adanya pengkaburan makna yang berujung pada pelanggaran HAM Penulis sangat menyadari bahwa masalah yang diangkat di dalam makalah ini, bukan satu-satunya makalah yang membahas tentang “Hak Asasi Manusia dalam perspektif Al-Qur’an”, tetapi pembahasan ini pun sudah pernah dikaji oleh Yefrizawati dengan judul makalah Hak Asasi Manusia dalam perspektif Hukum Islam, dan oleh Ahmad Martin Hadiwintara, dengan judul makalah Hak Asasi Manusia dalam Islam. Hal yang membedakan makalah ini dengan kedua makalah tersebut yaitu, penulis mencoba mengkaji secara tematis (tafsir maudu’i) tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan prinsip-prinsip HAM, dan hal tersebut yang tidak penulis temukan di dalam kedua makalah tersebut.

2. PEMBAHASAN

A. Pengertiaan Hak Asasi Manusia

Pengertiaan HAM secara etimologi adalah, hak dasar atau hak pokok yang dimiliki manusia (seperti hak hidup dan hak untuk mendapat perlindungan). Hak asasi manusia berasal dari istilah droits de I’home (Bahasa Prancis), human rights ( Bahasa Inggris), menslijke recten (Bahasa Belanda), serta fitrah (Bahasa Arab). Sedangkan pengertiaan HAM secara terminologi tertuang pada mukadimah Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights), yaitu pengakuaan atas keseluruhan martabat alami manusia dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dipindahkan kepada orang lain dari semua anggota keluarga kemanusiaan adalah dasar-dasar kemerdekaan dan keadilan di dunia. HAM menurut Moh. Mahfud, yaitu hak yang melekat pada martabat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan, dan hak tersebut dibawa manusia sejak lahir ke muka bumi sehingga hak tersebut bersifat fitri (kodrati), bukan merupakan pemberiaan manusia atau negara. Sedangkan menurut Ahmad Martin Handriwinarta, Hak asasi manusia atau biasa disebut HAM merupakan sebuah hal yang menjadi keharusan dari sebuah negara untuk menjaminnya dalam konstitusinya. Jadi dapat disimpulkan, HAM adalah hak yang melekat pada setiap individu yang bersumber dari sang pencipta, yang harus dilindungi oleh negara, dengan tujuaan menjaminnya dalam konstitusi.

B. Komponen Hak Asasi Manusia di dalam Al-Quran

Di dalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat-ayat yang membahas tentang komponen-komponen yang terkandung di dalam HAM, seperti prinsip kebebasan beragama, prinsip untuk hidup dan menjaga hidup, prinsip persamaan dimata hukum, prinsip kepemilikan, prinsip keadilan, prinsip kebebasan berpendapat, prinsip mendapatkan kebutuhan dasar hidup dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip dasar HAM. Pada makalah ini penulis hanya mengangkat beberapa prinsip-prinsip HAM untuk dikaji dengan menggunakan analisis kontekstual. Penjelasan mengenai prinsip-prinsip HAM, yaitu sebagai berikut: 1. Prinsip Kebebasan Beragama. Ayat–ayat yang berkaitan dengan kebebasan beragama mengacu pada surat (Al- Baqarah: 256, Al-Muthafifin: 22, Al-Qaf: 45, Yunus 45, dan Al-Ankabut :46, Al-Kahfi: 29. Disini penulis memilih untuk mengkaji lebih mendalam terhadap surat Al-Baqarah ayat 256: Artinya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. a. Asbabun Nuzul Diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas, katanya, “ ada seorang wanita yang sering keguguran, maka di berjanji pada dirinya, sekiranya ada anak yang hidup, akan dijadikanya seorang Yahudi. Maka tatkala Bani Nadir diusir dari Madinah, kebetulan di antara mereka ada anak Ansar, maka kata orang Ansar kami tidak akan membiarkan anak-anak kami, dan Allah pun menurunkan, surat Al-Baqarah : 256. Ibnu Jarir mengetengahkan, dari jalur said atau ikrimah dari ibnu Abbas, katanya “ Tak ada paksaan dalam agama”Ayat ini turun mengenai seorang Ansar dari Bani Salim bin Auf bernama Husain, yang mepunyai dua orang anak beragama Kristen, sedang ia beragama Islam. Maka katanya kepada Nabi SAW, “Tidakkah akan saya paksa mereka, karena mereka hendak meninggalkan agama Kristen itu?” maka Allah pun menurunkan ayat itu. b. Tafsir Ayat Menurut tafsir Depatermen Agama, ayat ini menegaskan tentang larangan melakukan kekerasan dan paksaan oleh umat Islam terhadap orang-orang yang bukan muslim untuk memaksa mereka masuk agama Islam. Jadi tidak dibenarkan adanya paksaan. Kewajiban kita hanyalah menyampaikan agama Allah kepada manusia dengan cara yang baik dan penuh kebijaksanaan serta nasihat-nasihat yang wajar sehingga mereka masuk islam dengan kesadaran dan kemauan sendiri. Abu Muslim dan Al-qaffal berpendapat, ayat ini hendak menegaskan bahwa keimanan didasarkan atas satu pilihan bukan suatu tekanan. Ayat itu merupakan teks fondasi atau dasar dari penyikapan Islam terhadap jaminan kebebasan beragama. Jawad Sa’id menyebutkan la ikraha fi al-din, qad tabayyana al-rusdy min al-ghayy sebagai ayat-ayat uniuversal. c. Analisis Berdasarkan asbabun nuzul dan tafsir surat Al-baqarah ayat 256 dapat disimpulkan, bahwa Islam menegaskan tentang kebebasan dan kemerdekaan merupakan HAM, termasuk didalamnya kebebasan menganut agama selain Islam. Dalam tafsir Departemen Agama penulis menyimpulkan, bahwa Islam tidak pernah memaksa seseorang untuk memeluk agama Islam, karena iman datangnya dari hati bukan semata-mata karena paksaan. 2. Prinsip Persamaan Dalam Al-qur’an menjelaskan sekitar 150 ayat tentang ciptaan dan mahluk-mahluk, serta tentang perasamaan dalam penciptaan, misalnya pada surat (Al- Maidah 38), (Ahqaf 19), dan (Al-Hujurat 13) Di sini penulis memilih untuk mengkaji lebih mendalam terhadap surat Al Maidah ayat 38: Artinya:Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. a. Asbabun Nuzul Di zaman Rasulullah saw ada seorang perempuaan mencuri. Hal ini dilaporkan kepada Rasulullah oleh orang yang kecuriaan. Mereka berkata: “inilah perempuaan yang telah mencuri harta benda kami, kaumnya akan menebusnya”. Nabi saw bersabda : “Potonglah tangannya”. Maka dipotonglah tangan kanan perempuaan itu. Kemudiaan ia bertanya: “Apakah saya ini masih bisa diterima taubatku, ya Rasulullah?” Beliau menjawab : “Ya, engkau hari ini bersih dari dosamu seperti pada hari engkau dilahirkan oleh ibumu”. Maka turunlah ayat ini. b. Tafsir Ayat Menurut tafsir Departemen Agama, ayat ini menjelaskan hukuman terhadap orang-orang yang mencuri, baik laki-laki atau perempuaan. Setiap kejahatan ada hukumannya. Pelakunya akan dikenakan hukuman karena ia melanggar larangan mencuri. Seseorang baik laki-laki maupun perempuaan yang mengambil harta oranng lain dari tempatnya yang layak dengan diam-diam, dianamakan “pencuri”. c. Analisis Berdasarkan asbabun nuzul dan tafsir surat Al-Maidah ayat 38 dapat disimpulkan, bahwa Islam menegaskan adanya pengakuaan persamaan yang mencakup persamaan kedudukan setiap manusia di depan hukum, terlepas dari .identitasnya di mata manusia lainnya, karena Islam memberikan kepada umatnya hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama dalam menjalankan suatu ketentuaan hukum. Dalam tafsir Departemen agama penulis menyimpulkan, bahwa ayat ini menegaskan tentang hukuman potong. bagi para pencuri, baik dia laki-laki maupun dia perempuaan. Hal tersebut dilakukan sebagai balasan dari apa yang telah diperbuatnya. 3. Prinsip Untuk Hidup Dan Menjaga Hidup Dalam Al-Quran terdapat sekitar 80 ayat tentang hidup, pemeliharaan hidup dan penyediaan sarana kehidupan misalnya pada surat (Al- Baqarah 93, 84-85 dan 178), (An-Nissa 29-30 dan 92),(Al-Maidah 32 dan 63), (An-Nahl .59-59), (Al-Isra 33) dan lainnya. Disini penulis memilih untuk mengkaji lebih mendalam terhadap surat Al-Maidah ayat 32: Artinya: Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. a. Asbabun Nuzul Kedengkiaan orang Yahudi kepada Nabi Muhammad SAW men\mang benar-benar nyata, yaitu dengan menentang ajakannya meskipun bukti-bukti telah cukup atas kerasulan, kenabiaan dan kebenaranya. Puncak kedengkiaan itu sampai kepada ancaman akan membunuh para sahabat Nabi SAW terutama oleh pebesar mereka, maka ayat ini turun. b. Tafsir Ayat Pada ayat ini diterangkan suatu ketentuaan bahwa membunuh seorang manusia berarti membunuh manusia seluruhnya, sebagaimana memelihara kehidupan manusia seluruhnya. Ayat ini menunjukkan keharusan adanya kesatuaan umat dan kewajiban mereka masing-masing terhadap yang lain yaitu harus menjaga keselamatan hidup dan kehidupan bersama dan menjauhi hal-hal yang membahayakan orang lain. c. Analisis Berdasarkan asbabun nuzul dan tafsir surat Al-Maidah ayat 32 dapat disimpulkan, bahwa Islam menegaskan hak hidup adalah hak asasi yang paling utama bagi manusia. Hukum islam sangat melindungi dan menjunjung tinggi darah dan nyawa manusia, yaitu melalui larangan membunuh, ketentuaan qishas dan larangan bunuh diri. Dalam tafsir Departemen agama penulis menyimpulkan, bahwa ayat ini menegaskan tentang pembunuhan terhadap satu orang saja, sama artinya dengan pembunuhan terhadap seluruh manusia, sebaliknya memelihara kehidupan satu orang saja berarti memelihara kehidupan manusia seluruhnya. 4. Prinsip kepemilikan Ayat yang berkaitan dengan prinsip kepemilikan, yaitu mengacu pada surat Al-Baqarah 188. Penjelasan yang lebih mendalam tentang ayat ini, sebagai berikut: Artinya: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. a. Asbabun Nuzul Sebab turunnya ayat ini ialah seperti yang diriwayatkan bahwa Ibnu Asywa Al Hadrami dan Imri’il Qais, terlibat dalam suatu perkara soal tanah yang masing-masing tidak dapat memberikan bukti. Maka Rasulullah saw menyuruh Imri’il Qais (sebgai terdakwa yang ingkar) supaya bersumpah. Tatkala Imri’il Qais hendak melaksanakan hal itu, turunlah ayat ini b. Tafsir Ayat Pada bagiaan pertama dari ayat ini Allah melarang agar jangan memakan harta orang lain dengan jalan yang batil. Yang dimaksud dengan “memakan” disini ialah”mepergunakan atau memanfaatkan”, sebagaimana biasa dipergunakan dalam bahasa arab dan bahasa lainnya. Dan yang dimaksud dengan “batil” ialah dengan cara yang tidak menurut hukum yang telah ditentukan Allah. Kemudiaan pada ayat bagiaan terakhir dari ayat ini Allah AWT melarang membawa urusan harta kepada hakim dengan maksud untuk mendapatkan sebagiaa dari harta orang lain dengan cara yang batil, dengan menyogok atau memberikn sumpah palsu atau saksi palsu. c. Analisis Berdasarkan asbabun nuzul dan tafsir surat Al-Baqarah ayat 188, dapat disimpulkan, bahwa ayat ini menegaskan penjaminan hak kepemilikan yang sah dan mengharamkan penggunaan cara apapun untuk mendapatkan harta orang lain yang bukan haknya. Dalam Tafsir Departemen Agama penulis menyimpulkan, bahwa ayat ini melarang agar kita tidak memakan harta orang lain dengan jalan yang batil. Ulasan tersebut dapat memperjelas kepada kita bahwa di didalam Al-Qur’an memang terdapat penjelasan mengenai prinsip-prinsip dasar Hak Asasi Manusia.

3. PENUTUP

HAM itu memang sangat penting bagi setiap manusia, karena hal itu merupakan suatu yang fitrah yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada setiap manusia, tetapi memang perlu dipahami karena aturan mengenai HAM yang ada saat ini tidak mempunyai standar dalam implementasinya, maka hal yang muncul adalah tindak penyelewengan, baik itu dari segi teori ataupun didalam implementasinya. Solusinya, kembali lagi kepada individu tersebut, bagaimana ia menyadari sebagai umat yang beragama, kita memang diberikan hak dan kebebasan, tetapi disaat yang sama kita juga mempunyai tanggung jawab kepada Tuhan atas semua perbuatan yang kita lakukan. Jadi dengan kata lain, kebebasan yang kita miliki juga terikat penuh dengan aturan Tuhan. Jika semua manusia memiliki pemahaman seperti ini, paling tidak penyelewengan atau pelanggaran terhadap HAM bisa diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA

Hasan Abu Ali Al-Hasany An-Nadawy, As-Sirah An-Nabawiyah, Surabaya: PT Bina Ilmu, 1983.

Idrus, Junaidi, Rekonstruksi Pemikiran Nurcholish Majid Membangun Visi dan Misi Baru Islam Indonesia, Jogjakarta: LOGUNG PUSTAKA, 2004. Mahfud, Moh, Dasar dan Stuktur Ketatanegaraan Indonesia Edisi Revisi, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2001.

Majalah Al-Wai’e, No. 88 Tahun VIII, 1-31 Desember 2007, hal 19.

Nasution Harun, Bahtiar Effendi (ed), Hak Asasi Manusia dalam Islam, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1987.

Putra, Dalizar, Hak Asasi Manusia Menurut Al-Qur’an, Jakarta: PT Al-Husna Zikra, 1995.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: