Keluarga Sakinah Dalam Perspektif Al-Qur’an

Keluarga Sakinah Dalam Perspektif  Al-Qur’an

Oleh : Nur Syifah Yani

Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan bermasyarakat, pernikahan adalah sebuah hal yang sangat di anjurkan dikarenakan dengan melangsungkan pernikahan, manusia dapat meneruskan keturunan serta dapat menjalin silaturahmi kepada orang lain atau masyarakat lain.

Setiap agama pun menganjurkan setiap penganutnya yang sudah merasa mampu, untuk melangsungkan pernikahan. Dengan tujuan selain untuk meneruskan keturunan juga untuk membina keluarga yang sakinah atau harmonis.

Dalam agama Islam, pernikahan adalah salah satu ajaran penting. Begitu pentingnya ajaran tentang pernikahan tersebut sehingga dalam Al qur’an terdapat beberapa ayat Al qur’an yang menerangkan hikmah-hikmah yang terkandung dalam jalinan sebuah pernikahan.

Selain dalam agama, pernikahan juga diatur oleh undang-undang yang berlaku di negara. Yang di dalamnya menjelaskan tentang kewajiban dan hak bagi pasangan yang telah mengadakan pernikahan.

Keberadaan nikah itu sejalan dengan lahirnya manusia di atas bumi dan merupakan fitrah manusia yang diberikan Tuhan terhadap hamba-Nya. Pernikahan juga dipandang sebagai kemaslahatan umum, sebab kalau tidak ad pernikahan, tentu manusia akan menurutkan sifat kebinatangan, dan dengan sifat itu akan timbul perselisihan, bencana dan permusuhan antara sesama.

Demikianlah maksud pernikahan yang sejati dalam islam. Singkatnya, untuk kemaslahatan dalam rumah tangga dan keturunan, juga untuk kemaslahatan masyarakat.

Namun, yang saat ini terjadi di kalangan masyarakat sangatlah berbeda. Terkadang tidak sedikit yang dengan mudahnya memutus suatu hubungan pernikahan dengan perceraian. Mungkin semua itu terjadi dikarenakan karena kurang pemahaman tentang tujuan serta hikmah yang terkandung dalam sebuah pernikahan.

Oleh karena itu, dalam pembahasan singkat berikut akan dijelaskan secara global tentang (1) Pengertian atau makna pernikahan (2) Undang-undang yang mengatur pernikahan pada negara Indonesia (3) tujuan serta hikmah dibalik sebuah pernikahan

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Pernikahan mempunyai banyak sekali pengertian, salah satunya yaitu Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmi suatu ikatan secara hukum agama, hukum negara, dan hukum adat.[1]

Dalam terjemahan kitab Fathul Qorib, pernikahan di artikan akad yang memperbolehkan bersetubuh (asalkan terpenuhi syarat rukunya), dengan tujuan istimna’ menjalin kasih sayang untuk mencapai kepuasan lahir bathin untuk menghindari pandangan mata yang haram, melestarikan keturunan yang shaleh dan mendoakan kedua orang tuanya.[2]

Selain itu di dalam Al qur’an pun terdapat beberapa ayat yang mengandung pengertian pernikahan seperti pada surat An nisa. Pada surat An nisa banyak sekali dijelaskan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan maslah pernikahan. Mulai dengan syarat-syarat dalam memilih pasangan sampai hikmah dari pernikah pun dipaparkan secara jelas.

Dalam Al-Quran ada dua kata yang menunjukkan konsep pernikahan, yaitu zawwaja berjumlah lebih kurang dalam 20 ayat dan nakaha sebanyak lebih kurang dalam 17 ayat (Al-Baqi 1987: 332-333 dan 718). Yang dimaksud dengan nikah dalam konteks pembicaraan ini adalah ikatan (aqad )perkawinan.[3]

Jadi dapat disimpulkan dari beberapa pengertian diatas bahwa, pernikahan adalah akad yang dapat menghalalkan suatu pergaulan dan membatasi hak serta kewajiban serta tolong menolong antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

Nikah adalah salah satu asa pokok hidup yang paling utama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna. Pernikahan itu bukan saja merupakan satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetapi juga dapat dipandang sebagai satu jalan menuju pintu perkenalan antar suatu kaum dengan kaum lain, dan perkenalan itu akan menjadi jalan untuk menyampaikan pertolongan antara satu dengan yang lainnya.

Sebenarnya pertalian nikah adalah pertalian yang seteguh-teguhnya dalam hidup dan kehidupan manusia, bukan saja antara suami, istri dan keturunannya, melainkan antara dua keluarga.

B. Undang-Undang Pernikahan

Seperti yang telah di jelaskan diatas, bahwa bukan hanya di dalam agama saja pernikahan itu di atur, namun hampir di dalam setiap negara memiliki perundang-undangan mengenai pernikahan.

Begitu pula dalam negara kita ini. Di negara Indonesia ini ada beberapa pasal dalam undang-undang yang menjelaskan secara terperinci tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah pernikahan.

Undang-undang pernikahan tertera pada No 1 pada tahun 1974. Didalam undang-undang pernikahan terdapt 14 bab yang masing-masing bab memiliki pasal-pasal.

Di dalam undang-undang tersebut juga dijelaskan tentang pengertian dari pernikahan yaitu Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.[4]

Selain menerangkan pengertian dari pernikahan, undang-undang juga membahas tentang syarat-syarat sah pernikahan, hak dan kewajiban pada masing-masing pasangan, serta hal-hal lain yang sangat berkaitan dengan masalah pernikahan.

C. Tujuan dan hikmah dalam pernikahan

Dalam pendahuluan telah di paparkan tentang kasus saat ini yang banyak terjadi dilingkungan masyarakat, yaitu banyaknya yang dengan mudah memutuskan hubungan pernikahan dengan jalan perceraian. Dan tidak sedikit pula yang berakhir dengan saling bermusuhan atau tidak secara damai.

Jika dicermati, penyebab yang mungkin saja ada di antara keduanya karena kurang fahamnya dan kurang mengertinya tujuan serta hikmah yang terkandung di dalam sebuah pernikahan.

Ada beberapa tujuan pernikahan yangseharusnya di pegang teguh oleh masing-masing pasangan sebelum dan sesudah menikah agar  pernikahannya dapat langgeng dan tidak akan mengalami perceraian.

Salah satu ayat yang biasanya dikutip dan dijadikan sebagai dasar untuk menjelaskan tujuan pernikahan dalam Al-Quran adalah

30_21

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Berdasarkan ayat di atas jelas bahwa Islam menginginkan pasangan suami istri yang telah membina suatu rumah tangga melalui akad nikah tersebut bersifat langgeng. Terjalin keharmonisan di antara suami istri yang saling mengasihi dan menyayangi.

Rumah tangga seperti inilah yang diinginkan Islam, yakni rumah tangga sakinah, sebagaimana disyaratkan Allah SWT dalam surat ar-Rum (30) ayat 21 di atas. Ada tiga kata kunci yang disampaikan oleh Allah dala ayat tersebut, dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga yang ideal menurut Islam , yaitu sakinah (as-sakinah), mawadah (al-mawaddah), dan rahmat (ar-rahmah). Ulama tafsir menyatakan bahwa as-sakinah adalah suasana damaiyang melingkupi rumah tangga yang bersangkutan; masing-masing pihak menjalankan perintah Allah SWT dengan tekun, saling menghormati dan saling toleransi.

Dari suasana as-sakinah tersebut akan muncul rasa saling mengasihi dan menyayangi (al-mawadah), sehingga rasa tanggung jawab kedua belah pihak semakin tinggi. Selanjutnya, para mufasir mengatakan bahwa dari as-sakinah dan al-mawadah inilah nanti muncul ar-rahmah, yaitu keturunanyang sehat dan penuh berkat dari Allah SWT, sekaligus sebagai pencurahan rasa cinta dan kasih suami istri dan anak-anak mereka. [5]

Jika tujuan yang telah disebut di atas terealisasikan, maka dalam pernikaan tersebut akan muncul hikmah-hikmah yang sangat baik dan bagus untuk keduanya maupun bagi keluarga dan lingkungannya.

Seperti yang telah dijelaskan didalam Al qur’an surat An nisa yang berbunyi :

An Nisa : 26

4_26

Allah hendak menerangkan (hukum syari´at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

An Nisaa :27,

4_27

Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).

An Nisaa :28,

4_28

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.

Tafsir :

Setelah Allah Ta’ala menerangkan hukum-hukum yang berhubungan dengan rumah tangga dan perkawinan : mana yang halal mana yang haram, Allah menjelaskan dalam ayat ini hikma-hikmah yang terkandung didalamnya.

26. Allah menerangkan kepada kaum muslimin apa-apa yang belum jelas baginya dan memberinya petunjuk kepada jalan-jalan yang ditempuh oleh para Nabi dan sholihin sebelumnya, yaitu hokum yang tersebut dalam ayat 19,20  dan 21 diantaranya yang mengenai hubungan rumah tangga diantara suami istri, seperti bergaul dengan istri dengan cara yang sebaik-baiknya dan mahar istri yang dicerai tidak boleh diambil kembali karena mahar itu telah menjadi hak sepenuhnya. Jika mereka mengikuti petunjuk Allah itu, dengan melaksanakan perintah Nya dan berbuat amal kebajikan, niscaya amal itu dapat menghapus dosa-dosanya.

27. (Allah bermaksud memberi ampunan kepada mereka dengan melaksanakan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya, agar mereka menyucikan dan membersihkan diri mereka lahir batin, meskipun orang-orang yang mengikuti syahwat dan hawa nafsunya, selalu berpaling dari jalan yang lurus, dan menarik orang-orang mukmin supaya ikut terjerumus bersama mereka kelembah kesesatan, karena dengan melaksanakan perintah Allah dan menta’atinya untuk kebaikan dan kebahagian mereka. Allah melarang menikahi perempuan-perempuan yang tersebut pada ayat 22,23 dan 24 adalah karena menikahi perempuan-perempuan tersebut akan mengakibatkan kesusahan masyarakat dan mengacaubalaukan hubungan nasab dan hubungan keluarga, sedang keluarga itu adalah menjadi pokok dan tiang bagi kebahagiaan masyarakat. Perempuan-perempuan selain yang tersebut itu boleh dinikahi untuk memelihara kelanjutan keturunan, menghindarkan masyarakat dari kekacauan dan terperosok kedalam jurang perzinahan dan lain sebagainya.

28. (Allah menghendaki keringanan bagi kaum muslimin, karena itu Allah membolehkan mereka yang kurang sanggup memberi belanja untuk menikahi seorang hamba sahaya, dan Dia memberi tahukan pula banwa mannusia itu diciptakan dalam keadaan lemah, terutama dalam menghadapi keadaan hawa nafsunya. Oleh karenaya hendaklah kaum muslimin menjaga dirinya agar jangan sampai melakuklan pelanggaran, seperti berzina dan lain sebagainya. Ini semuanya dalam rangka membentengai manusia dari pengaruh-pengaruh setan dan hawa nafsu yang bias menjerumuskannya. Maka harus menyadari sendiri bahwa dia dijadikan bersifat lemah, karena itu perlu memmbentengi dirinya dengan iman yang kuat dan perlu mengetahui tuntunan Allah dan cara-cara mengatasi godaan hawa nafsunya.

Kesimpulan :

1. Allah menetapkan hukum-hukum itu sesuai dengan syari’at dan ajaran Nabi-nabi yang terdahulu adalah untuk kemashlahatan manusia dan kebahagiaan hidupnya didunia dan akhirat.

2. Kaum muslimin harus mengikuti perintah itu dan menjauhi larangan Nya meskipun banyak di antara manusia yang menggodanya untuk menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Nya.

3. Allah memberikan keringanan kepada orang yang tidak mampu menikahi perempuan merdeka untuk menikahi hamba sahaya yang beriman. Semua itu adalah sebagian anugrah dan rahmat Nya kepada hamba Nya.[6]

Selain yang telah diterangkan serta di tafsirkan ayat di atas, ada beberapa hikmah penting didalam sebuah pernikahan yaitu diantaranya adalah :

1.         Menyalurkan naluri seksual secara sah dan benar. Secara alami, naluri yang sulit dibendung oleh setiap manusia dewasa adalah naluri seksual. Islam ingin menunjukkan bahwa yang membedakan manusia dengan hewan dalam menyalurkan naluri seksual adalah melalui perkawinan, sehingga segala akibat negatif yang ditimbulkan oleh penyaluran seksual secara tidak benar dapat dihindari sedini mungkin. Oleh karena itu, ulama fiqh menyatakan bahwa pernikahan merupakansatu-satunya cara yang benar dan sah dalam menyalurkan naluri seksual, sehingga masing-masing pihak tidak merasa khawatir akan akibatnya. Inilah yang dimaksudkan Allah SWT dalam firman-Nya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciftakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang …” (QS.30:21). Berkaitan dengan hal itu, Rasulullah SAW bersabda : “Wanita itu (dilihat) dari depan seperti setan (menggoda), dari belakang juga demikian. Apabila seorang lelaki tergoda oleh seorang wanita, maka datangilah (salurkanlah kepada) istrinya, karena hal ituakan dapat menentramkan jiwanya” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmizi).

2.         Cara paling baik untuk mendapatkan anak dan mengembangkan keturunan secara sah. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda: “Nikahilah wanitayang bisa memberikan keturunan yang banyak, karena saya akan bangga sebagai nabi yang memiliki umat yang banyak dibanding nabi-nabi lain di akhirat kelak” (HR. Ahmad bin Hanbal).

3.         Menyalurkan naluri kebapakan atau keibuan . Naluri ini berkembang secara bertahap, sejak masa anak-anak sampai masa dewasa. Seorang manusia tidakakan merasa sempurna bila tidak menyalurkan naluri tersebut.

4.         Memupuk rasa tanggung jawab dalam rangka memelihara dan mendidik anak, sehingga memberikan motivasi yang kuat bagi seseorang untuk membahagiakan orang-orang yang menjadi tanggung jawab.

5.         Membagi rasa tanggung jawab antara suami dan istri yang selama ini dipikul masing-masing pihak.

6.         Menyatukan keluarga masing-masing pihak, sehingga hubungan silaturrahmi semakin kuat dan terbentuk keluarga baru yang lebih banyak.

7.         Memperpanjang usia. Hasil penelitian masalah-masalah kependudukan yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1958 menunjukkan bahwa pasangan suami istri mempunyai kemungkinan lebih panjang umurnya dari pada orang-orang yang tidak menikah selama hidupnya.

PENUTUP

Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa pernikahan merupakan suatu pokok yant utama untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan yang akan merupakan susunan masyarakat kecil, dan nantinya akan menjadi anggota dalam masyarakat luas. Tercapainya tujuan tersebut sangat bergantung pada eratnya hubungan antara kedua suami istri dan pergaulan baik antara keduanya.

Dengan mengetahui tujuan dari suatu pernikahan diharapkan bahwa akan harmonisnya suatu hubungan dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan rohmah serta memiliki keturunan yang baik-baik dan soleh solehah.

Jika terjalin keluarga yang harmonis maka tidak mustahil akan menghasilkan hikmah-hikmah yang baik pula dan sangat bermanfaat bagi suami istri pada khususnya dan pada lingkungan masyarakat pada umumnya.


About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: