MUSIBAH DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN

MUSIBAH DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN

Oleh: Suci Rahmadhani

Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta

I. PENDAHULUAN

42_30”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. 42:30)

Kira-kira, manusia sekarang ini mengidentifikasi “musibah” sebagai segala hal dahsyat, yang terjadi “di luar” kehendak manusia dan menyebabkan kematian dan kesengsaraan banyak manusia. Pada saat terjadinya “musibah” itu, manusia baru merasakan keprihatinan yang mendalam. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kebanyakan menyerahkan kepada Yang Maha Tunggal. Sayangnya, “penyerahan” kepada Sang Kuasa tersebut lebih bernuansa Su’ udz-Dzan atau Negative Thinking kepada-Nya.

Akhirnya, manusia sekarang ini pun telah lebih jauh menyederhanakan makna dan “falsafah” atas pengertian “musibah”. Manusia tidak lagi berpengertian bahwa, sebenarnya, musibah tidak sesederhana “segala bencana yang di luar kehendak manusia”. Akibatnya, sepertinya ada dua pilihan bagi kita : menerima sepenuhnya sebagai sebuah kecelakaan alam murni, atau mengkaitkannya dengan kehendak Sang Kuasa. Pilihan pertama sudah jelas, ia lebih banyak di-“imani” masyarakat Barat. Pilihan kedua adalah pilihan yang hingga kini masih dipegang umat Islam. Hanya saja, pilihan kedua ini masih berupa pemahaman yang global dan masih banyak umat Islam yang belum dapat memahami bagaimana menyikapi makna musibah ini.

Hidup ini ujian. Ujian ini bisa berupa sesuatu yang disenangi, bisa juga berbentuk sesuatu yang tidak disenangi. Siapa yang mengira bahwa kekayaan dan kesehatan adalah tanda cinta Tuhan maka dia telah keliru. Siapa yang menduga bahwa suatu hal yang terasa negatif adalah tanda benci Tuhan, itupun dia telah keliru. Allah mengecam kepada orang-orang yang apabila diberi nikmat oleh Tuhan, lantas berkata, “Saya disenangi Tuhan,” dan kalau Tuhan menguji dia sehingga mempersempit hidupnya, dia lantas berkata, “Tuhan membenci saya, Tuhan menghina saya.”

Jangan duga, saudara-saudara kita yang meninggal dan ditimpa musibah itu dibenci Tuhan. Jangan duga yang menderita itu dimurkai Tuhan. Jangan duga yang berfoya-berfoya disenangi Tuhan. Kallâ! Tidak! Di sini Allah menggunakan kata balâ` yang artinya menguji, karena itu jangan cepat-cepat berkata bahwa bencana itu murka Tuhan.

II. PEMBAHASAN

PENGERTIAN

§ Etimologis :

- Musibah menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

mu·si·bah n 1 kejadian (peristiwa) menyedihkan yg menimpa: dia mendapat — yg beruntun, setelah ibunya meninggal, dia sendiri sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit; 2 malapetaka; bencana: – banjir itu datang dng tiba-tiba.1

- Musibah menurut Bahasa Arab

Musibah ~ ashaaba, yushiibu, mushiibatan = mengenai, menimpa, atau membinasakan.

- Musibah menurut bahasa Inggris

Musibah ~ disaster

Disaster berasal dari bahasa Yunani, disastro, dis berarti ”jelek” dan astro yang berarti “peritiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi”.

§ Terminologis :

- Ahli tafsir Muhammad Husin Tabataba’i, dalam tafsirnya al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an

Musibah adalah kejadian apa saja yang menimpa manusia yang tidak dikehendaki.2

- Prof. Quraish Shihab

Musibah pada mulanya berarti “sesuatu yang menimpa atau mengenai”. Sebenarnya sesuatu yang menimpa itu tidak selalu buruk. Hujan bisa menimpa kita dan itu dapat merupakan sesuatu yang baik. Memang, kata musibah konotasinya selalu buruk, tetapi boleh jadi apa yang kita anggap buruk itu, sebenarnya baik, maka Al-Quran menggunakan kata ini untuk sesuatu yang baik dan buruk (QS. Al-Baqarah : 216)

Dari ketiga pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa musibah adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan terjadi diluar dugaan manusia dan kejadian tersebut dapat berupa kesusahan atau kesenangan. Tetapi pada umumnya masyarakat lebih memahami makna musibah sebagai hal yang buruk, pada hal sesuatu yang kita anggap buruk itu sebenarnya ada nilai baik karena dibalik keburukan terdapat hikmah atau pelajaran yang dapat kita ambil.

ADA TIGA GOLONGAN MANUSIA DALAM MENGHADAPI MUSIBAH

§ Orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.

§ Orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa−apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT.

§ Orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.

ADA DUA MACAM MUSIBAH

§ Musibah Dunia

Salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al−Baqarah ayat 155. “Dan pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah−buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang−orang yang sabar.”

Tafsir Al-Baqarah: 155

Allah akan menguji kaum muslimin dengan berbagai ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan (bahan makanan). Dengan ujian ini kaum muslimin menjadi umat yang kuat mentalnya, umat yang mempunyai keyakinan yang kokoh, jiwa yang tabah, dan tahan uji.3

Dalam ayat ini disebut beberapa contoh bentuk musibah yaitu :

- Rasa Ketakutan, termasuk ke dalamnya ketakutan disebabkan permusuhan dan peperangan yang selalu mengancam jiwa, seperti yang dialami umat Islam di Mekkah sebelum hijrah.

- Rasa Kelaparan karena kemiskinan

- Kekurangan Harta, seperti orang Islam yang meninggalkan semua hartanya di Mekkah sehingga sampai di Madinah tidak memiliki harta apa pun. Termasuk ke dalam kekurangan harta ialah kehilangan harta karena bencana, seperti kebakaran, kebanjiran, gempa bumi, kemalingan, dan lain-lain.

- Kehilangan jiwa berupa kematian ayah, ibu, anak, dan orang-orang yang dicintai.

- Kekurangan buah-buahan, seperti timbulnya hama yang menyerang hasil-hasil pertanian atau kekeringan yang menyebabkan tanam-tanaman menjadi rusak sehingga tidak mendatangkan hasil yang baik.

§ Musibah Akhirat

Orang yang tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Orang yang terkena musibah, bukanlah seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkena musibah yaitu orang yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.

Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala. Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. Karena, bukan pahala yang ia peroleh, melainkan dosa.

Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman, “Demi keagungan dan kemuliaan−Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba−Ku yang Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus perbuatan−perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya. Apabila masih ada dosa yang tersisa dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru dilahirkan.”

TUNTUTAN ISLAM DALAM MENGHADAPI MUSIBAH

Islam telah memberikan tuntutan bagaimana seharusnya sikap seorang muslim mengahadapi musibah, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun orang lain. Jika musibah menimpa diri sendiri, maka ia dianjurkan sebagai berikut :4

§ Mengucapkan kalimat istirja’, yaitu kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami semuaadalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami akan kembali) sebagaimana dalam firman Allah :

2_156

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Innaa lillahi wa innaa ilaihi raajiuun.” (QS. 2:156)

Tafsir Al-Baqarah: 156

Di dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW supaya memberi kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Apabila mereka ditimpa sesuatu musibah mereka mengucapkan: “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami semuaadalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami akan kembali)”5.

Dan dalam hadist yang diriwayatkan Imam Muslim, Imam Malik, Ibnu Majah, serta hadist yang diriwayatkan al-Hakim an-Naisaburi dan Imam tirmizi yang artinya : “Tidak ada suatu musibah yang menimpa seorang hamba, kemudian ia mengucapkan istirja’, melainkan Allah menetapkan pahala baginya.

§ Memajatkan do’a kepada Allah SWT agar diberi pahala dari musibah yang dihadapinya sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya : “Apabila kamu diberi musibah oleh Allah, maka ucapkanlah do’a “Allahumma jurni fi musibati wa akhlif li khairan minha” (Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibah ini, dan gantikanlah bagiku dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya)” HR. Muslim, Ibnu Majah, Malik, dan Ahmad bin Hanbal.

Selain memohon pahala dari musibah yang dihadapi, juga dianjurkan memohon agar musibah itu berakhir dari dirinya, sebagaimana permohonan Nabi Ayub AS ketika mengalami musibah penyakit yang berkepanjangan, sesuai pada surah al-Anbiya’ : “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya : (Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semuayang menyembah Allah”. (QS. Al-Anbiya’:83-84)

§ Bersikap sabar dan tidak putus asa dalam menghadapi musibah, karena dengan kesabaran itulah seseorang mendapatkan pahala dari musibah yang menimpanya. Bersikap sabar dalam menghadapi semua bentuk kesulitan dan tantangan telah banyak diajarkan oleh Al Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad SAW seperti pada surah Al-Baqarah ayat 155 di atas dan ayat : “…….. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zummar:10).

Dalam ayat ini Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah:153). Mengenai pentingnya kesabaran dalam kesulitan dijelaskan dalam hadist “Jika seorang mukmin memperoleh kebaikan lalu ia bersyukur, maka kebaikan itu menjadi pahala baginya, dan jika ia ditimpa kemudharatan itu menjadi pahala baginya.” (HR. Muslim).

Tafsir Al-Baqarah:153

Untuk menghadapinya haruslah perjuangan itu dilakukan dengan giat, dihadapi dengan penuh kesabaran dengan memperbanyak shalat, sehingga menjadi kecil serta ringanlah segala kesukaran dan cobaan itu, karena Allah SWT senantiasa beserta orang-orang yang sabar. Dia akan menolong, menguatkan dan membahagiakan orang-orang yang berjuang menegakkan kebenaran.6

§ Menerima dengan ikhlas dan tidak menyesali atau membenci musibah yang diberikan Allah SWT kepadanya.

III. KESIMPULAN

Musibah merupakan kejadian yang datang atas ketentuan Allah SWT dan tidak bisa ditolak. Manusia diwajibkan untuk menghindar dari musibah yang akan dan sudah terlanjur menimpa dirinya. Kalau sakit, kita harus berobat dan kalau tertimpa banjir, kita harus menghindar dari bahaya banjir. Upaya untuk menghindari musibah tidak hanya melakukan pencegahan saja, seperti mencegah datangnya penyakit, tetapi juga pada tingkat penanggulangannya. Allah SWT melarang manusia menjatuhkan atau membiarkan dirinya dalam kebinasaan seperti pada ayat : “….. dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah:195).

Musibah tidah membedakan sasaran yang dikenainya. Ia dapat menimpa manusia yang shaleh atau manusia yang biasa berbuat maksiat. Jika orang shaleh mendapatkan musibah, maka musibah itu dipandang sebagai penguji iman keimanan (cobaan). Allah SWT berfirman : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi ?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabut:2-3).

Tetapi jika menimpa orang yang biasa berbuat maksiat, maka musibah dapat diartikan sebagai siksaan atau pembalasan terhadap perbuatannya. Allah SWT berfirman : “Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka..”. (QS. Muhammad:10)

About these ads

2 Komentar (+add yours?)

  1. naifu
    Jan 04, 2011 @ 08:13:57

    Iyaaah … sama-sama :-)

    Balas

  2. naifu
    Apr 08, 2011 @ 08:31:50

    Amiin :)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: