Gangguan Jiwa “Gangguan Konsep diri (Harga Diri Rendah) dalam Perspektif Al Quran

Gangguan Jiwa “Gangguan Konsep diri (Harga Diri Rendah) dalam Perspektif Al Quran

Oleh: Siti Zulfah

Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta

I. Pendahuluan

Semua manusia yang hidup di dunia pasti bermasalah, sebab hidup sendiri adalah bagian dari masalah, oleh karena itu seyogyanya kita hidup jangan takut dengan masalah tetapi kita mencoba memahami masalah yang ada dan menghadapinya secara rasional dan realistis.

Masalah biasanya diartikan sebagai suatu kesenjangan, ketidaksesuaian, atau ketidak cocokkan antara ide dan kenyataan, antara yang seharusnya dengan fakta yang ada, atau antara keinginan dan harapan dengan realitas yang terjadi, dengan kata lain terjadinya sesuatu yang tidak dinginkan, seperti dikemukakan oleh Arikunto, yaitu sesuatu yang tidak beres, dalam arti tidak atau belum sesuai dengan kondisi yang seharusnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diterangkan bahwa masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan), soal, atau persoalan. Apapun namanya, umumnya masalah itu terjadi tidak dikehendaki dan bahkan menyakitkan, sehingga bagi sebagian kita yang yang tidak mampu mengenali hakikat masalah dan tidak tahu cara menghadapinya dengan baik maka ia akan mengganggu kesetabilan pribadi, dan terjadilah pribadi bermasalah, malasuai, maladaptif, dan sejenisnya. Akan tetapi tanpa kita sadari masalah pun terkait dengan jiwa, bahkan kesehatan jiwa. [1]

Kesehatan jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di negara-negara maju. Meskipun masalah kesehatan jiwa tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabakan kematian secara langsung, namun gangguan tersebut dapat menimbulkan ketidakmampuan individu dalam berkarya serta ketidaktepatan individu dalam berprilaku yang dapat mengganggu kelompok dan masyarakat serta dapat menghambat pembangunan karena mereka tidak produktif. Contohnya masalah konsep diri. [2]

Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina hubungan interpersonal.

Meski konsep diri tidak langsung ada, begitu individu di lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan perkembanga individu, konsep diri akan terbentuk karena pengaruh ligkungannya . selain itu konsep diri juga akan di pelajari oleh individu melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk berbagai stressor yang dilalui individu tersebut. Hal ini akan membentuk persepsi individu terhadap dirinya sendiri dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman akan situasi tertentu.[3]

Gambaran penilaian tentang konsep diri dapat di ketahui melalui rentang respon dari adaptif sampai dengan maladaptif. Konsep diri itu sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu : gambaran diri (body Image), ideal diri, harga diri, peran dan identitas.

Tanpa disadari banyak dari kita selalu menyalahkan diri sendiri, mengatakan kata-kata “ saya memang bodoh, saya tidak mampu, saya tidak tahu apa”, bahkan sampai ada yang menarik diri, kepercayaan diri kurang, pesimis,  itu semua sudah merupakan criteria gangguan jiwa , yang biasa disebut HDR (harga diri rendah).

II. Pembahasan

Pembahasan yang akan dibahas adalah gangguan jiwa dengan gangguan konsep diri (harga diri rendah) dalam perspektif Al Qur’an.  Jiwa dalam bahasa Arab adalah Nafs. Kata  Nafs  dalam  Al-Quran mempunyai  aneka  makna, seperti  antara  lain maksud  surat  Al-Maidah  ayat  32,  di lain sisi  ia menunjuk kepada apa yang terdapat dalam diri manusia yang  menghasilkan tingkah laku seperti maksud kandungan firman Allah.:

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ

مِنْ وَالٍ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan satu masyarakat, sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri mereka (QS Al-Ra’d [13]: 11)

Kata nafs digunakan juga untuk menunjuk kepada  “diri  Tuhan”(kalau  istilah  ini dapat diterima), seperti dalam firman-Nya

Dalam surat Al-An’am {6): 19:

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادةً قُلِ اللّهِ شَهِيدٌ بِيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللّهِ آلِهَةً أُخْرَى قُل لاَّ أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ

Secara  umum  dapat  dikatakan  bahwa   nafs   dalam   konteks pembicaraan   tentang  manusia,  menunjuk  kepada  sisi  dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk.

Dalam pandangan Al-Quran, nafs diciptakan Allah dalam  keadaan sempurna  untuk  berfungsi  menampung  serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan, dan  karena  itu  sisi  dalam manusia  inilah  yang  oleh  Al-Quran  dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar.

Penyebab Umum Gangguan jiwa

Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga, secara somato-psiko-sosial. Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yang patologik dari unsur psikis. Hal ini tidak berarti bahwa unsur yang lain tidak terganggu. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia ialah keturunan, usia dan Jenis Kelamin, keadaan fisik, keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan, pernikahan dan kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa permusuhan, hubungan antar manusia, dan sebagainya.

Sumber penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh faktor-faktor pada ketiga unsur itu yang terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :

Faktor-faktor somatik (somatogenik)

  • Neuroanatomi
  • Neurofisiologi
  • neurokimia
  • tingkat kematangan dan perkembangan organik
  • faktor-faktor pre dan peri – natal

Faktor-faktor psikologik ( psikogenik) :

Interaksi ibu –anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak percaya dan kebimbangan)

  • Peranan ayah
  • Persaingan antara saudara kandung
  • inteligensi
  • hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
  • kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah
  • Konsep diri : pengertian identitas diri sendiri versus peran yang tidak menentu
  • Keterampilan, bakat dan kreativitas
  • Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya
  • Tingkat perkembangan emosi

Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)

  • Kestabilan keluarga
  • Pola mengasuh anak
  • Tingkat ekonomi
  • Perumahan : perkotaan lawan pedesaan
  • Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai
  • Pengaruh rasial dan keagamaan
  • Nilai-nilai

Menurut Hurlock konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki individu tentang dirinya meliputi karakteristik fisik, sosial, psikologis, emosional, aspirasi, dan prestasi

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart dan Sudeen, 1998).

Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. Harga diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi harga diri rendah.

Harga diri rendah adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart dan Sundeen, 1998).

Menurut Townsend (1998) harga diri rendah merupakan evaluasi diri dari perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif baik langsung maupun tidak langsung.

Pendapat senada dikemukan oleh Carpenito, L.J (1998) bahwa harga diri rendah merupakan keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri yang negatif mengenai diri atau kemampuan diri.

Dari pendapat-pendapat di atas dapat dibuat kesimpulan, harga diri rendah adalah suatu perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilangnya kepercayaan diri, dan gagal mencapai tujuan yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung, penurunan harga diri ini dapat bersifat situasional maupun kronis atau menahun.

Tanda dan gejala gangguan jiwa harga diri rendah

  • Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
  • Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
  • Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
  • Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
  • Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya.)[4]

Penyebab Harga Diri Rendah

Harga diri rendah kronis terjadi merupakan proses kelanjutan dari harga diri rendah situasional yang tidak diselesaikan. Atau dapat juga terjadi karena individu tidak pernah mendapat feed back dari lingkungan tentang perilaku klien sebelumnya bahkan mungkin kecenderungan lingkungan yang selalu memberi respon negatif mendorong individu menjadi harga diri rendah.

Harga diri rendah kronis terjadi disebabkan banyak faktor. Awalnya individu berada pada suatu situasi yang penuh dengan stressor (krisis), individu berusaha menyelesaikan krisis tetapi tidak tuntas sehingga timbul pikiran bahwa diri tidak mampu atau merasa gagal menjalankan fungsi dan peran. Penilaian individu terhadap diri sendiri karena kegagalan menjalankan fungsi dan peran adalah kondisi harga diri rendah situasional, jika lingkungan tidak memberi dukungan positif atau justru menyalahkan individu dan terjadi secara terus menerus akan mengakibatkan individu mengalami harga diri rendah kronis.

Terjadinya gangguan konsep diri harga diri rendah kronis juga di pengaruhi beberapa faktor predisposisi seperti faktor biologis, psikologis, sosial dan kultural.

Faktor biologis biasanya karena ada kondisi sakit fisik secara yang dapat mempengaruhi kerja hormon secara umum, yang dapat pula berdampak pada keseimbangan neurotransmitter di otak, contoh kadar serotonin yang menurun dapat mengakibatkan klien mengalami depresi dan pada pasien depresi kecenderungan harga diri rendah kronis semakin besar karena klien lebih dikuasai oleh pikiran-pikiran negatif dan tidak berdaya.

Struktur otak yang mungkin mengalami gangguan pada kasus harga diri rendah kronis adalah:

System Limbic yaitu pusat emosi, dilihat dari emosi pada klien dengan harga diri rendah yang kadang berubah seperti sedih, dan terus merasa tidak berguna atau gagal terus menerus.

Berdasarkan faktor psikologis , harga diri rendah konis sangat berhubungan dengan pola asuh dan kemampuan individu menjalankan peran dan fungsi. Hal-hal yang dapat mengakibatkan individu mengalami harga diri rendah kronis meliputi  penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, orang tua yang tidak percaya pada anak, tekanan teman sebaya, peran yang tidak sesuai dengan jenis kelamin dan peran dalam pekerjaan

Faktor sosial: secara sosial status ekonomi sangat mempengaruhi proses terjadinya harga diri rendah kronis, antara lain kemiskinan, tempat tinggal didaerah kumuh dan rawan, kultur social yang berubah misal ukuran keberhasilan individu.

Faktor kultural: tuntutan peran sesuai kebudayaan sering meningkatkan kejadian harga diri rendah kronis antara lain : wanita sudah harus menikah jika umur mencapai duapuluhan, perubahan kultur kearah gaya hidup individualisme.[5]

Menurut beberapa keterangan ayat Al-Qur’an bahwa masalah itu tidak lain adalah sebuah cobaan atau ujian dari Allah Swt. Kepada manusia sebagai hamba-Nya. Semua manusia pasti menghadapi masalah, sebab Allah telah memberikan beberapa ujian atau cobaan kepada hamba-hamba-Nya dengan beberapa hal. Antara lain seperti diterangkan dalam firman Allah berikut.

Solusi dalam Al Quran

“Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan (kecemasan), kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (Q.S.Al-Baqarah;155)”

Ayat tersebut mnejlaskan bahwasanya allah SWT selalu mengingatkan hambanya untuk bersabar.

“Apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci? (Q.S. Muhammad:24).”

Meyakini bahwa disamping kesusahan pasti ada kemudahan. Firman Allah Swt., oleh karena itu manusia hendaklah jangan putus asa bahkan sampai frustasi apabila menghadapi kesulitan

“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan ) yang lain (Q.S. Al-Insyirah: 5-8).”

Satu hal penting, kita harus memahami bahwa frustasi (putus asa) tidak mungkin mendorong kemajuan. Kita memang harus memahami betapa buruknya realitas kita saat ini, baik realita individu atau realita umat; juga memahami seberapa jauh tantangan yang akan kita hadapi, seberapa jauh bahayanya, dan seberapa jauh penyimpangan yang menimpa umat. Akan tetapi, pemahaman itu tidak boleh melampaui batasnya, karena hal itu tidak mungkin mendorong kita untuk berbuat, malah justru akan membuat kita diam saja dan menyerah.

Disamping kegagalan pasti akan ada keberuntungan, asal berusaha dengan sungguh sungguh.

III. Penutup

Berdasarkan beberapa uraian yang telah dipaparkan, maka penulis tutup dengan beberapa kesimpulan. Bahwasanya Allah sangat melarang manusianya untuk berputus asa, menyalahkan diri sendiri, frustasi bahkan sampai berniat untuk bunuh diri ketika mengahadapi kegagalan. Bahkan itu merupakan criteria gangguan Jiwa (Neurosis) dalam bentuk konsep diri harga diri rendah)

Dalam Perspektif Al-Qur’an pun dijelaskan bahwa masalah itu merupakan cobaan atau ujian dari Allah kepada setiap manusia, baik berupa kesusahan dan keburukan, maupun kebaikan atau kenikmatan, dimana manusia akan mendapatkan keberuntungan apabila mampu menerima dan mengatasi cobaan tersebut secara baik dan benar.

Inilah contoh-contoh yang dimiliki umat ini. Pembacaan terhadap makalah ini Insya Allah akan memberikan banyak pelajaran kepada kita, bahwa Allah Swt. pasti akan selalu menolong , yakinkan diri bahwa kita adalah manusia yang berpotensi besar, optimis, bias menyelesaikan masalah dengan baik tanpa frustasi

Ya Allah, kami memohon perlindungan kepada-Mu dari rasa frustasi (putus asa) terhadap rahmat dan karunia-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Mendengar dan Maha Menjawab Doa.


About these ads

5 Komentar (+add yours?)

  1. andriani
    Jul 22, 2010 @ 05:06:54

    you is the best for all people………………………..
    I hope you aou don’t crazy, oce……………….

    Balas

  2. asih
    Apr 22, 2011 @ 16:28:26

    berusaha,,, menyelesaikan masalah,,, apakah salah satu ciri harga diri rendah,
    selalu mengalah tuk orang lain,,, tuk mengharap rido,, allah,,,
    meskipun sakit,, tetap kita jalan kan,,,

    Balas

    • naifu
      Mei 22, 2011 @ 13:21:45

      berusaha menyelesaikan masalah adalah sesuatu kewajiban yang memang harus manusia lakukan. namun bagaimana kita memandang itu masalah sebagai beban atau proses pendewasaan adalah hal yg harus dipertanyakan kepada diri sendiri, jika memang benar tak perlu mengalah untuk oranglain, ridho Allah bukan turun kepada orang2 yang pasrah akan masalah tetapi kepada orang yg selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan kebenaran,

      Balas

    • erna
      Jun 25, 2011 @ 08:28:20

      menyelesaikan masalah tuk mengharap ridho Allah caranya bgmn?
      nie ge byk problem….

      Balas

      • naifu
        Jun 26, 2011 @ 11:50:18

        yg perlu diketahui adalah setiap manusia yg hidup pasti memiliki masalah, orang yang menganggap dirinya tidak mempunyai masalah sebenarnya dia sendiri bermasalah, namun yg perlu kita sadari masalah bisa kita anggap besar atau kecil itu karena respon kita terhadap masslah tersebut, sering orang mengatakan harus positif thinking, jangan memikirkan masalah yg menimpa adalah masalah yg berat. jadi semua terkendali oleh pemikiran kita sendiri. menyelesaikan masalah dgn mengharap ridho Allah artinya meyakini setiap masalah itu merupakan ujian atau peringatan dari Allah, dan kita pasti bisa mengatasinya, Al-Qur’an pun menjelaskan demikian. Allah tidak aka memberikan cobakan kecuali manusia bisa menyelesaikan cobaan tersebut. yang penting selesaikan masalah tersebut menurut aturan Allah, dengan cara yg baik dan benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: