AZAB DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

AZAB DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Oleh: Indah Irmawati

Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta


I. Pendahuluan

Selalu muncul pertanyaan dalam benak setiap orang, apakah bencana alam dan kecelakaan-kecelakaan dalam dunia transportasi kita sudah direncanakan oleh Allah? Apakah bencana alam itu suatu ujian, rahmat ataukah suatu azab?.

Mengenai bencana alam seperti tsunami, gunung meletus atau gempa bumi, memiliki dua pendapat, bencana-bencana alam tersebut bisa jadi memang ujian yang sudah Allah rencanakan, atau juga sebagai azab terhadap manusia. kemukakan mengenai bencana ini. Pertama, bencana alam sudah Allah tentukan kapan waktu terjadinya pada catatanNya, tidak peduli apakah pada saat itu manusia yang tertimpa bencana tersebut dalam keadaan ‘baik-baik saja’ dalam artian tidak bermaksiat kepada Allah atau memang sedang bermaksiat. Bencana yang seperti inilah yang menjadi ujian bagi manusia. Bagi orang-orang yang bersabar, ujian tersebut bisa berubah menjadi rahmat, sementara bagi yang tidak bersabar bisa jadi sebuah siksaan.

Pendapat kedua, bencana tersebut muncul sebagai teguran atau azab bagi manusia, artinya bencana tersebut muncul akibat manusia yang sudah terlalu bermaksiat, musyrik. Ini sesuai dengan salah satu hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa suatu kaum terhindar dari azab karena ada salah seorang ‘warga’nya yang mengagungkan nama Allah. Al-Quran juga memberikan beberapa contoh kaum yang memang Allah azab karena kesalahan mereka, itu artinya jika kaum-kaum itu tidak melakukan kesalahan tersebut, azab tersebut tidak akan pernah ada, Inilah yang disebut Takdir Kolektif. Lalu bagaimana dengan kecelakaan semacam Adam Air dan Senopati?, segala sesuatu di dunia ini terikat dalam hukum sebab-akibat yang semuanya sudah diatur oleh Allah. Kehendak Allah bisa juga diartikan sebagai aturan Allah. Api padam oleh air atau kulit menjadi keriput ketika tua, itu adalah sebuah aturan, Allah sudah menentukan segalanya sesuai dengan ukuran. Karena itu, kasus-kasus kecelakaan pesawat, tenggelamnya kapal-kapal atau tergelincirnya kereta dari relnya, semuanya tunduk pada aturan ini. Disitulah peran Allah yang sesungguhnya, menentukan aturan tersebut. Allah tidak menenggelamkan kapal ataupun menggelincirkan kereta. Meskipun Allah bisa melakukan hal tersebut, tapi Allah tidak akan pernah melakukan hal tersebut. Kapal tenggelam pasti ada sebabnya, kereta tergelincir pasti ada sebabnya, dari sebab-sebab itulah manusia belajar untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.

Oleh karena itu, bahwa kecelakaan-kecelakaan yang terjadi sesungguhnya disebabkan oleh kesalahan-kesalahan manusia yang tidak memperhatikan aturan-aturan Allah. Kita tahu, kapasitas suatu kapal terbatas, tapi kita tetap memaksakan dengan memasukan beban yang melebihi kapasitas tersebut, maka wajar jika kapal tersebut tenggelam. Itu adalah aturan. Allah tidak menenggelamkannya, tapi aturan Allah lah yang menjadikan kapal tersebut tenggelam, kehendak Allah. Disinilah fungsi akal kita, untuk mengenal dan memahami bagaimana aturan Allah itu bekerja. Orang Jepang bisa membangun gedung yang tahan gempa karena menggunakan akal mereka, perahu bisa berlayar karena manusia menggunakan akalnya. Semua itu mengikuti aturan Allah, ketika aturan itu kita langgar, bisa dipastikan akan terjadi suatu masalah, entah itu kecelakaan atau hal-hal lain yang tidak kita harapkan.

Kasus banjir-banjir yang terjadi di Indonesia adalah contoh dari bencana yang diakibatkan oleh kesalahan manusia. Banjir bisa diantisipasi bahkan dihindari, tergantung usaha kita. Sebab-sebab suatu banjir kan bisa kita ‘baca’. Saluran air yang mampat, kurang lebar atau kurang dalam. Banjir juga bisa kita hindari dengan membuat drainase yang baik misalnya, dengan tidak membuang sampah di aliran sungai sehingga tidak mampat. Jika usaha-usaha tersebut sudah optimal, saya kira banjir bisa kita hindari. Kecuali, jika terjadi hal-hal yang memang di luar kekuasaan manusia, seperti hujan selama seminggu tanpa henti sehingga menyebabkan debit air ‘overload’, sementara seluruh usaha untuk menghindari banjir sudah optimal, barulah kita bisa ‘menyalahkan’ alam. Berbeda dengan gempa bumi yang hanya bisa kita prediksi kedatangannya, meskipun usaha untuk meminimalisir kerugian dan kerusakan akibat gempa bumi tetap harus kita lakukan. Dalam urusan ‘menaklukan’ gempa, kita bisa belajar dari Jepang. Ingat, yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir efek dari suatu bencana, bukan meniadakan efek tersebut, karena berbicara tentang fenomena alam, kita berbicara tentang kekuatan yang sulit untuk diprediksi dan berada di luar kekuasaan manusia. Hanya sebatas itulah yang bisa kita lakukan, namun apapun itu wajib dan layak untuk diusahakan.

Takdir ini adalah bahwa Allah mengajarkan manusia untuk selalu berusaha mendapatkan yang terbaik untuk dirinya. Kalau menggunakan istilah Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi, kita tidak pernah bisa mendahului takdir. Kita berjalan bersamanya. Apa pun kondisi kita saat ini, kita masih bisa memperbaikinya. Kita masih bisa mengusahakannya. Tidak ada yang final sebelum mati. Ada berbagai macam pilihan, namun kita dituntut untuk selalu memilih yang terbaik.

II. Pembahasan

I. Definisi Azab

Secara Etimologis

· Azab menurut bahasa Arab ‘aqoba-yu’kibu yang artinya balasan, siksa, teguran bagi umat yang melanggar larangan agama.[1]

· Dalam bahasa inggris Azab adalah “punishment” yaitu hukuman, siksaan, to take o’s like a man menerima penyiksaan itu sebagai seorang jantan, perilaku yang amat kasar. punishment is will occurs if human collide the prohibition of religion and they will get turtune from Gad.[2]

· Dan dalam bahasa Indonesia Azab adalah siksaan yang di hadapi manusia atau makhluk Tuhan lainnya[3].

Secara terrminologi :

· Menurut salah satu ahli Tafsir : Azab adalah siksaan yang menimpa manusia sebagai akibat dari kesalahan yang pernah atau sedang dilakukan atas larangan Tuhan.[4]

· Menurut Prof. Quraish Shihab : Azab adalah suatu kemurkaan Allah akibat pelanggaran yang dilakukan manusia yaitu pelanggaran sunnatullah di alam semesta dan pelanggaran syariat Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad SAW.[5]

Dari definisi diatas menyimpulkan bahwa Azab adalah suatu peringatan akan kemurkaan Allah pada makhluknya (manusia) yang telah melanggar perintah Allah yaitu perbuatan yang dilarang baik berupa ibadah, amal, iman dan lain-lain, dibalasnya dengan teguran berupa bencana alam.

II. Bentuk dan Penyebab azab

Sesungguhnya kita telah punya jawabannya dari ayat-ayat Alquran. Ketika Allah membinasakan suatu kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada Allah swt. Namun, di sisi lain itu merupakan ujian bagi kaum yang beriman, supaya mereka lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt. Contoh, kisah Nabi Nuh a.s. yang dipaparkan Allah dalam surat ayat 25-49. Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar. Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42). Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh karena keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Nuh. Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena dengan mata kepalanya sendiri dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan anak kandungnya lenyap ditelan ombak besar (Hud: 43). Orang tua mana yang tega melihat anaknya meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia aman di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan yang begitu berat bagi Nabi Nuh, sekaligus peringatan bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi umatnya. Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang menimpa orang-orang terdahulu. Dan, semua musibah dan bencana besar yang pernah menimpa manusia  diterangkan oleh Alquran adalah selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt.  Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).

Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang berbicara mengenai bencana atau azab yang menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.

1. Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf: 96)

2. Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca: syirik), seperti mengatakan bahwa Allah memiliki anak.
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam: 91).

3. Allah timpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan peringatan kepada orang-orang dzalim di antara mereka. Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25).

4. Dalam hadits juga digambarkan bahwa azab dan bencana itu bisa bersumber dari kemaksiatan yang akibatnya dirasakan secara sosial. Di antaranya adalah perbuatan zina dan riba. Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad).[6]


Sesungguhnya masih banyak ayat dan hadits yang memaparkan tentang sebab-sebab terjadinya musibah atau bencana. Tapi, dari yang dipaparkan di atas kita tahu bahwa setiap musibah dan bencana selalu terkait dengan dosa yang dilakukan oleh manusia. Bentuknya bisa berupa membudayanya praktik riba dan zina. Bisa juga karena mengkufuri nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat Allah, dan menyekutukan Allah.

III. Sikap Al-Quran Terhadap Azab

Kalau kita memahami ayat-ayat Al-Qura’an terkait bencana alam yang menimpa berbagai umat sebelum kita, sejak zaman nabi Nuh, Ibrahim, Luth, Syu’aib, Sholeh, Musa dan sebagainya, kita akan menemukan dua cara pandang manusia terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas bumi ini. Pertama, cara pandang orang-orang kafir dan ingkar pada Allah dan Rasul-Nya. Cara pandang orang-orang yang sombong pada Allah dan tidak mengenal Tuhan Pencipta alam yang sebenarnya. Cara pandang orang-orang sekular yang tidak mampu melihat kaitan antara Tuhan dengan hamba, antara agama dengan kehidupan dan antara dunia dan akhirat. Manusia semacam ini adalah manusia yang tidak pernah mau dan tidak mampu menjadikan berbagai peristiwa alam tersebut sebagai pelajaran dan sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Mereka bukannya mengoreksi diri dan kembali kepada Allah, melaikan semakin bertambah kesombongan dan pembangkangan mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Cara pandang orang-orang beriman kepada Allah dan para Rasulnya. Apa saja peristiwa alam yang terjadi mereka kembalikan semuanya kepada kehendak dan kekusaan Allah, mereka hadapi dengan hati yang penuh iman, tawakal, sabar dan tabah serta mereka lihat sebagai sebuah ujian dan musibah untuk menguji kualitas keimanan dan kesabaran mereka, atau bisa juga sebagai teguran Allah atas kelalaian dan dosa yang mereka lakukan.

Selain itu, semua peristiwa yang menimpa manusai mereka jadikan sebagai momentum terbaik untuk mengoreksi diri (taubat) agar lebih dekat kepada Allah dan sistem Allah dan Rasul-Nya. Pada saat yang sama merekapun meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah orang-orang yang sukses dalam beriteraski dengan alam dan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan semasa hidup di dunia dan juga di akhirat kelak, Hal seperti ini dijelaskan dalam firman Allah.

Al-Qur’an dengan tegas menjelasakan bawa sebab utama terjadinya semua peristiwa di atas bumi ini, apakah gempa bumi, banjir, kekeringan, tsunami, penyakit tha’un (mewabah) dan sebagainya disebabkan ualah manusia itu sendiri, baik yang terkait dengan pelanggaran sisitem Allah yang ada di laut dan di darat, maupun yang terkait dengan sistem nilai dan keimanan yang telah Allah tetapkan bagi hambanya. Semua pelanggaran tersebut (pelanggaran sunnatullah di alam semesta dan pelanggaran syariat Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad SAW), akan mengakibatkan kemurkaan Allah. Kemurkaan Allah tersebut direalisasikan dengan berbagai peristiwa seperti gempa bumi, tsunami dan seterusnya. Semakin besar pelanggaran manusia atas sistem dan syariat Allah, semakin besar pula peristiwa alam yang Allah timpakan pada mereka.

Ada beberapa kata dalam al-quan yang dipadankan dengan bencana, yaitu al-kubar, nailan dan dari delapan kata bencana salah satunya adalah adzab, jadi adzab pun termasuk siksaan dari bencana. Adzab dalam Al-Quran Surah At-Taubah:26:

ثُمَّ أَنَزلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُوداً لَّمْ تَرَوْهَا وَعذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَذَلِكَ جَزَاء الْكَافِرِينَ

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir”.

Ayat ini menjelaskan tentang perang Hunain, dimana pada perang ini kaum muslimin mundur dan bercerai berai, namun Rasulullah tetap kokoh dengan mengendarain bighal yang berwarna putih, dan pada perang ini Rasulullah mencerminkan keberanian yang sempurna. karena pada saat itu ketika Rasul berada dimedan perang sementara tentaranya telah meninggalkannya. Semua itu dilakukan karena penuh kepercayaan kepada Allah, ketaqwaan kepadanya, dan keyakinan bahwa beliau akan ditolongNya sehingga sempurnalah risalah yang dibawa oleh Nabi. pada perang Hunain itu ummat muslim menang. Kemudian allah menurunkan ketenangan kepada Rasul dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang tidak dilihat oleh lawan, Allah mengirim azab bagi orang-orang kafir. Setelah itu Allah menerima taubat bagi orang yang dikehendakinya dari kaum khawarij, sehingga mereka masuk islam bergabung dengan Rasulullah.[7] Sudah jelas bahwa azab akan dating kepada orang-orang yang mengingkari Allah dan azabnya berupa bencana bagi dirinya.

Al-Quran mengelompokan bencana menjadi dua, kelompok bencana yang menjadi ujian dan kelompok bencana yang menjadi siksa, dan azab ini termasuk dalam kelompokan yang menjadi siksa yang diakibatkan perilaku zalim, ayat Al-quran tentang perilaku zalim terdapat pada Surah Ali Imran ayat 117 yang artinya “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. bencana pada perubahan maksiat terdapat pada ayat berikut “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik”. (QS. Al-A’raf: 7: 165), dan bencana yang menjadi siksa terdapat pada Surah Al-Ra’ad: 13: 31 yang artinya: “Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia)[774]. Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, Sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.[8]

Bencana yang diakibatkan oleh perilaku maksiat, zalim, dan tidak beriman yang disengaja, maka bencana itu menjadi siksa, namun jika yang dimaksudkan bencana alam, maka Al-quran selalu mengelompokannya kedalam bencana yang menjadi siksa dan terkait dengan perilaku tidak beriman. pengelompokan terhadat ayat gempa pada surah Al-Ana’m ayat 65:

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

Artinya:

“Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu[482] atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti[483] agar mereka memahami(nya)”.[9]

Ayat ini menjelaskan tentang kebesaran-kebesaran Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala berfirman berfirman sambil mengingatkan kepada hamba-hambaNya bahwa Dia telah menyelamatkan mereka yang mendapat kemudahan dari kegelapan daratan dan lautan. Sehubungan dengan Firman Allah surah Al-An’am ayat 65, Al-Bukhari Rahimahullah meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, dia berkata:

“Tatkala ayat katakanlah, dialah yang maha kuasa untuk mengirimkan azab kepadamu dari atasmu ini diturunkan, maka Rasulullah saw, bersabda: Aku berlindung dengan Zat-Mu, ketika turun atau dari bawah kakimu, maka Nabi saw, bersabda: Aku berlindung dengan Zat-Mu, ketika turun atau Dia mencampurkan kamu dalam berbagai golongan lalu sebagian sabda, ini lebih ringan atau lebih mudah”. (HR. An-Nasa’i)

Firman Allah Ta’ala. “sebagian kamu merasakan bencana kepada sebagian yang lain. “Ibnu Abbas dan Ulama lainnya menafsirkan. “Allah menjadikan sebagian kamu sebagai penyiksa dan pembunuh sebagian yang lain. firman Allah Ta’ala, “perhatikanlah, bagaimana kami menjelaskan ayat-ayat itu”, menerangkan dan pada suatu waktu Dia menjelaskannya dan lain waktu Dia menerangkannya. “ agar mereka memahami dan merenungkan ikhwal Allah, ayat-ayat, hujah-hujah dan dalil-dalilNya.[10]

IV. Stategi Menghadapi Azab

Salah satu penangkal azab adalah istighfar. Dalam Alquran Surah Al-Anfaal ayat 33 Allah berfirman, ”Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka (hamba-Nya), sedang kamu (Nabi Muhammad SAW) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka (hamba-Nya) sedang mereka meminta ampun. Pertama Allah menjamin bahwa selama Nabi masih berada di tengah umatnya, tidak akan ada azab. Jaminan kedua adalah azab tidak akan ada kalau hamba-Nya beristighfar.[11]

Cobaan dan ujian adalah sunnatullah yang Allah ‘berlakukan’ terhadap hamba-hamba-Nya di muka bumi. Ada beberapa gambaran mengenai hal ini dari Alquran dan hadits. Setidaknya seperti berikut.

Ø Cobaan dan ujian adalah sarana untuk mengungkap keimanan seseorang; apakah ia benar-benar beriman atau tidak. “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 1-3)

Ø Cobaan dan ujian merupakan hakikat dari kehidupan manusia di dunia.
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 1-2).

Ø Cobaan dan ujian alat introspeksi diri dan pelajaran agar manusia dapat lebih baik dalam beribadah kepada Allah swt. Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (Al-Qashas: 40).

Ø Cobaan dan ujian sebagai sarana peningkatan ketakwaan seseorang kepada Allah swt. Dari Sa’d bin Abi Waqash, aku bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka. Seorang hamba diuji Allah berdasarkan keimanannya. Jika keimanannya kokoh, maka akan semakin berat cobaannya. Namun jika keimanannya lemah, maka ia akan diuji berdasarkan keimanannya tersebut. Dan cobaan tidak akan berpisah dari seorang hamba hingga nanti ia meninggalkannya berjalan di muka bumi seperti ia tidak memiliki satu dosa pun. (HR. Turmudzi).

Ø Cobaan dan ujian merupakan salah satu bentuk cinta Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Besarnya suatu pahala adalah tergantung dari besarnya ujian dari Allah. Dan sesungguhnya Allah swt. apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka. Jika (dengan ujian tersebut) mereka ridha, maka Allah pun memberikan keridhaan-Nya. Dan siapa yang marah (tidak ridha), maka Allah pun marah terhadapnya.” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah).[12]

“Dan kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan yg mereka perbuat niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi ini satu makhluk melata pun akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yg telah ditentukan. Maka apabila datang ajal mereka maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya”.

Manusia adalah makhluk Allah yg mempunyai potensi berbuat baik atau jahat, taat atau durhaka. Setiap orang pernah berbuat dosa kecuali yg dijaga Allah darinya. Pernahkah kita membayangkan jika saja pada tiap kali manusia berbuat dosa Allah langsung menghukumnya dengan siksa-Nya? Jika Allah melakukan itu niscaya bumi ini akan kosong. Tetapi Allah Maha Bijaksana dan Maha Penyayang Dia tidak melakukan itu justru Dia memberi penangguhan bagi manusia sehingga dengan demikian manusia mempunyai waktu untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya. Walaupun demikian ada saja orang-orang bodoh yg tertipu krn tidak mengerti. Pelaku dosa merasa tidak berdosa dgn perbuatannya krn ia tidak langsung mendapat hukumannya. Ia merasa bebas dan merdeka berbuat tanpa ada yg akan menghukumnya. Dengan begitu ia semakin tenggelam dalam dosa dan kesesatannya. Begitu juga orang yg melihat mereka tanpa ilmu dan iman. Melihat orang-orang jahat dan pendosa tidak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka hal itu akan mendorong mereka utk ikut langkah mereka krn keburukan itu gampang menularnya daripada kebaikan. Menularkan keburukan tak perlu kampanye susah payah. Cukup lakukan dan berikan contoh niscaya akan banyak yg meniru. Sebaliknya kebaikan harus disebarkan dgn susah payah agar orang mau mengikutinya. Seseorang mungkin dgn mudah bisa lepas dari hukum manusia atau hukum dunia. Tetapi ia tidak akan bisa menghindar sama sekali dari hukum Allah di akhirat kelak. Ia tidak akan dapat meminta penangguhan sedikit pun krn ia telah diberikan penangguhan itu di dunia namun ia tidak memanfaatkannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yg tersembunyi dari Allah. Maka janganlah seseorang yg berbuat dosa tetapi belum mendapat azab atas perbuatannya menyangka bahwa Allah tidak tahu atau tidak murka dgn perbuatannya. Jika ia berpikiran demikian sungguh ia telah tertipu oleh kebodohannya sendiri. Sesungghnya azab dunia itu jauh lbh ringan daripada azab akhirat. Azab akhirat jauh lbh berat dan lbh pedih di luar yg dapat dibayangkan manusia. Bayangkanlah betapa panasnya lahar yg mengalir dari letusan gunung berapi. Kemudian bayangkan bahwa Anda berada di dalam lahar itu. Nah ketahuilah bahwa panas dunia ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh panas neraka. Bisakah kita membayangkan pedihnya disiksa dgn api yg lbh panas tujuh puluh kali dari api dunia ini? Sungguh kepedihan yg tak terperikan.Maka sungguh beruntunglah orang yg memanfaatkan kesempatan taubat yg diberikan Allah. Dan merugilah orang yg diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya. Penyesalan di akhirat nanti tidak akan berguna sedikit pun. Penyesalan di dunia adl suatu awal yg baik utk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya. Jadi jika kita berbuat suatu dosa namun tidak mendapat hukumannya waspadalah akan azab akhirat. Justru seorang mu’min yg diberi hukuman oleh Allah di dunia atas dosa-dosanya berarti telah bebas dari hukuman akhirat jika ia benar-benar bertaubat. Contohnya adl seseorang yg dirajam krn berzina niscaya jika ia ikhlas menjalaninya maka itu sudah cukup baginya. Oleh krn itu Rasulullah berkata kepada orang yg mencela wanita yg dirajam krn berzina bahwa wanita itu telah bertaubat dan jika taubatnya itu dibagikan kepada penduduk Madinah niscaya akan mencukupi mereka. Dengan ditegakkannya rajam atasnya berarti ia telah bebas dari azab akhirat atas perbuatan zina.[13]

Allah Ta’ala telah memperlihatkan kemahakuasaannya atas segala sesuatu. Tidak ada segala peristiwa yang terjadi di alam semesta yang terlepas dari iradah-Nya. Maka, berbagai peristiwa alam, yang begitu dahsyat, dan mempunyai dampak yang sangat luar biasa, khususnya bagi kehidupan manusia, tak lain hanya karena sudah berlangsungnya kemaksiatan di seluruh sisi kehidupan. Saat ini, tak ada lagi tempat-tempat yang terbebas dan terlepas dari kemaksiatan dan kedurhakaan. Hidup ini hampir dipenuhi dengan sikap penyimpangan, pelanggaran, dan penolakan yang terang-terangan terhadap hakikat perintah dan larangan dari Allah Ta’ala. Segala kemaksiatan dan penyimpangan termasuk kekafiran terhadap nilai-nilai ajaran Allah, begitu sangat kuat, dan bahkan menjadi kebanggaan. Jika  Allah Azza Wa Jalla, menurunkan azab dan bala’ berupa bencana, dan bentuk-bentuk azab lainnya, tak lain itu merupakan buah langsung dari tindakan manusia itu sendiri.

“Dan musibah apa saja yan menimpamu itu adalah disebabkan oelh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (Asy-Syura : 30). Tetapi, manusia yang sudah melanggar dan menjauh dari perintah Allah itu, tak banyak diantara mereka yang menyadari atas segala kekeliruan itu, dan kemudian kembali ke jalan kebenaran. Tapi, kebanyakan manusia, justru tetap  bermaksiat.“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri”. (An-Nisa : 79).

Allah Ta’ala telah memberikan ganjara di dunia dengan berbagai pesan yang sangat jelas, baik itu berupa azab, kenikmatan, dan siksaan, semua telah berlaku pada umat terdahulu. Para pelaku keburukan dan kejahatan serta tindakan yang menyeleweng dan menyimpang seperti, kaumnya Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Luth, penduduk Madyan, dan kaumnya Fir’aun, selama mereka berada di dunia, mereka sudah dihancur-leburkan oleh Allah Rabbul Aziz. Apalagi, bila yang berbuat maksiat itu bukan hanya rakyat , tapi justru para pemimpin, yang menjadi tauladan dalam kedurhakaan kepada Allah. Seperti berbuat tidak adil, berdusta (berbohong), bersumpah palsu, bertindak sewenang-wenang, menjauhkan rakyat dan kaumnya dari agama Allah, membunuh dengan tanpa alasan yang sangat jelas, dan dibolehkan  oleh Allah. Maka, semua itu akan menyebabkan lahirnya bencana dan azab dari Allah Ta’ala.

“Wahai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Ad, dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tiak ada bagimu seseorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seseorang pun yang akan memberi petunjuk”. (al-Mukmin : 30-33).

Maka, bagi mereka yang mendapatkan amanah, hendaknya berlaku jujur, tulus, dan tidak berbohong, dan membohongi terhadap yang sudah memberikan amanah. Kehidupan akan menjadi senang, terus terjadi kekacauan, tidak adanya ketenteraman, manakala sebuah negeri dikuasai dan dipimpin orang yang fasik dan fajir, dan bohong serta dusta menjadi ‘manhaj’ dalam hidupnya.

III. Kesimpulan

a) Semua peristiwa dan bencana yang kita saksikan di atas bumi dan alam semesta ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melaikan sesuai kehendak dan ketentuan Tuhan Penciptanya, yakni Allah Ta’ala.

b) Berbagai persitiwa dan bencana itu disebabkan kedurahakaan dan kesombongan manusia terhadap Allah dan syari’at Allah serta berbagai dosa-dosa yang mereka lakukan, sehingga Allah menurunkan berbagai azab atas mereka.

c) Orang-orang kafir, sombong dan ingkar pada Allah dan Rasul-Nya melihat berbagai peristiwa tersebut murni hanya sebagai peristiwa alam yang terlepas dari kehendak Allah. Mereka tidak dapat mlihatnya sebagai sebuah azab, teguran atau cobaan. Melaikan hanya menambah kesombongan dan kekufiran kepada Allah. Sikap yang mereka kembangkan juga seakan melawan kehendak Allah SWT.

Namun sayang sepanjang perjalanan umat manusia, belum ada satupun manusia yang mampu mengalahkan dan melawan kehendak Allah, kendati Fir’aun yang begitu hebat memiliki semuak kekuatan saat berkuasa, namun tenggelam juga di laut merah dan bangkai dapat kita saksikan sekarang disebuah museum di Mesir. Demiakian juga dengan Negara-negara maju teknolohi hari ini seperti jepang, Eropa dan Amerika. Belum pernah mereka mampu menahan gempa bumi, tsunami dan berbagai bencana yang Allah turunkan di negeri mereka. Semuanya lemah dan tak berdaya di hapadan kehendak Allah. Sebaliknya, orang-orang beriman akan melihat semua peristiwa yang terjadi merupakan ujian dan teguran dari Allah. Mereka akan segera kembali dan bertaubat pada Allah. Semakin taat pada aturan Allah, baik yang terkait dengan sunnatullah maupun syari’at Allah. Demikianlah dalam pandangan Islam Azab adalah suatu kesulitan yang Allah berikan kepada manusia akibat kesalahan yang dilakukan manusia sehingga Allah murka dan menimpakan bencana (siksaan) yang amat pedih.

Daftar Pustaka

Al-Munjid Fillugoh wal-A’lam. Copyrigh 2002, publishers B. P. 110946. Dar el-Machregh sarb, Riad el-solh Beyrouth Libanon.

http://www.darelmachreq.com

http://mediaislam.oaseadwan.info/sms-dan-pesan-berantai-ayat-al-quran-ttg-azab-gempa-yang-meresahkan/

http://www.Republika.co.id/koran_detail. Republika Penangkal Azab.

http://www.parapemikir.com

John M. Echols and Hassan Shadily. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996.

Muhammad Husin Tabataba’i dalam “Tafsir Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran”.

Muhammad Nasib Ar-Rifa’i. Kemudahan dari Allah Ringkasan Ibnu Katsir jilid 2. Jakarta: Gema Insani, 1999.

Muhammad Syarif Hidayatullah. Tinjauan Islam Soal Bencana Alam. Januari, 2009.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1080.

Universitas Islam Indonesia. Al-Quran dan Tafsirnya jilid IV juz 10-12. Yogyakarta: PT Dana Bhakti Wakaf, 1990.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA. Wawasan Al-Quran “Tafsir Maudhu’i atas Berbagai Persoalan Umat”. Jakarta: Miza, 2004.


[1] Al-Munjid fillugoh wal-A’lam. Copyrigh 2002, publishers B. P. 110946. Dar el-Machreg sarb, Riad el Solh Beyrouth Libanon. hal 518. http://www.darelmachreq.com

[2] John M. Echols and Hassan Shadily. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996, hlm. 456.

[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1080.

[4] Muhammad Husin Tabataba’i, dalam “Tafsir al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an.

[5] Prof.Dr. M. Quraish shihab, MA. WAWASAN AL-QURAN “ Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat ”, Penerbit Miza, Jakarta : 2004.

[6] www.parapemikir.com is supported by Online Stock

[7] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i. Kemudahan dari Allah Ringkasan Ibnu Katsir jilid 2. Jakarta: Gema Insani, 1999. hal 581-586.

[8] Moch. Syarif Hidayatullah, M. Hum. Tinjauan Islam Soal Bencana Alam. Januari 2009. hal 12-13.

[9][ 482]. Azab yang datang dari atas seperti hujan batu, petir dan lain lain. Yang datang dari bawah seperti gempa bumi, banjir dan sebagainya.

[483]. Maksudnya: Allah s.w.t. mendatangkan tanda-tanda kebesaranNya dalam berbagai rupa dengan cara yang berganti-ganti. Adapula para mufassirin yang mengartikan ayat di sini dengan ayat-ayat Al-Quran yang berarti bahwa ayat Al-Quran itu diturunkan ada yang berupa berita gembira, ada yang berupa peringatan, cerita-cerita, hukum-hukum dan lain-lain.


[10] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i. Kemudahan dari Allah Ringkasan Ibnu Katsir jilid 2. Jakarta: Gema Insani, 1999. hal 225-229.

[11] http://www.Republika.co.id/koran_detail. Republika Penangkal Azab.

[13] Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia sumber file al_islam.chm

About these ads

2 Komentar (+add yours?)

  1. naifu
    Jan 04, 2011 @ 08:14:24

    iyaaaahh …. sama-sama :-)

    Balas

  2. naifu
    Apr 08, 2011 @ 08:32:29

    thanks

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: